Nadine Zahwa

 

Zahwa Nadine

 

“aku sakit apa dok ? ?”

Wajah sang dokter terlihat sangat tegang, sepertinya sangat sulit untuk mengucapkan jawaban untuku, apa dia tidak tau aku sakit apa ? untuk apa menjadi dokter jika seperti itu, payah.

Pak dokter itu tampaknya sangat ketakutan, apa penyakitku benar-benar serius ??

Tak ada sedikitpun rasa cemas dalam diriku, yang aku percaya jika percaya pada tuhan semua akan baik-baik saja, maka semua akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun pada diriku,

Yah,, I trust it…

Hari ini hari yang tidak akan pernah terlupakan selama masa SMA, Graduate,, ya.. hari kelulusan, hari yang tidak akan pernah dilupakan bagi seluruh siswa dan siswi.

Hari dimana kebebasan telah menunggu untuk digapai, walau banyak kenangan indah selama masa sekolah, tetapi bagi anak-anak SMA tidak ada yang lebih menggiurkan dibandingkan dengan kebebasan setelah masa SMA, bebas melangkah dengan langkah dan tujuan pasti.

Banyak prestasi yang tidak terlalu buruk yang lumayan sering kuraih dlm masa SMA, aku bersyukur pada tuhan karna semua anugerah dan karunianya, aku telah menjadi juara umum di angkatanku, meski pada kelulusan aku hanya mendapat urutan ke dua lulusan terbaik.

Setelah benar-benar lulus, semua berkas SMA telah kugenggam, aku segera bersiap-siap untuk menuju Universitas untuk melanjutkan pendidikanku.

Mereka kenal aku sebagai sosok aktif dan ceria, masa-masa, waktu-waktu, hari-hariku terasa begitu sempurna, aku terasa menjadi manusia paling beruntung, semua yang ku ingnkan bisa kudapatkan, teman-teman yg baik, prestasi yang mengharumkan nama Sekolah, aktif dilapangn, aktif dikelas, aktif dihadapan banyak orang. Ya tuhan, terimaksih atas semuanya.

 Aku mengambil kuliah kelas malam, karna aku berniat untuk bekerja disiang harinya.

Ayah dan ibu sebenarnya tidak terlalu setuju dengan keputusanku, tapi karna aku yakin aku sanggup, karna itu aku berani melangkah.

Satu semester aku kuliah aku meminta izin pada ayah untuk melamar pekerjaan, dengan senyum ayah berkata padaku “Azwa… putri ayah yg pintar, yang cerdas, yang baik, yang rajin,, kamu sanggup jika melangkah dengan jalanmu ini ??

Dengan senyum ceria khasku aku pun menjawab ucapan ayah, dengan lembut namun meyakinkan dan penuh kesungguhan “ayah… karna aku yakin aku sanggup, karna itu aku berani melangkah…”

“putri ayah memang sulit dihentikan,,” ucapnya sambil mengusap kepalaku

“karna aku adalah putri dari seorang ayah yg luar biasa”

Semua senyum terasa terpancar penuh keikhlasan, suasana benar-benar hangat dan nyaman, tidak ada kenyamanan yg lebih dibandingkan berada dalam keluarga tenteram dibawah naungan cahaya tuhan.

“kalau ibu akan mendukung semua cita-cita Azwa, karna ibu yakin, putri ibu pasti bisa”

Ucap ibu sambil melangkah mendekati kami, suasana semakin hangat dan nyaman, ayah ibu, aku sayang kalian, aku selalu berdo’a agar tuhan menjaga kita semua.

Adikku sudah tidur selesai belajar tadi, setelah berbincang dengan ayah ibu aku segera bergegas kekamarku, kamar terindah yang pernah ayah ciptakan untuk putrinya, rasanya tidak pantas ada tangisan ditengah keluargaku yang seperti ini, tuhan terlalu baik memberikan karunianya ini,

YA ALLAH…. Terimakasih.

Meski aku tau ayah mengidap kanker otak, meski sering aku melihat ibu menangis dibawah gelapnya malam dengan mukena dan sajadahnya, tapi aku yakin jika berfikir tuhan akan menjaga semuanya, maka semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang mampu melawan kekuatan tuhan yang maha dahsyat. Trust it.

Waktu SMA aku pernah melihat hasil diagnose otak ayah, kankernya sudah mencapai stadium akhir, tapi beliau sungguh cerdik menyembunyikan semua itu dari anak-anaknya, bahkan sampai sekarangpun belum pernah beliau menyebut-nyebut tentang semua keadaannya, ayahku memang luar biasa, maka karna telah menjadi putri dari ayah dan ibu yang really perfect akupun harus lebih dari mereka.

Adiku laki-laki, sekarang baru kelas 3 SMA, yupz tahun ini lulus.

***

Hari ini aku akan melamar pekerjaan, disuatu perusahaan produksi pakaian ternama, berposisi sebagai designer busana, lagi-lagi, tuhan tak hentinya menurunkan kuasanya, hanya dalam hitungan 3 hari aku langsung mendapat panggilan dan diterima setelah melakukan interview. 

Hari baru dengan kegiatan baru, sekarang jabatanku tidak hanya seorang mahasiswa, tapi juga seorang karyawan, ya tuhan, aku senang sekali dengan hidup ini, hidup yang benar-benar sempurna…

Aku berangkat tepat pukul setengah delapan pagi setiap harinya, keluar kantor jam 4 sore dan langsung jalan menuju kampus.

Hari-hari yang begitu cerah meski keadaan sebenarnya tengah mendung hujan, semua halangan bisa dilewati dengan sempurna, lagi-lagi aku akan mengucapkan “karna aku yakin aku sanggup, karna itu aku berani melangkah”. Kalimat itu terasa seperti pengukir senyum untuk mensyukuri semua nikmat tuhan yang telah diberikan padaku dan keluargaku.

Tak boleh pernah berhenti mengucapkan “Alhamdulillah,, terimakasih ya Rabb”

Jam 10 malam aku sampai dirumah, malam jum’at yang terang, dengan mengucapkan salam aku mengetuk pintu, dua kali salam dan dua kali mengetuk pintu, ayah, ibu ataupun Reza tidak ada yang mendengar. Aku terus tersenyum didepan pintu rumahku, segera ku telpon Reza untuk membuka pintu,

Tidak lama reza membukakan pintu untuku,

“baru pulang ka ??” tanyanya

“iya, udah tidur ?”

“iya, udah tidur…”

“oowh,, maaf jika membangunkanmu, habis ayah dan ibu tidak ada yg mendengar ketukan pintuku,”

“yaudah, masuk, tutup nd kunci lagi pintunya ya…

Reza bergegas kembali ke kamarnya, aku melangkah lirih kekamar ayah, pintunya sedikit terbuka, lampu rumah sudah gelap semua, kecuali kamar ayah dan ibu, aku melongok kearah kamar mereka, aku fikir meraka sudah tidur karna tidak ada satupun yang menjawab salamku,

Tapi ayah dan ibu belum tidur, mereka seperti tengah membicarakan hal yang serius, aku tidak berani masuk dan hanya menguping didepan kamarnya, sedikit banyak aku mendengar perbincangan mereka

 “bagaimana jika akhirnya mereka tau tentang keadaan ayah yang sebenarnya, mereka pasti akan sedih yah,, mereka akan menangis,,”

“bu,, percayalah, anak-anak kita bukan anak-anak bermental tempe, anak-anak kita anak yang tangguh, kuat, mereka tidak akan patah semangat jika tahu keadaan ayah yg sebenarnya, ibu bisa lihat sendiri, Reza dan Azwa baik-baik saja, mereka tidak ada yang mengidap penyakit yang sama seperti ayah bu, jadi ketakutan ibu selama ini telah dibayar oleh tuhan dengan prestasi dan kesungguhan mereka, ibu liat Reza dan Azwa, mereka semua…..

“ayah….”

Aku mendengar suara ibu sangat lirih dan tersedu, ya… ibu menangis,, ya tuhan ibuku menangis..

 

 Tanpa kusadar airmatakupun ikut mengalir mendengar perbincangan mereka,

Ayah,, ibu, ayah yang dengan kuat dan sabar menempuh dan melawan keadaanya yang jauh dari kata baik-baik saja, ibu yang selama ini menyembunyikan rasa takutnya dibalik senyum kasih sayang pada putra putrinya. Ya allah, jagalah keluargaku,

 

Aku bergegas kekamarku, entah kenapa air mata ini sangat sulit kuhentikan, meski sebelumnya aku sudah mengetahui keadaan ayah yang sebenarnya, tapi baru kali ini hatiku goyah dari kalimat “jika yakin tuhan akan menjaga semuanya, maka yakinlah semuanya akan baik-baik saja”

Mendengar semua perbincangan ayah ibu, rasanya ibu seperti bilang “anak-anak ibu,, mungkin tidak lama lagi, ayah luar biasa kalian akan pergi untuk selamanya”

Ya allah, jangan biarkan ayah meninggalkan kami,,

Malam yang cerah ini terasa kelabu, mungkin ini rasanya dilanda ketakutan dan kekhwatiran, sangat tidak nyaman, membuat susah tidur dan hanya berdiam diri menangis.

 Perasaan yang baru pertama kali aku rasakan sejak awal aku terlahir sebagai seorang Azwa, saat ini baru merasakan kelemahan, aku lemah, aku…

Ya rabb, perasaan apa ini, aku tidak nyaman merasakan perasaan seperti ini, Azwa ngga mau ya Rabb…

Tepat jam 12 malam, mata ini masih belum bisa terpejam, aku bangkit dan mengambil air wudhu, bertahajjud dan merenung,

“Ya Rabb, tolong tenangkan hati Azwa yang gelisah ini, kenapa hatiku goyah, kenapa saat ini aku takut Kau akan mengambil ayah dari kami ? padahal ayah telah memberitahu kami, yang kami miliki sekarang ini milik-Mu ya Rabb, ayah juga pernah bilang, jangan pernah takut Tuhan mengambil semua dari kita, karna itu semua memang Hak-Nya,  yang kalian perlu takuti adalah Tuhan mencabut iman dari hati kalian”

 

Aku segera berusha menenangkan diri, mengembalikan senyum diwajah, menarik nafas dan membenahi otak dari segala fikiran buruk, ayah pernah bilang padaku fikiran buruk itu buang aja jauh-jauh, ngga ada gunanya disimpan juga, hanya memenuhi otak saja.

 

Setelah mengadu pada tuhan hati terasa lebih tenang, mataku masih segar terasa, sudah jam stengah 2 pagi, aku harus tidur, menyiapkan diri untuk aktifitas esok.

Dengan ketenangan hati perlahan aku memejamkan mata, berdoa pada tuhan, rasa gelisah barusan hanyalah mimpi buruk, yang akan terlewat dan terlupakan esok.

 

***

Hari ini hari yang menegangkan, mengesakan dan membahagiakan untuku, aku diminta presdir untuk menyampaikan pidato di acara perayaan ulang tahun perusahaan sekaligus perayaan kemenangan perusahaan dalam ajang perancang busana terbaik tahun ini,

Karna aku yang telah berhasil menghipnotis para juri dengan gaun ruby rancanganku tesebut yang sekaligus menjadi gaun terindah tahun ini, presdir sangat bangga padaku.

Ya Rabb, aku harap ayah yang kini berada disisi_Mu ikut bangga pada putrinya ini, sangat ingin ayah ada disini, mendengar putrinya berbicara dihadapan orang banyak, tapi saat ini aku harus sadar dan terima, ayah tidak lagi ada disisiku, beliau, ayahku, ayah luar biasaku. Kini telah berada dalam jannah yang indahnya tak akan pernah sampai dalam fikiran dan imajinasi manusia.

 

Mungkin ini makna kebebasan sesungguhnya yang pernah menjadi impian seluruh siswa SMA, sekarang Reza sudah lulus SMA dan sudah mulai bekerja,

Meski sudah tidak ada ayah, keadaan keluargaku harus tetap hangat, kami sering berkumpul menceritakan seluruh aktifitas-aktifitas kami sekarang.

Ketika tengah asyik bergurau tiba-tiba ibu diam, aku dan Reza ikut diam dan memperhatikan ibu, dengan sendirinya ibu bicara

“kalau lagi seperti ini, ibu jadi ingat ayah kalian za,, ayah luar biasa kalian,”

Aku dan Reza tersenyum,

“ibu kangen ayah yaaa ??” ledekku

“iya lah,, za juga kangen sama ayah” ucap adikku

“iya,, aku juga kangen bu, tapi kita ga boleh sedih dengan kenyataan ini, gitu kn za”

“haha,, kadang-kadang kakak bener jg kalo ngomong”

“heh,, sembarangn lu yaa,, liat tuh bu, ga sopan banget sama kakaknya”

Ibu hanya tersenyum melihat tingkah putra putrinya yang mulai beranjak dewasa ini,

“dulu, ketika ibu melahirkan Azwa, ibu sangat takut penyakit ayahmu itu diturunkan ke kamu, seiring waktu dan hingga saat ini semua baik-baik saja, dan Reza pun tidak ada tanda-tanda kelainan pada otaknya, ibu sangat tenang dan bersyukur, ayah kalian pernah bilang kalian itu anak-anak yang kuat dan tangguh, ibu bangga pada kalian, dan ibu yakin ayah kalian pun tengah tersenyum melihat kalian tumbuh seperti ini”

 

 “dan ibu yakin ayah kalian pun tengah tersenyum melihat kalian tumbuh seperti ini”

 Kalimat ibu itu terasa seperti penghantar tidur yang akan menghadirkan mimpi indah untuku,

Ya tuhan, terimakasih…

 

***

 Sore itu langit begitu cerah, hari ini aku libur kuliah, jadi tidak harus buru-buru turun setelah jam 4 sore, hari ini aku tidak bawa kendaraan karna reza bilang mau jemput aku jam 5 nanti.

Entah kenapa belakangan ini keadaanku terasa tidak baik, mungkin kecapean dan butuh refreshing, tapi tidak pernah seperti ini sebelumnya, jika mulai penat dengan pekerjaan semua itu bisa dihilangkan dengan pergi hang out dengan adikku, atau teman-teman kerjaku, tapi belakangan ini benar-benar tidak nyaman, kepalaku sering pusing, mual bahkan sampai muntah-muntah.

Satu minggu keadaanku seperti ini aku masih manganggap itu baik-baik saja, ibu dan reza pun pernah menanyakannya ketika aku muntah-muntah sampai akhirnya pingsan dirumah, tapi aku rasa ini hanya masuk angin saja, nanti juga akan membaik.

Teman-temanku dikantorpun merasa aneh dengan keadaanku yang semakin parah makin harinya, managerku Ibu Dewi memanggilku keruangannya

“Azwa….”

“iya bu”

“kamu kenapa ? sudah hampir satu bulan keadaanmu seperti ini, kamu sakit ?”

“maaf bu, aku juga belum tau aku kenapa, aku belum sempat cek up”

“hm,,, baiklah, tapi jangan dibiarkan seperti itu, ingat beberapa minggu lagi kita akan louncing mode terbaru, yang aku berharap akan jadi trendcenter ditahun ini”

“siap bu” jawabku bersemangat.

 

 

“gue udah didepan kantor lu ni kak” pesan reza

Aku segera turun, Ya tuhan, Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, mual yang tidak tertahankan menyergapku, aku terus mnguatkan diri melangkah turun, teman satu ruanganku ternyata memperhatikanku, dia melangkah dibelakangku dengan sedikit rasa khawatir aku akan terjatuh karna terus memegang kepala menahan rasa sakit,

“kamu baik-baik saja ?” tanyanya sambil melangkah disampingku

“iya, ngga kenapa-kenapa”

“pulang sendiri ??” tanyanya

“ngga, aku dijemput adikku, kau baru turun ? sekarang sudah jam lima..”

“iya, tadi lagi banyak kerjaan aja, kau serius baik-baik saja ? kenapa kepalamu ?”

Aku hanya tersenyum ke arahnya, aneh banget, sejak kapan dia memperhatikanku, laki-laki yang sangat diam dan jarang bicara, dia hanya bicara diforum meeting, jika hanya gurauan atau candaan paling dia hanya ikut serta dengan senyumannya, bisa dihitung jari aku mendengarnya menjawab gurauan teman-teman sejak aku bergabung disini.

 

Aku sampai digerbang kantorku, reza sudah menungguku didepan, aku segera pamit pada Rizky untuk jalan lebih dulu, dia hanya menjawab dengan anggukan dan senyumannya.

 

“lama banget sih,, hyo ngapain dulu lu didalam ? siapa yang barusan bareng ?” ledek adikku

Aku hanya tersenyum sambil menahan sakitku mendengar ledekan adikku itu,

“ayo ah pulang….” Ucapku.

 

***

Malam ini, rasa sakit itu benar-benar menyergapku, ya tuhan aku tak sanggup menahan sakit ini, apa yang terjadi padaku ?

Malam semakin pekat, udara semakin menggigit, rasanya ingin segera terlelap agar tak lagi merasakan sakit ini, aku ngga kuat, aku tak sanggup.

Ingin segera tidur dan berharap semua sakit ini hanyalah mimpi buruk yang akan hilang esok hari dan terlupakan untuk selamanya.

Aku hanya bisa duduk sambil terus memegang kepalaku, malam ini terasa sangat dingin, lapisan selimut yang ku kenakan sama sekali tidak memberikan rasa hangat pada tubuhku, menggigil seperti ditengah salju yang siap membunuhku, apa aku akan mati sekarang ? ya allah kenapa aku berfikiran seperti itu ? kemana akal sehatku ?

Aku terus memejamkan mataku, berharap, sangat berharap semua ini hanyalah mimpi yg ketika aku membuka mata maka semua akan usai.

Aku merasakan ada yang mengalir dari hidungku, aku sangat merasa takut dengan keadaan ini, keadaan ini mengingatkan ku pada ayah, apa mungkin ini juga yang ayah rasakan ketika menderita penyakit pembunuh itu ? apa aku mempunyai nasib yang sama seperti ayah ?? ya tuhan, aku ngga siap jika memang itu semua kenyataan yang ada, tolong hentikan ini semua, aku sakit, aku sakit.

Perlahan aku membuka mataku, memastikan apa yang mengalir dari hidungku barusan, ketika cairan itu keluar, otaku terasa ikut ditarik untuk keluar, sangat tajam dan menusuk.

Darah, darah yang mengalir dari hidungku, ya tuhan…. Apa lagi ini ?

Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Ini benar-benar kenyataan.

Airmataku perlahan mengalir, ayah… aku kenapa ? apa aku sakit seperti ayah ? apa aku akan meninggal dengan waktu cepat juga ?

 

***

 “ingat beberapa minggu lagi kita akan louncing mode terbaru, yang aku berharap akan jadi trendcenter ditahun ini” tiba-tiba pagi ini aku teringat ucapan bu Dewi, apa aku mampu untuk hari itu dengan keadaan aku yang seperti ini ? ketika berangkat kerja tadi pagi ibu bilang padaku, beliau mengucapkan kalimat itu dengan nada penuh kesedihan dan ketakutan, aku tak tega melihat raut wajah ibu yang seperti itu, meski dengan senyum manisnya, tapi tetap rasa cemas itu sangat jelas tampak diwajahnya.

“nanti pulang kerja kamu ketokter ya za, cek kamu sakit apa, apa perlu ditemani Reza ? nanti ibu akan bilang sama dia,”

“ngga usah bu, aku sendiri aja,” jawabku dengan senyum.

Aku segera berangkat ke kantor, rasa khawatir dan takutpun mulai menyergapku.

Sesampainya dikantorpun aku tidak bisa ceria seperti biasanya, aku merasa ini bukan aku, siapa yang kini menggunakan ragaku, ini bukan aku, siapa yang ada dalam jiwaku, ini bukan aku, siapa yang kini berwujud Azwa ??

“kamu kenapa ?” linda menegurku yang terus diam dan kehilangan karakter, seperti kehilangan semua semangat dalam diri.

Seperti tidur yang dibangunkan dengan mimpi buruk ketika linda bertanya padaku, kaget sampai membuat sesak, dengan lirih aku hanya menjawab “tdk apa-apa”

Linda mendekatkan wajahnya kearahku, sorot matanya begitu tajam, temanku ini kenapa sih ?

“serius ngga apa-apa ??”

Innalillah… aku berusaha mengembalikan semangatku, aku tidak boleh terus kefikiran seperti ini, yang aku fikirkan belum tentu benar, Cuma tuhan yang tahu semuanya, semua akan baik-baik saja.

Ya tuhan yakinkan aku, yakinkan aku semua akan baik-baik aja.

 

Aku tersenyum pada Linda yang terlihat seperti siap menelanku, sangat menyeramkan.

“hehe,, Aku lagi galau” jawabku

“Jiah, Azwa bisa galau juga…”

Aduh, linda segala pake teriak, seisi ruanganku melihat kearah kami, aku jadi salting sendiri,

Bu Dewi juga mendengar dan hanya tersenyum meledek, aduh jangan-jangan mereka semua berfikiran aku diam karna hal itu, galau.. sakit yang ketika merasakan rasa seorang diri, aduhhh,,, sama sekali tak ada hubungannya dengan hal itu.

Jadi ramai dah… Linda…..

 

Hari ini ada meeting kordinasi, sekaligus untuk membicarakan persiapan louncing mode baru yg akan diharapkan menjadi trendmode tahun ini.

Untuk acara minggu besok tersebut, aku lagi yang terpilih untuk mempresantasikan rancangan barunya, tapi rancangan yang terpilih  bukan miliku, jadi aku harus mempelajari rancangan milik Rizky tersebut. 

Baju sehari-hari namun sangat exotic meski tidak terlihat terlalu mewah, rancangan yang sempurna bahkan lumayan sulit untuk ku pelajari.

Rizky membantuku untuk mengenal rancangannya, jadi hari ini aku full hanya mempelajari rancangannya tersebut untuk mempersiapkan acara minggu besok.

Dengan wibawanya Rizky mempresentasikan hasil karyanya padaku, penalaran yang sempurna, the excellent examine. Menurutku caranya bicara dihadapan orang banyak sudah sangat sempurna, tapi kenapa juga harus aku yang mempresentasikan hasilnya itu ? Bu Dewi aneh.

 

Jika nanti Rizky yang berbicara pada acara tersebut aku yakin pasti semua yang hadir akan tehipnotos dengan penjelasan-penjelasan yang ia sampaikan, benar-benar sempurna. (Hahaha) rasanya akupun sudah terhipnotis dengan wajah tampan dan kelantangan bicaranya, intonasi yang sangat tepat bahkan hampir tidak ada cacat sedikitpun. So perfect,

 

Semua hariku terasa kembali, aku bisa lagi terus tersenyum ceria, semua rasa sakit yang semalam aku rasakan benar-benar adalah mimpi buruk yang kini telah lenyap.

Berulang kali aku mengucapkan syukur pada tuhan.

“itu semua Cuma mimpi” J

 

Meski semua terasa kembali, aku tidak melupakan pesan ibu untuk cek up kerumah sakit hari ini.

Jam 4 sore, aku segera turun, hari ini aku bolos kuliah, ibu sudah mengizinkannya, maka aku langsung berangkat kerumah sakit.

 

***

 ‘aku sakit apa dok ?

Wajah sang dokter terlihat sangat tegang, seprtinya sngat sulit untuk mengucapkan jawaban untuku, apa dia tidak tau aku sakit apa ? untuk apa menjadi dokter jika seperti itu, payah.

 

Pak dokter itu tampaknya sangat ketakutan, apa penyakitku benar-benar serius ??

Tak ada sedikitpun rsa cemas dalam diriku, yang aku percaya jika percaya pada tuhan semua akan baik2 saja, maka semua akan baik2 saja, tidak akan terjadi apapun pada diriku,

Yah,, I trust it…

 

“apa kau memiliki saudara yang mempunyai kelainan pada otak ?” Tanya dokter,

Hatiku tersenyum, dugaanku benar, itu bukan mimpi, itu kenyataan, aku yakin dokter dihadapanku ini akan memvonisku dengan penyakit yang pernah diderita oleh ayah.

 “ayahku dok, beliau sudah meninggal beberapa bulan lalu, beliau menderita kanker otak”

“mmm,, penyakit itu diturunkan padamu nak,” ucap dokter sambil memberikan hasil rontgen otakku.

 

Sepulang dari rumah sakit aku tidak langsung pulang, aku berhenti di danau pinggir kota, menatap indahnya langit dengan gemerlapan bintang.

Indahnya kelipan lampu-lampu, ahhh sejak kapan aku menjadi sosok yang sok romantic seperti ini ?

“penyakit itu diturunkan padamu nak,” kalimat dokter terus terulang di otakku, aku sama sekali tak cemas ataupun khawatir, lagi pula hari ini rasa sakit itu samasekali tak muncul, aku hanya bingung bagaimana memberitahu ini semua pada ibu ? aku ngga mau jika harus membuat ibu menangis dengan kenyataan ini. Tapi bagaimanapun ibu harus tau tentang semua ini, ya tuhan… beri ibu kesabaran dan ketabahan.

 

Aku menatap ke langit, menghadirkan wajah ayah dalam luasnya langit indah malam hari,

“ayah,, J aku sakit,

Kata dokter, aku mengidap penyakit yang pernah ayah rasakan, penyakit yang ayah derita bahkan hingga hembusan nafas terakhir ayah, J aku ngga sedih ataupun takut, karna aku tau ayah juga pasti tidak pernah menyesali takdir tuhan yang telah digariskan untukmu, yang kini juga digariskan untukku.

Karna aku tau ayahku adalah ayah yang sangat luar biasa, dan aku juga akan menjadi putri ayah yang luar biasa, yang akan terus tersenyum meski keadaan memaksa kita untuk menangis.

Tapi ayah… aku bingung, bagaimana caraku bicara pada ibu tentang ini semua ya ? ibu pasti sedih, dan ibu pasti akan menangis, aku ngga mau ibu menangis yah, menurut ayah bagaimana ??

Ayah… tunggu aku di jannah yang kini kau tempati ya,, aku akan menyusulmu J

 

Jam 8 malam aku sampai dirumah, hari ini terasa sangat bercahaya meski aku mengetahui kabar buruk akan diriku, tapi entah… samasekali tak ada kesedihan yang aku rasakan, semua seperti hari-hari biasa, hari yang sempurna.

“bagaimana za ? apa kata dokter ?” Tanya ibu, beliau sepertinya sangat penasaran dengan hasil cek up ku.

“aku baik-baik saja bu” jawabku sambil menunjukan hasil rontgen otakku

Aku terus tersenyum agar ibupun tidak menangis, tapi ketika ibu melihat hasil pemeriksaan itu mata beliau langsung berkaca, tidak butuh waktu hitungan menit, airmata ibu deras mengalir, aku sangat tidak tega membuat beliau menangis, ya tuhan… hati ini merasa sangat bersalah.

“apanya yang baik-baik saja za ?? apa benar ini hasil pemriksaanmu hari ini ?”

Suara ibu hampir hilang ditelan sedunya tangisan beliau.

“ketika tuhan masih mengizinkan Azwa untuk melangkah, itu artinya semuanya masih baik-baik saja bu,,”

“Azwa…………” ucap beliau sangat lirh bahkan hampir tak terdengar

“ibu….. percaya,, aku akan baik-baik aja”

Aku berusaha membuat ibu tersenyum, setidaknya aku harap ucapanku dapat mengurangi rasa takut ibu akan kenyataan ini.

 

Aku….. akan baik-baik saja… J

 

***

 Hari ini, hari pertama memulai rutinitas baru, menelan obat tepat waktu.

Aku akan terus berusaha memaksimalkan hari-hariku, meski penyakit ini sudah mulai terasa mengganggu hariku, konsentrasiku yang sering buyar, dokter bilang itu salah satu aksi dari kanker otak. Tapi aku yakin aku pasti bisa untuk presentasi minggu ini, tinggal 2 hari lagi, aku harus semangat, aku harus focus dan sungguh-sungguh.

Efek penyakit itu mulai terasa diseluruh organ tubuhku, penglihatan yang berkurang, aku pastikan 2 hari lagi aku akan memakai ‘megane’

 

“obat apa yang kau minum” Tanya Rizky

Dari mana dia tahu aku minum obat ?

“obat apa ? maksudnya?”

“yang tadi kau minum, belakangan ini aku perhatikan kamu sering menelan obat itu”

“oowh,, itu, bukan apa-apa, hanya vitamin biasa”

“syukurlah…”

 

Aduh, perasaan apa ini ? karna akhir-akhir ini sering berdiskusi dengan Rizky, terasa ada yang berbeda dalam diriku, terakhir aku ingat, aku merasakan perasaan ini lima tahun yang lalu, yang sampai saat ini namanya masih tersimpan rapi dalam hatiku. ‘Malik’ namanya malik.

Haha kisah cinta yang tragis dan sungguh kasihan, tak ingin aku membahasnya lagi, karna dia sampai saat ini aku belum pernah lagi menemukan nama yang mampu mengganti posisi namanya dihatiku.

 

 Rasa indah yang pernah kurasakan, rasa yang sangat disembunyikan, rasa diam-diam yang tersembunyi dan hanya satu langkah yang dilalui, “izinkan aku menunggumu hingga batas waktu”. Ya… hanya langkah itu yang kulakukan dalam kisah cinta ini.

Biarlah  tuhan yang mengetahui isi hati ini, dia teman satu regu dalam tim pramuka SMA ku, teman berdiri disatu lapangan, teman dalam perjuangan perlombaan dan teman yang kuletakan rapi-rapi dalam hati yang paling dalam, setelah tuhan dan orang tuaku. Yang hingga saat ini masih kutunggu, masih kutunggu kedatangannya untuk memintaku menjadi pendamping hidupnya, menunggu dan berharap dia akan datang dan mengenalkanku pada tuhan bahwa akulah yang akan menjadi bidadari surganya kelak. Ya tuhan… Malik…

 

***

 Perkembangan penyakitku terasa bejalan begitu cepat, semua keadaan tubuhku terasa berbeda. Aku hanya bisa terus melangkah dalam keadaan ‘baik-baik saja’ ini. Terus melangkah, hingga batas kesanggupanku.

Besok adalah hari yang ditunggu semua anggota perusahaan, hari yang juga sangat kutunggu, hari yang dirasa sangat penting dan harus menciptakan kenangan indah.

Malam ini aku memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dari perusahaan, karna aku sadar dengan keadaanku kini aku tidak akan sanggup untuk terus berada dalam posisi yang sudah sangat nyaman kutempati itu.

Airmataku mengalir, perlahan, setetes, dan mulai mengalir tak terbendung, dalam hati ada sedikit rasa tak ikhlas untuk melepas semuanya, melepas sedikit demi sedikit aktifitasku, ya tuhan, apa harus secepat ini aku melepas semuanya ??

Ini benar-benar terlalu cepat, rasanya baru kemarin aku berada didepan banyak orang atas permintaan presdir, namun besok semua harus berakhir.

Aku berusaha agar besok semuanya berjalan lancar, aku ingin melangkah dengan leluasa menuju kehidupan baruku, kehidupan yang tak mungkin lagi bisa sama dengan jalan yang selama ini kutempuh.

 

***

Malam rasanya berjalan dengan sangat cepat, sudah pagi, aku harus bersiap-siap. Hari ini akan menjadi hari sangat bersejarah dalam hidupku, tegangnya jadi seperti ketika graduate SMA dulu, hari ini harus menciptakan kenangan indah. Tidak boleh mengecewakan semuanya.

Dengan langkah pasti aku naik keatas podium dengan ditemani busana rancangan Rizky, dengan lantang dan penuh kesungguhan aku mengcopy gaya dan intonasi Rizky ketika dia melakukan presentasi dihadapanku, berbicara penuh semangat dan keceriaan, layaknya orang sehat tanpa ada sakit yang dirasakan.

“baiklah, demikian semua paparan tentang rancangan busana baru kami yang kami beri nama ‘salju dimusim panas’. Kesejukan salju dan indahnya musim semi yang berkolaborasi dalam busana baru ini, kami yakin, ‘salju dimusim panas ini’ akan menjadi trendmode tahun ini. Terimakasih.

Di akhir kalimat aku mengucapkannya persis dengan yang Rizky ucapkan didepanku 2 hari yg lalu, intonasi tinggi penuh wibawa dan keyakinan, dan tentunya dengan senyum yang selalu terpancar.

Tepukan tanganpun langsung bersorak sangat ramai, para undangan dari beberapa perusahaan sangat antusias dengan acara kami meski beberapa diantaranya merupakan saingan berat kami dalam usaha bisnis yang sama.

Hingga aku turun podiumpun suara tepuk tangan masih terus ramai, para wartawan memfoto sang ‘salju dimusim panas itu’. Sorot kamera sangat banyak dengan kelipan lampunya yang berkali-kali menyala. Ketika aku sampai dibawah presdir dan Bu Dewi menyalamiku dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku hari ini, semua teman-temanku terus berteriak

“selamat Azwa

“good job friend

“kamu hebat, selamat yah…

Linda, Yui, Rivan, Andri, Randy, dan semuanya tak hentinya memberikan selamat padaku. Aku sangat senang dengan keberhasilanku saat ini.

 

“tuhan… terimakasih atas semuanya, J hari ini semuanya berjalan lancar”

Aku terus menguatkan diri untuk menerima kenyataan ini, jujur… ini semua sangat sulit, sangat kejam.

Kenapa harus aku ??

Ya tuhan,, beri aku hati yang ikhlas, jangan biarkan hatiku menjadi sakit karna menerima ujian ini, jangan biarkan aku menjadi Azwa yang tak terima jalan takdir_Mu ya Rabb.

 

Mengingat surat pengunduran diri yang kubuat semalam, airmataku rasanya sangat ingin keluar, tapi tak mungkin aku menangis dalam suasana bahagia ini, aku tak mungkin merusak suasana yang sudah terasa begitu sempurna. Aku tak mungkin melakukan itu semua.

Dadaku terasa makin sesak, mataku mulai berkaca.

Ah… kepalaku terasa mulai memberontak, kenapa harus terasa disuasana seperti ini ?

Aku segera mencari kursi dan langsung duduk, kepalaku makin terasa mengamuk, sakit.. sangat sakit, seperti dibenturkan tembok baja dengan sangat keras hingga otaknya ikut tergerus.

Hidungku… lagi-lagi hidung ini mengeluarkan darah,

Aku segera berlari ketoilet, Yui melihatku, dia terlihat sangat panik dan menyusulku ketoilet, aku segera mengamil tissue sebanyak mungkin, segera menghapus darah yang terus mengalir itu.

Kali ini,, aku tak sanggup menahan ini semua, aku menangis sejadi-jadinya, sangat sakit, benar-benar sakit, aku tak kuat menahannya, aku ga sanggup.

Yui menerobos masuk dalam toilet, ia terlihat sangat tidak tega melihatku seperti ini, air matanya langsung mengalir dengan deras melihat keadaanku. Ia memelukku, mengusap airmataku, mengusap darah yang terus mengalir dari hidungku. Aku tak mampu lagi bicara, aku hanya bisa terus menangis. Yui terus memelukku, semakin erat,,

“Azwa… kamu kenapa za… kamu kenapa ??” isaknya

Aku hanya mampu diam seribu bahasa, Yui membawaku keluar dari toilet.

Bajuku dan baju Yui kotor terkena darah hidungku,

Kepala ini terasa mau pecah, yui terus menenagkanku, sedang teman-teman yang lain tidak ada yang tahu keadaanku saat ini, mereka masih menikmati acara didepan sana.

Tanpa ada yang tahu, Yui langsung membawaku kerumah sakit, dia terlihat sangat ketakutan dengan kondisiku yang semakin memburuk.

Mataku terasa gelap, makin gelap, dan sangat gelap, aku tak lagi merasakan apapun. Semua terasa menghilang.

 

Ketika kusadar, aku tengah berbaring ditempat tidur dengan seprei putih, selimut putih dan semuanya serba putih, sangat jelas tercium bau obat-obatan. Aku.. berada dikamar rumah sakit.

Tapi, tidak ada seorangpun disekelilingku, aku mulai panik, apa mungkin ini rumah sakit ? kenapa tidak ada orang satupun  ? aku dimana ?

“za… kamu sudah sadar ??”

Rizky muncul dari luar ruangan, hatiku mulai lebih tenang, aku menarik nafas panjang dan menghentakannya.

“kamu kenapa za…” Tanya rizky khawatir

“mana ibu ??”

“ibu sedang dimasjid sama reza, yang lain lagi keluar beli makan,,”

“kamu sendiri ?”

“aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri”

Entah kenapa kalimat Rizky terasa seperti air sejuk yang mengalir diatas kepalaku, terasa begitu sejuk.

Aku diam.

“kamu kenapa ?” tanyanya lagi

“tidak apa-apa J aku baik-baik saja”

“kamu tidak dalam keadaan baik-baik saja za,,” (gubrak) Rizky menggenggam jemariku, aku ingin melapaskannya tapi hati ini menolak untuk melepaskan genggaman tangannya.

Senang, atau apa yang tengah aku rasakan kini, keindahan diakhir cerita. Mungkin ini yang dimaksud kalimat itu.

“kamu sakit apa ?”

“aku, kanker otak.. dan sekarang perkembangannya sudah sangat pesat,”

Rizky terlihat terkejut mengetahui tentang penyakitku, terlihat seperti tak tega dengan apa yang ku alami, aku berusaha menghiburnya dengan cerianya ku.

“biasa aja kali bu expressinya…” ledekku

“yee,, ini juga biasa kali bu,,” jawabnya dengan canda

Aku tersenyum dengan sedikit tawa

“sudah lama ??” tanyanya

“ngga tau, baru dapat vonis dokter kemarin, berarti belum lama.”

“kau ini…”

“Rizky…..

“iya,,

“bisa kamu lepaskan tanganmu ??

“ooow,, sorry…”

Rizky langsung melepaskan genggamannya, dia terlihat malu dan salah tingkah, aku terus tersenyum melihat tingkahnya, sangat lucu.

“kenapa tertawa ? ada yang lucu” tanyanya sinis, aku semakin tak kuat menahan tawa

“tidak, biasa aja..” jawabku

 

Tiba-tiba aku teringat lagi dengan surat pengunduran diriku, aku berusaha tenang dan sabar, berusaha ikhlas dan yakin, inilah jalan tuhan yang tebaik, aku tau tidak semua orang bisa jadi seberuntung aku, jadi mungkin cobaan ini juga merupakan keberuntungan yang tuhan turunkan untukku, anggaplah semua ini anugerah, agar semuanya bisa menjadi kebaikan.

Aku diam termenung.

“Azwa ?? kenapa ? ada yang sakit ? Tanya Rizky

“Tidak,, hanya teringat sesuatu.”

“apa, bisa ceritakan padaku ?”

Sebenarnya aku tak ingin temanku tau tentang surat pengunduran diri itu, termasuk Rizky, tapi entah aku ingin memberitahukannya pada Rizky

 “hm….           Aku sudah membuat surat pengunduran diri dari perusahaan, mengingat kondisiku yang seperti ini rasanya tak mungkin lagi aku bisa mnduduki jabatan yang aku pegang sekarang. Hmmh,, kadang…”

“kadang merasa tak ikhlas ??” Rizky memotong kalimatku,

Dari mana ia tau aku akan mengucapkan kalimat itu,

“hehehe,, iya,, kadang merasa tak ikhlas, tapi aku tau, yang tuhan gariskan untukku, itulah yang terbaik, untuku, dan untuk semuanya.”

 

Rizky terasa menghangatkan suasana yang tengah membeku, ya.. suasana hatiku, tapi terlalu cepat jika mengatakan ini perasaan yang sama dengan yang aku rasakan pada Malik, ya,, ini beda, ini hanya rasa kenyamanan hatiku yang tengah sepi.

 

 Ketika aku tengah berbincang dengan Rizky, Ibu dan reza datang, tak lama teman-temanpun berdatangan, suasana jadi ramai dan hangat, tak sedikit dari mereka meledekku dengan rizky karna ketika mereka datang aku memang hanya bersama rizky, bahkan dokterpun belum ada yang menengok ke kamarku.

 

***

 Hari sudah mulai malam, teman-teman sudah mulai pamit satu persatu, aku sangat bersykur mereka semua peduli padaku, bahkan Bu Dewipun ada, tadi baru pulang jam 10 malam,

Ibu sudah tidur, Reza masih berbincang dengan Rivan dan Rizky diluar kamarku, kasihan ibu, pasti beliau sangat sedih melihat keadaanku yang seperti ini, beliau terlihat sangat lelah, aku tak tega melihat beliau. Beliau, ibu luar biasaku, satu hal yang sangat aku kagumi dari beliau, beliau tetap setia mempertahankan cintanya pada ayah, ketika sebelum menikah dengan ayah, ibu sudah tahu ayah menderita kanker otak, ibu sudah tahu dokter sudah memvonis usia ayah tidak lama lagi tapi beliau tidak pernah sedikitpun berfikir untuk meninggalkan ayah, bahkan ketika ayah menjauh darinya karna merasa tak pantas untuk ibu, ibu merasa sangat kecewa pada ayah,

“aku mencintaimu tidak hanya ketika kau baik” itu ucap ibu pada ayah ketika ayah menjauhi ibu, esoknya ayah langsung datang kerumah ibu untuk melamarnya, sungguh cinta yang sangat mengharukan.

 

3 hari dirawat, Hari ini, aku sudah boleh pulang dari rumah sakit, aku ibu dan reza sampai dirumah jam 10 pagi, ibu segera membereskan rumah istirahat. Reza kerja, aku hanya berbaring dikamarku, sangat tenang, ingat ketika liburan sekolah, hari tanpa kesibukan apapun, santai dan begitu tenang, tidak ada rumus matematika yang meneror otak, tidak ada sejarah-sejarah yang minta di ingat, tidak ada jurnal-jurnal yang menunggu di balance. J tenteram dan tenang.

 

Jam 2 siang, ada yang mengetuk pintu rumahku, berkali-kali mengucapkan salam dan mengetuk pintu tapi sepertinya ibu tidak mendengarnya, mungkin ibu masih tidur.

Dengan badan yang masih sangat lemas aku berjalan keluar, menengok lewat jendela, aku melihat Rindy, Yuna, Yuni dan sepertinya ada yg lain lagi diluar. Haaaaa teman-teman SMA ku,, aku segera membukakan pintu, sangat merindukan mereka.

Ada malik, entah kenapa hati ini merasa sangat senang, rasa yang selama ini tersimpan terasa membeludak, aku baru sadar perasaan ini memang masih ada, tak pernah hilang sedikitpun.

Tapi ketika malik masuk, dia bersama seorang perempuan, diam-diam aku bertanya pada Yuni,

“dia siapa ?”

“ceweknya malik”

“oowh,,,”

“kenapa ? cemburu yaaa….” Yuna meledekku

Aku hanya tersenyum meski jujur hati ini terasa sesak, kami bersenda gurau, ,menceritakan kisahkisah SMA dan lainnya, mereka semua bertanya padaku aku sakit apa

“lu sakit apa za ??” Tanya Rindy

“hehe sakitnya orang galau,, wkkwkw”

“haha… Azwa galau…”

“aiihhh,, galau sama siapa kamu ?” Tanya malik dengan tawanya

“hahaha,,, kan sma kamu a”

“ehem-ehem…. Hayooo ada apa ini ??” ucap Sandra ceweknya malik

“hahaha,,, jadi ingat dipramuka dulu,,”

“hehehe….”

Sandrapun ikut tertawa dan berbaur dengan teman-temanku.

Hingga mereka pamitpun, tidak ada yang mengetahui benar-benar penyakitku.

Aku sangat senang mereka semua masih begitu peduli padaku, terimakasih tuhan.

 

Malik, ya tuhan salah kah atas perasaan ini ? hati ini terasa tersayat melihat kenyataan dia bersama orang lain,penantianku yang selama ini terasa terbalas oleh pecahan beling tajam yang dilempar sangat kejam kearahku, semua kesetiaan ini, harapan pada satu cinta yang selama ini aku pertahankan, komitmen satu cinta pertama hingga akhir. Air mata dan kesedihan terasa membunhku, aku terus mengurung diri dikamar setelah mereka berlalu. Ya tuhan kenapa harus seperti ini jalannya, aku tidak kecewa atas ujian penyakit ini, tapi kenapa aku merasa sangat kecewa ya tuhan ketika menerima kenyataan kejamnya jalan kisah cinta dihatiku kini, kenapa aku harus menjadi orang bodoh yang menunggu, menunggu dia yang bahkan samasekali tak pernah tau tentang isi hati ini. Ya rabb, kenapa airmata ini tak bisa kuhentikan, untuk apa aku menangis ??

Isakan tangisku terdengar hingga keluar kamar, ibu mendengarnya dan langsung masuk kekamarku,

Dengan sangat cepat beliau memelukku, air matanya deras mengalir.

“kamu kenapa nak ?? sabar nak.. sabar,, jangan seperti ini…” ucap ibu dalam tangisnya

“ibuuu………………..”

Aku hanya mampu mengucapkan kata itu,, ibu,, ya hanya kata itu yang mampu aku ucapkan, aku tak lagi bisa bicara apapun.

“Azwa………….” Pelukkan ibu terasa makin kencang, beliaupun menangis sejadinya, terlihat jelas beliau sangat tidak tega melihatku menangis.

Tangisanku semakin menjadi, rasanya hanya dengan menangis hatiku mungkin akan merasa lebih tenang, hati cinta dan kesetiaan tanpa wujud yang selama ini aku jaga dan aku pertahankan, kenapa harus seperti ini ?? ya rabb….

Aku terus menangis dalam pelukkan ibu, berkali-kali ibu menenangkanku, kalimat-kalimatnya, suara-suaranya.

Hingga aku tertidur dalam hangatnya pelukkan kasih sayang ibu,

 

***

Satu bulan telah berlalu, satu bulan dengan hidup yang menurutku tanpa aktifitas karna selama ini hidupku terasa sangat sibuk, mungkin ini memang jalan tuhan  yang terbaik, berkat sakit ini, aku jadi beristirahat dirumah, terasa ringan tanpa ada yang mengganggu, tak perlu dipusingkan dengan laporan-laporan yang dateline.

Hm… tapi aku rindu kegiatan sibukku, aku rindu berada dikantor, duduk dan sibuk-sibuk dengan kertas laporanku, rindu Linda menjahiliku, rindu bu dewi memintaku menjadi pembicara, aku rindu semuanya, sampai saat ini jelas terasa aku belum ikhlas melepaskan semua kesibukanku.

Aku duduk didepan rumah dengan laptopku, mulai menyusun kata-kata hingga terbentuk kalimat, dilanjutkan hingga menjadi sebuah teks bacaan. Diam sendiri, asyik dalam kesendirian dan kesepian hati ini, sepi dari teman-teman, sepi dari ibu, ayah, belakangan hanya pada tuhan aku ingin bicara, karna tuhan adalah sebaik-baik penjaga rahasia.

Ibu menghampiriku dengan membawakan obatku, beliau tau aku lupa minum obat. Cepat-cepat aku mengclose tulisan yang tengah aku rangkai.

“hayooo,,, nulis apa ?? ko ibu datang langsung diclose ??” ledek ibu

“hehe,, bukan apa-apa bu…”

“ini,,, kamu lupa minum obat yaa…”

“iya bu  J

Aku meminum obat segera, ibu masih diam disampingku, beliau memandang kosong kearah kebun rumahku, kebun indah bagai taman di jannah,, dulu ayah yang membuat dan merawatnya, ayah pernah bilang “pasti suatu saat nanti, kita akan bersama dikebun yang indahnya sangat jauh lebih indah dari kebun kita ini,,” aku Tanya “dimana yah ? aku ingin kesana,, bersama ayah..” ayah menjawab “nanti,, disyurganya allah za…”

“disyurganya allah za….” Suara ayah terasa terdengar jelas.

Aku ikut memandang kearah kebun penuh bunga indah tersebut, perlahan ibu membuka mulutnya.

“ibu tau, bagaimana perasaan kamu saat ini, pasti kamu sangat rindu hari-hari sempurnamu sebelum kau divonis dengan keadaan ini, ibu juga tau pasti kau merindukan semuanya, disaat seperti ini pasti kamu lebih sering merindukan ayah, karna kamu terus berfikir kenapa aku yang terkena penyakit yang ayah pernah derita, dan karna itu juga, kamu lebih sering bercerita tentang isi hatimu pada ayah.”

Ibu melirik kearahku dengan senyum indahnya.

“tapi yang harus kamu ingat dan terima za… kini ayah tak bisa lagi menjawab semua curahan isi hatimu, meski beliau mungkin mendengar teriakan hatimu dijannah sana tapi beliau tak lagi ada disampingmu yang siap mendengar semua keluh kesahmu. Za pernah bilang ke ibu “isi hati itu, biar tuhan dan diri sendiri aja yang tau” iya,, ibu tau itu juga benar, tapi saat ini, tolong bicara pada ibu nak, ibu ada disamping kamu, ibu siap mendengar curahan hatimu, hatimu yang gembira, hatimu yang bersedih, hatimu yang kesepian, hatimu yang kesal, marah, silahkan bicara pada ibu nak,, ibu ada disini…”

Ya rabb,, jadi selama ini ibu merasa aku tak acuh padanya,, betapa dosa diri ini. Ibu ingin aku bicara padanya, karna setelah hari-hari sulit ku lewati aku lebih sering diam dan bicara dengan penaku, bahkan ke reza pun tidak.

“kamu ada masalah ?? ada yang sedang kamu fikirin ? cerita pada ibu nak…”

“hm… ayah itu cinta pertama ibu bukan ?”

Ibu tersenyum-senyum mendengar pertanyaanku, aku kan jadi malu, mukaku terasa menjadi tomat. Merah.

“hm…. Anak ibu lagi jatuh cinta yaa… siapakah ? Rizky ??” ledek ibu

“iihh,, ibu,,, jangan diledek gitu atuh,,”

“iya, iya,,,

Hm… ayah itu cinta pertama ibu, sekaligus cinta terakhir ibu, cinta yang kami tekadkan akan ada hingga kami bersama dijannah nanti, siapapun yang akan pergi lebih dahulu, kami janji akan saling menunggu disisi tuhan sana..”

Hm… aku iri mendengar paparan cerita ibu, aku juga ingin seperti itu.

“jika Azwa menginginkan yang seperti itu, bisa ngga bu ?

“siapa orangnya nak ?

“hm,, salah ngga sih bu jika aku bersikap seperti ini, aku ingin cinta pertamaku itu ya,, cinta terakhirku juga, tapi..

“tapi apa..?

“dia, orang yang aku cintai selama ini tidak pernah samasekali tahu tentang isi hatiku, bertahun-tahun aku hanya berharap pada tuhan dia akan datang dan memintaku menjadi pendamping hidupnya, dan setelah dia menjengukku beberapa waktu lalu, aku menerima kenyataan pahit tentangnya, dia tengah menjalin hubungan dengan orang lain, orang yang mungkin dia cintai,

“hmm… teman SMA ??” tebak ibu

“iya bu,, namanya Malik..

“kamu… sudah lama memendam perasaan indah itu ?

“sejak aku kelas 1 SMA, kalau dihitung,, sudah hampir satu, dua, tiga, empat, lima… ya, hampir lima tahun bu..”

“hmmm,,, kasihan anak ibu,,,” ibu kembali memelukku.

“jadi yang kamu menangis keras waktu itu…

“iya bu,,, bukan karna aku tak terima atas penyakit yang tuhan turunkan untukku ini, tapi karna entah kenapa aku sangat sakit mengetahui kenyataan malik bersama orang lain bu,,,”

Ibu melepaskan pelukkannya. Beliau memandangku pekat, mata indah dan tenang

“dengar putri ibu,,

Malik itu bukan tuhan, yang tau keinginan kamu tanpa kamu beritahu, yang tau harapan kamu, yang bisa mengetahui cinta kamu, perasaan kamu tanpa kamu bilang,

“aku,, Azwa… putri ibu,,

Tak mungkin aku menyatakan perasaanku lebih dulu padanya, nanti kalau dia tidak memiliki perasaan yang sama bagaimana… hmm… kan malu bu…”

“hehehe,, iya,, ibu ngerti nak,

Memang tak mungkin menyatakan perasaan lebih dahulu”

“tapi nungguin dia bilang suka juga akunya ga sabar bu…” aku memotong kalimat ibu

“yakin ngga sabar ? buktinya putri ibu ini sudah menunggu hingga hampir lima tahun,, lima tahun bukan waktu yang sebentar looh”

“hehe.. iya yah,, aku sudah menunggunya lama…

“anak ibu yang manis,,, ibu salut sama kamu, yang bisa mempertahankan rasa cinta hingga begitu lama, rasa cinta yang berdiri seorang diri, itu bukan hal mudah nak,,

Bagaimana dengan keadaanmu selama ini ? kamu pasti sangat tersiksa yah ?

Sekarang belajarlah untuk melepasnya nak, percayalah, jika nanti memang dia yang Tuhan berikan untukmu, pasti dia akan datang padamu, dan memintamu menjadi pendamping hidupnya, hidup dibumi hingga diakhirat kelak, dia akan datang dan mewujudkan harapanmu tetap berada pada satu cinta yang telah lama kau simpan rapi-rapi dalam hatimu.

Tapi ingat, kini dia bersama orang lain, mungkin ini saatnya kamu melepasnya, sedikit demi sedikit menghapus perasaanmu padanya, sudah terlalu banyak waktu yang kau buang sia-sia nak, memang hingga kapan kau akan terus menantinya ? menanti seseorang yang bahkan sama sekali tak tahu kamu tengah menunggunya… ibu,, ingin kamu bahagia nak, bisa kan kamu melupakannya ??”

Airmataku menetes mendengar semua ucapan ibu

“hm,,, ibu benar, sampai kapan aku akan menunggunya ? sampai tuhan memberitahunya bahwa aku mencintainya ??” dlam hatiku.

“ibu……”

“yang kuat ya nak…”

Aku memeluk ibu sambil terus menangis.

Melupakannya dan melupakan cinta ini, mungkin itu langkah terbaik yang harus aku tempuh.

“memang selama ini tidak ada yang bilang suka ke kamu ??” ibu mulai meledek lagi

“hehe,, ibuu,,,

Kalau itu sih ada aja bu, sejak masih sekolah, bahkan ketika kerjapun ada, tapi entah,, aku malah memilih pada satu cinta yang aku harapkan, satu cinta yang kelabu, tanpa wujud dan suara.”

Aku menarik nafas panjang, sesak kembali terasa. Melepas cinta yang selama ini tersimpan rapi dalam relung hatiku, kalian juga pasti tau, itu bukan hal yang mudah.

 

***

“izinkan aku menunggumu hingga batas waktu” mungkin inilah batas waktu itu, meski sulit tapi aku yakin aku mampu, melepaskanmu dari ingatanku, dan mengubur dalam-dalam cinta yang selama ini bersemayam mencari hidupnya.

Kisah ini terasa sangat kejam.

 

Memulai lembaran baru dengan kisah yang benar-benar baru, cinta baru dan jalan baru, tujuan baru dan pilihan baru.

Setelah mulai aktif kuliah dengan jadwal baru, kelasku pindah menjadi ekstensi sabtu minggu, sisanya berdiam diri dirumah, aku sangat ingin kembali bekerja, tapi ibu melarangnya, alasannya sih karna takut keadaanku bertambah buruk, tapi aku bosan terus dirumah seperti ini, ibupun menyarankanku menjadi seorang guru,

“kalau mengajar, tidak terlalu banyak menyita tenaga dan waktumu seperti dikantor” itu alasan ibu,

Tapi… menjadi seorang pengajar ?? sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku, kenapa ibu bisa berfikir kearah sana ?? berhadapan dengan anak-anak kecil yang nakalnya tidak terbatas,, ya tuhan.. apa itu yang dimaksud tidak terlalu banyak menyita tenaga ?? sudah jelas itu lebih melelahkan dibanding duduk manis dengan laporan-laporan dikantor.

Aku terus memikirkan saran aneh ibu itu, aku bertanya pada Reza, dan masa reza juga setuju dengan saran ibu ?? apa yang sedang mereka fikirkan ??

 

***

Untuk selanjutnya hari-hariku terasa berjalan begitu berat, keadaan yang memburuk, aktifitas yang membosankan, cinta yang tak sampai membuatku tak memiliki semangat untuk terus melangkah, terasa sangat tak sanggup melangkah dengan kelabu seperti ini, bahkan saat ini semua tujuanku yang telah kulepas belum memiliki pengganti,  terasa melangkah tanpa tujuan, tanpa arah akan kemana aku, terus melangkah dijalan yang gelap. Hidup, namun terasa mati.

Keadaan ini terasa lebih menyiksa dibanding penyakit yang siap membunuhku secara perlahan.

 

Aku mulai merasa jenuh dan tak sanggup dengan kegiatan hidup yang seperti ini, aku memutuskan untuk kembali bekerja, tapi ketika aku menyampaikan keinginanku ibu langsung membantahnya.

“sekarang kamu lihat keadaanmu nak,, kamu sakit, kamu sakit, ibu ngga mau kamu merasa lelah, ibu ga mau kamu semakin sakit, untuk kali ini tolong dengar kata ibu nak,, ibu sayang sama kamu, ibu ga mau putri ibu kenapa-kenapa, ibu ngga mau…”

Aku baru bilang “bagaimana jika aku kembali bekerja ?” ibu suda histeris seperti itu, beliau berteriak dan menangis, entah baru kali ini aku merasa biasa saja melihat ibu menangis, tidak seperti biasanya yang sangat tak bisa melihat ibu menangis dan mengeluarkan airmatanya.

“aku tau, ibu sayang sama aku, reza juga, ayah juga, tapi apa ibu merasakan yang sekarang tengah menyiksaku ? bukan penyakit ini bu, tapi keadaan ini, ibu tau ?? diam, minum obat teratur,  kuliah yang hanya sabtu dan minggu, sisanya ?? meratapi keadaan ? ini jauh dari baik-baik saja bu… aku lelah, aku ingin melangkah, aku ingin sibuk, aku ingin berteman, aku ingin aku ada disana,, menjadi Azwa yang dulu meski tubuhku tak lagi sama dengan yang dulu,, aku lelah bu,, aku lelah,, aku tersiksa seperti ini…

Apa ibu tega melihat putri ibu ini hanya diam dan terbunuh secara perlahan tanpa ada yang diukir sebelum kematiannya ? dulu ayah tidak ibu perlakukan seperti ini, ayah tetap berjalan dengan kegiatannya, tapi kenapa aku harus diperlakukan seperti ini ? tdk boleh ini, dilarang itu, ibu tidak percaya aku bisa ? ibu ngga yakin aku mampu ?? tolong bu,, untuk kali ini, ibu yang dengar teriakan aku,, aku juga sayang sama ibu, aku tau ibu takut aku sakit dan pergi,, tapi yakinlah,, aku sanggup bu,, aku mampu…”

 

Ya tuhan,, kenapa harus mengganggu,, sakit kepala ini menyerangku perlahan, semakin sakit dan menusuk, evitaksis… aliran darah yang mulai terasa, keadaan penat dan setress ini membuat si pembunuh itu semakin bebas berjalan membunuh tubuhku, pernah dia berhasil mengalirkan darah dari mataku, terasa sangat leluasa melangkah.

 

Yang membuat suatu penyakit berkembang cepat itu bukan karna seseorang lelah, tapi karna dia sering membuat hatinya sakit dan terlalu sering bersedih meratapi keadaannya.

Aku tidak mau menjadi mereka yang seperti itu, aku tak mau terbunuh secara perlahan tanpa makna, dan menjadi kenangan yang seolah tak pernah ada.

 

***

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, midtest, uas, ujian semua berjalan tanpa warna, hidupku terasa kelabu, bahkan warna putihpun tak ada. Berkali-kali aku meminta izin pada ibu untuk kembali bekerja dan berkali-kali pula ibu menolaknya, bahkan sangat marah ketika beliau merasa aku sudah keterlaluan.

Dengan seringnya pemberontakan hati ini, kanker itupun semakin sering memberontak dalam otakku, tekanan ini berfrekuensi sangat tinggi.

Tiap malam tak hentinya aku menangis, hingga sudah lagi tak merasakan bahwa aku adalah seorang Azwa.

Kejenuhan dan rasa sepi terus menghantuiku, bahkan pada tuhanpun aku mulai melupakan_Nya. Ketika dulu aku terus menghadirkan nama tuhan dalam hati dan langkahku, kini semua itu terasa lenyap.

Pada saat seperti ini aku rindu ayah,, aku ingin ayah ada disampingku, menemaniku, menyemangatiku. Jika saja ayah masih hidup pasti beliau akan mengizinkan aku kembali bekerja, melangkah dengan pilihanku, melangkah meraih tujuanku. Tapi sekarang ? apa yang bisa aku lakukan ? semua dibatasi, ini itu dilarang, kadang berfikir untuk apa hidup jika untuk melangkah menuju harapan dan tujuan hidup sendiripun tak lagi mendapatkan izin.

 

Beberapa minggu yang lalu, Reza Mulai masuk kuliah, aku iri melihat harinya yang begitu bahagia, dia bisa pergi kemana saja ia mau.

aku benar-benar tak sanggup dengan jalan yang sunyi seperti ini, akupun manusia, yang membutuhkan  manusia lain disampingku.

Hidup yang terasa sangat sunyi meski banyak orang lain disekelilingku.

 

***

Setelah lama dalam hariku yang begitu sunyi, hari ini baru lagi rasanya aku merasakan kedamaian dan ketenangan, hati ini terasa sangat tenang ketika Malik menghubungiku. Tadi pagi dia menelphoneku, meski dia hanya sedikit berbasa basi menanyakan keadaanku, meski dia tak tau apa yang terjadi padaku, tapi itu semua tak penting, yang penting aku telah mendenggar suaranya lagi, suara dia yang telah lama aku sembunyikan dalam hati dengan sunyinya suara, dalam diam.

 

 

***

Sedih itu ngga ada gunanya, dia hanya akan memakan kebahagiaan dan ketenangan, ya… malik bilang seperti itu padaku, hari ini hidupku terasa berwarna kembali, rasa syukur dan ikhlas yang selama ini dibawa lari oleh iblis perlahan terasa dikembalikan oleh tuhan. Dikembalikan padaku, dan pada hati ini, tersenyum terasa lebih mudah.

Aku tau, mungkin salah beranggapan ini karna malik, karna tanpa tuhan malik tak akan mampu apapun, apalagi mengembalikan senyum dan warna hariku. Biarlah tuhan menjaga cinta yang telah lama terpendam dan pernah berusaha untuk dilupakan ini. Meski dia datang bukan untuk menawarkan cinta padaku, tapi aku yakin dengan anggapan positif semua akan jadi indah.

 

Bahagia dan ketenangan, aku rasa itulah obat paling mujarab untuk semua penyakit, meski mungkin tidak menyembuhkan, setidaknya itu bisa jadi pencegah perkembangan yang terlalu cepat.

 

Besok hari sabtu, jamnya aku kuliah, Azwa akan belajar dengan serius dan tidak lagi terus menyalahkan wktu seperti kemarin-kemarin, Azwa akan bangkit bu,, dan kembali menjadi Azwa yang dulu J meski aku yakin, sesuatu yang telah berubah itu tidak akan bisa balik atau kembali seperti semula

 

“ibu….”

“iya Za…”

“Azwa mau coba melamar jadi pegawai sekolah bu…”

“Zahwa… J ibu senang dengarnya,, kapan kamu mau coba kerja lagi”

“lebih tepatnya belajar bu,, hehe klo kerja mah dikantor…”

J iya,, ibu ngerti….’

 

Yakin dengan langkah yang kita ambil, yakin tuhan meridhoi kita dalam langkah itu, anggap langkah itu baik, karna dia memang baik, insya allah tuhan pun akan mengizinkan kita melangkah.

 

***

Meski pendidikan S1 ku (belum lulus itu juga :D) bukan berbasis pendidikan, tapi tidak sulit kesempatanku diterima bekerja disekolah sebagai seorang pengajar. Aku memulai dari tingkat terendah, TK, ya aku mengajukan diri menjadi bagian keuangan di Sekolah Taman Kanak-Kanak Pertiwi 1 karna itu memang keahlianku, tapi saat itu tidak lagi dibutuhkan bagian finance, malah dibutuhkan seorang pengajar, guru didalam kelas, aku sempat meminta waktu untuk berfikir, bagaimana mungkin menjadi guru ? pengajar, aku sama sekali tidak mempunyai pengalaman berhadapan dengan anak-anak, tapi tuhan dan ibu meyakinkanku bahwa aku bisa, maka aku terima tawaran itu.

Hari ini, senin, hari pertamaku mengajar, jika tidak dicoba bagaimana bisa tau mampu atau tidak.

 

Kadang aku tersenyum sendiri, dari seorang bagian finance dengan penghasilan yang lumayan, sekarang hanya menjadi seorang guru TK dengan penghasilan  jauh dari sebelumnya, bahkan setengahnyapun tidak. Tapi aku yakin inilah jalan terbaik yang tuhan siapkan untukku. Insya allah.

“pagi anak-anak..” sapaku ketika memasuki ruang kelas,

“selamat pagi bu guruuuuuuuuuuuuuuu…” jawab mereka kompak

Anak-anak kecil itu duduk dengan rapi dan tenang, sangat jauh dengan yang ada dibenakku, sebelum masuk kelas aku sempat mendengar keributan dan suara bising dr dalam kelas, saat itu aku menarik nafas panjang karna aku yakin pasti ketika aku masuk anak-anak itu sedang bercanda dengan teman-temannya, ada yang jahil, yang menangis diganggu temannya, rebutan mainan, rebutan buku, rebutan tempat duduk, dan pokoknya semua keaktifan mereka dah  ( -_-‘)

Tapi semua berbeda,

 

Mereka begitu tenang, aku terharu melihatnya, aku telah berburuk sangka pada mereka, tapi ketika langkah pertama aku memasuki kelas, wajah-wajah suci mereka tengah tersenyum bercahaya penuh ketenangan, sedetik terfikir “ini yang aku butuhkan selama ini”, ketenangan dalam kesucian.

 

Aku memulai kelasku, berkenalan dengan mereka, belajar, memulai membaca, menulis, menghafal, bernyanyi, teriak bersama, tertawa bersama, hampir semua anak aktif dan riang, suara-suara kecil mereka yang nyaring terasa begitu merdu, mereka terasa sangat hangat, aku terbawa suasana riang mereka, ini benar-benar hidup, bagai waktu yang penuh makna. Tanpa terasa kelaspun selesai dan mereka harus kembali kerumah masing-masing.

Rasanya tak ingin berpisah dengan mereka, mereka seperti pembangkit semangat hidupku.

 

Kesan pertama menjadi seorang guru TK “Hidup”, ya.. itu yang aku rasakan.

Bahagia dan tenang, semoga ini memang jalan terbaik tuhan yg ditunjukan kepadaku.

 

***

 

Satu bulan dua bulan tiga bulan, semua berjalan begitu cepat. Sudah 3 bulan aku menjadi seorang pengajar, hidup yang penuh warna. Kini aku tidak hanya mengajar TK, aku sudah mulai mengajar SD Juga.

Tanpa terasa pun aku kembali merindukannya, suara malik yang pernah membagkitkan semangatku,, ingin melihatnya, ingin bertemu dengannya,, bagaimanapun aku adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan berbeda untuknya, meski terus dipendam dan disembunyikan, tetap tak bisa bohong pada tuhan kalau saat ini,, aku merindukannya.

Dulu ketika SMA bisa dengan mudah menghubunginya, banyak alasan yang bisa diucapkan dan diberikan, tapi kini ?? masa mau bilang “aku kangen kamu” atau “tidak, hanya sedikit merindukanmu”,, ohh.. nooo..

Biarlah rasa ini merasakan rindunya dalam diam.

 

Sepi, sunyi dan kesepian, semua sangat terasa dalam hati yang sendiri, meski tuhan pasti ada dengan ribuan anugerah nya, dengan sentuhan ketenangannya, tapi entah diri ini masih saja merasa sangat sepi, hariku terasa sunyi, bagai tak punya tujuan hidup, tak punya rasa, dan tak punya cinta untuk seseorang disana, entah siapa itu.

Hati ini masih hanya bisa diberikan pada tuhan, keluarga dan anak” ku disekolah, sisanya ?? masih, dan masih,, mengharapkan cinta yang sama sekali tak pasti dan tak tampak.

 

Rizky sering menghubungiku, bahkan sering juga mengajak bertemu, tapi berbeda rasanya jika itu adalah Malik, ya rabb… Apa harus seperti ini ??

 

***

“Ibu guru kemarin itu siapa ??” Tanya Rahma, siswiku

“Yang mana cantiik ??

“Itu ibu,, yang jemput ibu,, Pacarnnya yaaa ??”

Haha,, aku diledek sama anak kelas 3 SD,, Mungkin dia lihat rizky yang Datang kesekolah kemarin sabtu, dia mengajakku bertemu, sudah lama ngga ketemu katanya.

“Ooowh,, itu teman ibu waktu kerja dulu,,”

“Ciyeee,, ibuuu”

Gubraak,, teman” nya ikut meledek,,

Aku senang, sangat senang, mendengar mereka tertawa riang, bercanda, bermain.  Terasa menjadi seorang ibu. Hohoho

Bahkan ketika mereka ribut, berantem, sampai ada yang menangis pun entah kenapa aku merasa bangga dan senang. Merasa mereka telah mengerti apa milik mereka yang harus dipertahankan dan dijaga, itu untuk tingkat saat ini, tidak seperti itu caranya jika usia mereka beranjak kelak.

Rizky,, satu nyawa penuh arti yang diturunkan tuhan untuk menemani hariku yang terasa kosong. Mungkin memang fisiknya kosong, tapi tidak dengan jiwaku, nama itu yang berada dibawah deretan tuhan, nabi dan keluargaku masih tetap kuat dan tenang tinggal disana, dihati yang terlihat kosong, cinta ini masih tetap ada untuknya meski ibu menyarankan untuk membuangnya. Mungkin memang terbilang putri yang patuh, tapi rasanya belum patuh untuk perintah yang satu ini,, melupakannya dan menghapus semua harap dan perasaaan ini. Maafkan aku ya buu, belum bisa memenuhi saranmu.

 

***

Hidup berjalan dengan sangat cepat, waktu yang berlalu, kisah nyata yang manis dan pahit, aktifitas, cita-cita, pencapaian, harapan dan takdir tuhan mewarnai semua jalan hidup anak adam.

Bahagia, ya.. bahagia adalah obat terbaik yang tuhan ciptakan untuk manusia yang menderita penyakit terparah sekalipun, perasaan itu yang akan mengobati, mencegah bahkan menghilangkan penyakit yang sudah divonis tidak bisa disembuhkan lagi.

Aku selalu menghadirkan perasaan itu dalam setiap lngkahku, karna memang itu yang tuhan berikan dalam derita dan nikmat ini. Hari ini terasa sangat bahagia, seperti ketika lulus SMA 3 tahun lalu, beranjak ke semester 7, mulai mengajar SMP dan akan memegang kelas SMA. Terasa benar-benar menjadi seorang pengajar.

Hari ini, tgl 20 Mei 2014 adalah hari ulang tahunku yang ke 21, rasanya ini adalah usia sangat muda untuk pencapaian dan pengalaman yang telah aku miliki sampai saat ini, juga untuk ujian berat penyakit ini, yaa… masih terlalu muda untuk ini semua.

Hari ini aku baru sadar, yang saran ibu ini adalah saran terbaik, aku lebih banyak istirahat dan sangat jelas terasa, penyakit ini sangat jarang memberontak, terasa telah hilang.

Hari ini aku memberanikan diri untuk menghubungi Malik, entah kenapa, atau memang perasaan ini masih ada, aku ingin dia ingat akan hari lahirku ini, meski Rizky dan teman” ku di kantor dlu sudah banyak yang mengucapkan, meski Reza, adikku itu sudah membawakan kue tart besar untukku tapi tetap saja, hati ini ingin Malik ingat dan mengucapkan kalimat selamatnya.

Terserah dia anggap dan bilang apa, apa salah ?? hanya sekali saja, izinkan aku bahagia dengan indahnya perasaan yang menyiksa ini.

 

Jam 8 malam, teman-temanku kantor lamaku sudah kumpul dirumah, bermaksud merayakan hari bahagiaku, hari lahirku yang ke 21. Aku bahagia, berkali-kali syukur kupanjatkan pada tuhan meski ada perasaan takut, takut bagaimana jika kebahagiaan ini mengantarkanku kerumah sakit seperti dulu ? takut jika penyakitku memberontak disuasana bahagia ini, dan juga takut, aku masih merasa takut jika harus pergi sekarang meniggalkan mereka semua, menyusul ayah.

 

Suasana malam ini terasa hangat, penuh keindahan dan keramaian, teringat indahnya milad ke 17 ku ketika SMA, Malik yang pertama mengucapkan “Happy Bithday” itu. L Aaaarrgghh,, lagi-lagi Maliik.

Ketika ibu dan teman” ku ramai diruang tamu, aku pamit sebentar masuk ke kamarku, aku sangat ingin menelphone Malik, ingin mendengar suaranya, ingin berbagi kebahagiaan dengannya.

Kubuka Handphone ku, terlihat banyak pesan yang masuk, dari teman” SMA ku yang mengucapkan Happy milad dan do’a-do’a untukku, juga ada beberapa dari rekan kerjaku disekolah. Tapi ada satu pesan yang membuatku tak henti tersenyum, pesan dari Malik, dia masih ingat hari lahirku, senang dan kebahagiaan dalam rasa yang meyiksa ini terasa sangat indah,

Berulangkali aku membaca pesannya, sudah selesai, aku kembalikan ke baris awal, dan membacanya lagi hingga selesai. Lebih dari 3 kali aku membaca pesan yang sama

“Happy Milad yaa Jeleeek, Moga ditahun ini semua yang kamu cita-citakan tercapai, semoga tuhan selalu memberkahimu dan memberikan kesehatan untukmu, semoga makin cantik dan pipinya makin gembul :D kaya anak kucing kamu ituuu,,

Dan jika kini kamu tengah sakit J aku berdo’a semoga lekas sembuh, jika belum juga sembuh aku selalu berharap, kamu tetap sabar dan tersenyum”

Malik, dari dulu kata” nya masih sama, senang memanggilku dengan sebutan “Jelek” dan membandingkan pipiku dengan anak kucingku yang sudah tak ada itu, kucing gembul yang pipinya gemuuukk. Tapii sangat senang menerima pesan darinya. Aku segera menekan tombol call di hp ku, berharap ada suaranya diseberang sana.

Diangkat, aku jadi deg-degan serba salah.

“assalamu’alaikum,,” sapanya

Sangat senang mendengar suaranya, lagi-lagi,, aku senyum-senyum sendiri.

“wa’alaikum salam” aku segera menjawab……….(Senyap)

“atuh diem abis jawab salam, kenapa jelek ?? o’ya hbd yah,, do’a” nd ucapannya udh dkrim ahh taadi jd ga ush d ulang :D hahaha”

“yeee,, dasar, makasih yah,, kamu ngga mau datang niihh ?? ada tart nii,, hahahha”

“insya allah bu,, besok datang..”

Gubrak,, aku kaget,, apa benar ?? dia akan Datang ?? aku berusaha biasa saja dan melanjutkan percakapan.

“hahahha,, serius ?? aku tunggu niiihh,, hahah”

“iya jeleeek,, insya allah,,”

 

“Zaaaaa,, zahwaaa ??” ibu memanggilku,

Aduh aku lupa, diluar teman-temanku sudah menunggu, aku segera menyudahi telpon dengan Malik, walau sebenarnya masih sangat ingin mendengar suaranya tapi telpon harus tetap ditutup.

“iya buuu….” Jawabku.

“seberntar,,” teriakku lagi,

 

Aku segera berjalan keluar, memulai acara, acara yang tidak meriah, namu terasa istimewa ini sangat terasa sejuk dan menenangkan. Entah kenapa, ketika tuhan mengizinkanku mengingat Malik, perasaan bahagia itu datang, meski jujur sangat sesak dan sakiit dengan perasaan ini, cinta belum sampai,, mungkin itu kalimatnya, atau mungkin memang cinta tak sampai ??

 

Aku melanjutkan acaraku, seru’an bersama teman-teman, shoot foto, narsis, exsis, apa saja kami lakukan, seperti anak SMA yang sedang kumpul bersama teman-temannya, begitu ramai dan seru, berisik, konyol, dan yang pasti. Indah.

Tidak jarang Linda dengan sikap konyol dan polos oon nya membuat kami tertawa sampai sakit perut, konyol, sok ngerti jika ada orang bicara, tapi terusan dengan wajah polos tidak pintarnya bertanya, bicara apa yah ??

Hahaha,, Linda…

Suasana indah memang sangat cepat untuknya berlalu, suasana ramai penuh keceriaan telah usai. Senyap kembali menyergap, sunyi kembali memasang anak panahnya, bersiap membunuh jiwa yang sepi.

Mereka, teman-temanku, berlalu sekitar jam 11 malam, aku segera merapikan sisa-sisa acara barusan, dan bersiap istirahat untuk liburan besok.

Entah, malam ini terasa tak bisa memejamkan mata, tidak keruan apa yang dirasakan, cemas dan takut. bahagia yang barusan terasa lenyap begitu saja.

Aku diam, membaringkan diri diatas tempat tidur berseperai biru muda bermotif bunga kebun ini, menatap lngit-langit kamar yang bertabur lipatan bintang origami, diam dan terus diam. Berkali-kali aku memanjatkan do’a pada tuhan, meminta ketenangan dan menghapuskan perasaan aneh ini, berkali-kali memejamkan mata berharap akan segera tertidur nyenyak dan berkali-kali pula mata ini kembali terbuka.

Lagi dan lagi,, aku sangat merindukannya,, perasaan ini terasa sangat memuncak, ingin,, bahkan sangat ingin berada disampingnya, hanya sekedar berda disampingnyapun tak apa, tak bicara tak bersenda guraupun tak apa,, hanya ingin berada disampingnya dan melirik wajah tenangnya.

Ya rabb,, sadarkan aku dari perasaan ini…

Aku membuka hp ku, berharap ada inbox darinya, tapi kosong,, ngga ada,,

Ingin menghubunginya tapi tertahan jarinya, ingin sekali mengklik send tapi terasa tidak nyaman,, mungkin ini yang dirasakan para wanita shaleha disana yang berusaha benar menjaga diri dari perasaan hati yang bergejolak.

Oowhh,, andaikan bisa menjadi bagian dari mereka “bidadari surga”

Perasaan malam ini benar-benar ga jelas, sepi, sunyi, sendiri, rindu, takut, sedih, cemas, semua sudah tak jelas, sudah tak nampak. Aku buka laptopku, entah ingin apa, masuk browser, diam, ga ada yang dicari, ga ada yang ingin dilihat. Buka folder foto-foto SMA, berkali-kali membuka fotonya, wajahnya yang tenang terasa menyejukan, tapi tetap saja tidak bisa mengobati yang aku rasakan ini.

Terus memutar foto-foto itu, hingga akhir, dan memutar ke awal, berkali-kali menengok hp, memasang music, dimatikan, dipasang lagi, dimatikan lagi. Aaarrrrgghh,, keadaan ini terasa sangat menyiksa ya tuhan,,

“Untukmu disana,

Malik Amrullah… izinkan aku menuggumu hingga batas waktu, lagi dan lagi, hanya kalimat itu yang mampu aku ucapkan dan kusampaikan pada tuhan dengan menyebut namamu, pernah ingin ku akhiri kegiatan menuggu ini, menunggumu menyadari apa yang selama ini ku rasakan, entah apa pernah ada perasaan ini dalam hatimu ?? memang, sakit, sangat sakit tapi aku terus meyakini diri, kaulah malik, kaulah yang akan datang dan memintaku menjadi pendampingmu nanti, entah kenapa keyakinann ini begitu dlam dan kuat, meski kusadar selama ini kau mungkin sama sekali tak pernah merasakan sedikitpun getaran hati ini, meski kusadar selama ini kau tak pernah menyadari arti tatapan mataku ketika melihatmu, meski selama ini kau tak pernah melihat dan menilai perhatianku padamu yang bagiku terasa berbeda. Saat ini salahkan jika aku terus mengharapkan masa indah itu ? bagaimana caraku memberitahumu ? aku sangat ingin kau tau, apa yang selama ini aku lakukan untukmu, apa yang selama ini aku rasakan padamu, dan apa juga yang selama ini aku sembunyikan darimu, sangat ingin kau tau, semua tentang hati dan cinta ini,, semuanya,, semua keluh kesahku memikirkanmu, semua penantianku,, bagaimana caranya ??

Dalam hatiku,, sangat ingin meneriakan kata “Sayang” padamu, tapi aku sadar, aku siapa dan dimana posisimu, aku sadar itu semua, aku sadar, aku sadar.

Tapi kesadaran itu belum juga mampu mennyadarkanku dari perasaan ini, belum mampu menyadarkanku bahwa kau tak pernah merasakan apa yang ada dihatiku kini,,

Ya rabb beri aku kekuatan”

Airmata ini terasa jatuh perlahan, rasa sesak ini makin terasa, teringat kembali tentang Sandra, bagaimanapun aku seorang perempuan yang punya rasa cemburu, bagaimanapun aku seorang perempuan yang pasti merasa sakit jika melihat orang yang disayang bersama orang lain,

Ditengah dinginnya malam,, ada rasa yang sangat tak nyaman menghampiriku, ya rabb kenapa harus terasa lagi ?? sakit kepala yang sangat menusuk, penyakit ini kembali memberontak, sangat tidak nyaman dalam keadaan ini, aku menahan rasa sakitku sekuat tenaga, terus diam dan menahan rasa sakit ini. Aku terus memegang kepalaku erat untuk sedikit mengurangi rasa sakit itu. Terkadang merasa lelah dengan keadaan ini, keadaan dimana aku sakit, dimana aku tak sehat, dimana aku berada dalam keadaan yang jauh dari keadaan baik” saja.

Aku segera mengambil obat yang selalu siap sedia disamping tempat tidurku, menelannya satu persatu. Ketika sakit itu mulai dikendalikan oleh obat,, Aku diam, duduk menyendiri di diatas tempat tidurku, kuambil buku tulisku, mulai menulis, satu huruf, satu kata, satu kalimat. Dengan senyuman dan airmata yang terus mengalir aku terus mengayunkan penaku diatas kertas berwarna bru muda itu.

“Ya rabb,, bolehkah aku mengintip sedikit saja apa yang akan terjadi padaku satu menit kedepan ??  bolehkah aku mengetahui apa yang akan kau lakukan padaku dihidupku ini ??

Ya rabb, boleh kah ?? aku memintamu menyembuhkan penyakit ini dari tubuhku, J aku tau, semua yang telah Kau gariskan untukku, itulah yang terbaik untukku dan hidupku. Ya rabb,, terimakasih, atas semua pencapaian yang telah Kau izinkan aku meraihnya, terimakasih atas semua nikmat sehat yang masih kau berikan padaku hingga saat ini, terimakasih atas izinMu untuk nafas yang masih bisa terus terhembus ini, terimakasih atas semua anugerahmu telah menghadirkan waktu yang begitu sempurna untuk makhlukmu yang sangat tidak tau diri ini. Makhluk yang tak bersyukur atas semua yang Kau berikan untuknya”.

“dihariku yang ke 21 tahun ini, satu harapanku ya allah, tetap dalam iman dan islam ini. Bahagia dalam naungan ridho_Mu, aku tau mungkin sangat tak pantas hamba yang penuh dengan noda ini mengharapkan bahagia dari_mu, hamba yang penuh kesalahan dan lalai akan perintah_Mu ini meminta ridho_Mu. Tapi aku juga sadar Kau lah tuhan maha segalanya, kaulah ya rabb, yang menguasai semua yang ada dihidupku ini.

Ya rabb,, izinkan aku bahagia ya allah, izinkan aku mendapat kebahagiaan itu, jaga cinta ini agar tetap dihatiku ya allah, jika bukan dia ya rabb, beri hamba keikhlasan akan semua penantian ini, jadikan ini semua nilai ibadah untuk hamba memperbaiki diri.. kabulkan ya rabb”

 

***

Dalam keadaan setengah sadarku dalam tidur, aku mendengar suara hujan mulai turun, rintik-rintik dan kelamaan menjadi lebat mengguyur bumi. Jam 2.46 menit pagi aku terbangun dari tidur tanpa mimpi itu. Entah kenapa, ketika hujan suasana diri terasa begitu hidup, aku rasa kalianpun pernah merasakannya, ketika hujan, semua harapan kita, cita-cita kita yang hendak digapai terasa terlihat didepan mata, kenangan-kenangan indah yang pernah kita alami terasa hadir kembail, juga dengan kenangan-kenangan kesedihan, kesakitan dan tangisan yang pernah hadir dalam hidup kita kembali teringat bermunculan ketika suasana dingin hujan memeluk bumi. Semua kebahagiaan, kesedihan, juga penyesalan atas waktu yang pernah kita sia-siakan semua kembali terlintas dan terlihat sangat jelas didepan mata. Saat ini hatiku terasa kosong. Aku terus diam dalam keadaan terjaga tanpa makna, diam dan terus diam merasakan dinginnya malam yang berselimut guyuran air langit ini. Diam dan terus diam, mengingat semua yang pernah terjadi dan ku alami. Bukan bentuk penyesalan atau ketidakikhlasan, namun hanya mengingat semua kenangan dan kisah yang pernah hadir dlam hidupku.

Kisah dimana aku tertawa, ketika aku menangis, dimana aku bahagia juga ketika aku sedih.

Semua cita-cita dan jalan hidup yang penuh warna.

 

Air langit masih mengguyur bumi dengan derasnya,, suasana dinginpun masih menggelayut manja pada tubuh yang kesakitan ini.

Hatiku terasa sangat tenang dan damai meski sakit menyiksa, meski dingin menusuk. Aku menyunggingkan senyum sambil terus menatap langit” kamarku, ingat perkataan malik tadi malam, “besok kita bertemu” itu maknanya. Rasa bahagia menyelusup perlahan dalam kalbuku, tak sabar menuggu waktu itu, wktu dimana “kita bertemu”. Suara malik berulang” dan terus berputar dalam fikiranku, perasaan senang itu terasa makin memuncak. Rasa sendiri itu memang aneh, satu detik lalu masih menangis dan sekarang bisa tersenyum gembira, tuhan maha dahsyat yang menjadikan makhluknya dengan perasaan seperti ini. Saat ini aku sangat yakin, esok pasti aku akan bahagia, setelahnya tidak akan ada lagi kesedihan, setelahnya tidak akan ada lagi kesendirian. Dan setelahnya hanya akan ada senyuman dan kebahagiaan.

 

***

Aku bangun dari tidurku,  melaksanakan shubuh sebagai kewajibanku.

Kurapikan tempat tidur dan kamarku, serapi-rapinya, ku bersihkan kamar mandiku, sebersih-bersihnya, kusapu dan kupel rumah ku hingga tak sedikitpun tampak ada yang berantakan, perasaan pagi ini begitu bahagia, begitu menyenangkan dan begitu penuh senyum.

Ibu heran melihatku begitu ceria dan aktif. Tapi satu yang beliau selalu ucapkan padaku setiap waktu “jangan lupa obatnya”, itu yang terus beliau ucapkan padaku meski keadaanku terlihat baik” saja, bahkan sangat baik tanpa ada rasa sakit.

Jam 9 pagi, kutunggu kabar malik yang katanya ingin datang menemuiku, tidak ada telpon, sms, ataupun pesan darinya. Aku ingin menghubunginya, tapi ku urungkan, kubiaran diri ini menuggu, kubiarkan diri ini penuh rasa penasaran, agar nanti pasti rasa bahagianya akan terasa sangat.

Aku mandi jam 10 pagi, dan memakai pakaian yang tidak terlalu mencolok namun tetap rapi. Ibu belum tau tentang ini dan rasanya sedikit takut membertahu ibu akan hal ini, meski hati ini sangat ingin ibu tau.

 

Adzan dzuhur berkumandang dari mesjid dekat rumahku, masih dan masih, malik tak member kabar apapun, aku mulai cemas dan ragu, aku mulai sedih dan kecewa. Aku terus berusaha tetap tegar dan menunggunya.

Hingga ashar, dan maghribpun datang menutup siang. Keyakinanku akan bertemu dengannya terasa memudar, makin pudar dan hampir hilang ketika isyapun menyusul untuk menghiasi malam.

Kekecewaan terasa makin pekat dalam diriku, hatiku sakit. Terasa seperti manusia yang menunggu namun yang ditunggu tak tau aku tengah menunggunya.

Malik, ya tuhan,, kenapa jadi seperti ini ? mana bukti dari bayang keindahan dan kebahagiaan yang semalam kau tampakkan dihadapanku…

Berkali-kali aku menarik nafas panjang dan menghentakannya. Ingin menghubunginya namun lagi-lagi, ku urungkan.

Aku tak sanggup jika nanti diseberang sana terdengar jawaban

“maaf za, ngga jadi deh kayanya, aku ada keperluan” atau

“maaf za, aku belum sempat memberitahumu, aku belum bisa datang hari ini” atau

“zaaa,, maaf yah,, ngga jadi,, ada keperluan mendadak” atau

Operator yang menjawab

“maaf nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif”

 

Satu pelajaran lagi, jangan berharap pada makhluk. Jangan membayangkan kebahagiaan yang tak pasti.

Ingin berteriak “aku Hanya butuh kepastian.”

 

Dan lagi,, perasaan ini membuatku menjatuhakan air mata. Perlahan menetes menahan sesak, terus mengalir mengiringi kekecewaan, sakit.. rasanya tuh sakit, seperti tak pernah dianggap ada, dia lupa,, dia punya janji pada ku,, dia punya ucapan yang harusnya dia penuhi,, tapi sekarang ??

Dia kemana ??

Ku melihat kearah jam dinding rumahku, sudah jam 8 malam, aku semakin yakin dia ta akan datang dan menemuiku, ya.. tak akan,, sampai jam berapapun aku menunggunya aku yakin dia pasti ta datang.

Kecewa, marah, kesal.. yaaa aku merasakan semuanya,, kamu tau ?? sakit berada dalam posisi seperti ini.

Aku berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit ini, cukup diam,, ya hanya dengan diam kurasa semua akan lebiih tenang (terlalu sering teriakan hanya didengar, tapi tak dianggap).

Ya tuhan, apa salah aku ?? mungkin terlalu banyak dosa yang hamba perbuat L hingga semua kisah hati ini terasa sangat kejam.

Saat ini aku hanya berharap penyakit itu tidak memberontak dan sudah tidak ada lagi rasa berharap akan kedatangannya. Harapan itu menyisakan sakit dan air mata, lelah..

 

Aku diam dikamar, duduk tenang diatas ranjang, diam dan terus diam, sesekali hanya menghapus airmata yang terus mengalir. Rasa sakitnya masih sangat terasa.

Tapi entah kenapa, malam ini aku tidak diam sepenuhnya, aku ingin tau apa alasannya memperlakukanku sperti ini, memberikan harapan, membuatku menunggu dan lalu menghilang ??

Aku menelponnya, tidak diangkat. Aku inbox tidak dijawab. Hm,, sudah kuduga, yang aku lakukan hanya akan menambah rasa kecewa dan sakitku.

Sudah.. sudah.. ingat zahwaaa,, dia siapa ?? punya hak apa kau atas dia ?? sudah,, lupakan, jangan terus seperti ini,,

 

Jam setengah Sembilan malam, aku berjalan kearah jendela kamarku, kubuka dan menghirup angin malam yang dingin, hanya memastikan diluarsana tidak ada orang yang menungguku (padahal mahh ngarep ada dia diluar).

Kutarik nafas panjang, dan mengukirkan sedikit senyum untuk menenangkan diri dari amarah dan kecewa ini.

Rasanya ingin pergi. Ingin pergi, datang dan menemuinya, ingin pergi menghampirinya ditempat dia berada sekarang, meski entah dimana tempat itu. Aku sangat merindukannya ya tuhan, aku ingin bertemu dengannya.

Kembali pada kehidupan nyata,, kenyataan itu tak seindah mimpi. Rindu hanya tinggal rindu,, harap hanya tinggal harap, tak ada daya, tak ada asa,, untuk menggapai rindu dan harap itu.

 

***

 

Liburan panjang datang, juli..

Aku meminta izin pada ibu untuk pergi beberapa saat, aku memutuskan untuk berlibur ke pantai. Aku menyewa sebuah villa untuk kusinggahi beberapa hari kedepan diwilayah sukabumi.

Sangat bodoh memang, liburan ini hanya kugunakan untuk merindukan dan mengharapkan seseorang datang, mungkin ini yang dinamakan kesepian, tanpanya, dan tanpa tuhan.

Terasa benar benar sendiri. Tiap malam aku mendatangi pantai indah yang telah sepi, menyerahkan tubuh berbadan kurus ini pada dinginnya malam, pada jahatnya angin kencang dipinggir lautan yang terbentang. Hanya duduk menatap langit yang gelap dan kelam.

“tuhan,, kenapa namanya selalu ada disini ?? kenapa ?? kapan ia benar” pergi dari hidupku ?? aku lelah,, aku lelah dengan semua harapan dan penantian ini ya tuhan…”

 

Air mata yang terus mengalir ini sudah tak terasa alirannya, mata pun sudah terbiasa dengannya.

Aku terus diam memandang ombak malam yang saling berkejaran, sendiri, tanpa teman bicara. Orang orang disekelilingku sibuk dengan urusan mereka masing-masing => para nelayan yang mengayuh kapal mereka<=

 

Rasa sakit itu terus datang, kepalaku terasa terbentur hingga remuk. Kutundukkan kepalaku, kupejamkan mataku, seiring dengan waktu sakit itupun mulai terbiasa bagiku, meski menyiksa.

 

Ponselku bergetar, kulihat Rizky menelponku,, ku diamkan, tak ku angkat. Berkali kali bergetar dan berkali kali ku tak acuh.

Jam 2 pagi, angin malam ini terasa semakin menusuk.

Ponselku kembali bergetar, kali ini malik. Masih ku acuhkan, sejak kejadian itu, tak pernah lagi aku menghubunginya, maupun sebaliknya. Rasanya hati ini sudah sangat sakit atas semua perlakuannya akan cinta dan perasaanku.

 

Berkali kali tak kuangkat, malik mengirimkan pesan padaku

“tolong angkat, aku akan jelaskan semuanya kenapa dan apa yang terjadi hari itu, hari dimana aku mempunyai janji padamu, janji yang hingga saat ini belum kupenuhi, tolong angkat, untuk kali ini tolong dengarkan aku…”

 

Dia kembali menelponku, aku angkat dengan diam tanpa suara, rasa sakit itu membungkam mulutku untuk bicara, air mata itu memaksaku untuk diam dan terus  diam.

“zahwa… maafkan aku,, aku sangat menyesal dengan janji yang belum kupenuhi hari itu..”

(entah kenapa aku merasa suara itu sangat dekat dan jelas terdengar,namun aku hanya diam tanpa memberikan sepatah katapun)

“hari itu, tgl 20 Mei, aku sudah rapi untuk datang menemuimu, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang tak ku inginkan terjadi…

(penjelasan malik membuatku semakin tak bisa menahan tangis, air mata ini makin deras mengalir)

“ibuku pergi untuk selamanya zaa hari itu, aku tak mungkin meninggalkan ibu disaat terakhir aku bisa melihat wajahnya,, tolong mngerti zaa, aku minta maaf,..”

Penjelasannya membuatku semakin sesak dan rasanya ingin segera berteriak,,

“zaa,, zaahwa…” ucapnya lirih dibalik telpon

Aku berusaha bicara dengan keadaan yang sangat menyiksa ini

“kenapaaa ??? kenapa kamu tidak beri aku kabar ?? kenapa ? knapa kamu buat aku menunggumu, buat aku sangat berharap akan kedatanganmu, kenapa kamu sangat jahat padaku ?? kamu tau ?? lima tahun aku menunggu saat untuk bersamamu, sudah selama itu aku menunggumu walau hanya ingin menghabiskan satu hari denganmu,,  waktu selama itu hanya kugunakan untuk merasakan sakitnya perasaan ini, kamu tau apa rasanya ?? sakit,, sangat sakit,, aku tersiksa dengan perasaan ini, kenapa harus padamu kurasakan cinta ini, kenapa harus kamuu ???”

Aku tak sanggup lagi menahan ucapanku, terasa meledak.

 

Tiba-tiba ada sosok yang memelukku dari belakang, dia memelukku sangat erat.

“maafkan aku,, maafkan aku” aku sangat mengenal suara itu, suara itu, suaranya.

Malik ?? aku sangat tidak menyangka dia berada disini. Aku refleks melepaskan pelukan itu, berdiri dan berbalik arah. Kudapati sosoknya, sosok yang selama ini sangat ingin kutemui, sosok yang sangat ingin kulihat, dia ada disini, dia ada disini.

 

“malik ?? kamu malik ?? ucapku sambil menyentuh wajahnya,

Matanya terus menatapku, Ia menggenggam jemariku, sangat keras genggamannya, terasa ada penyesalan mendalam di jemarinya.

“zahwa,, maafkan aku,, maafkan aku…”

Aku hanya bisa mengeluarkan air mata, tak mampu lagi mengatakan apapun Malik kembali memelukku, aku membalas pelukannya, kupeluk tubuhnya sangat erat, entah apa yang kurasakan, sangat ingin ini semua tak kan berakhir.

Kupejamkan mataku dalam peluknya, menahan kepalaku yang terasa dihempas bebatuan besar, tubuhku lemas, perlahan tanganku pun tak mampu memeluknya, lemas dan terasa tak ada daya, kakiku terasa lumpuh, aku ambruk dalam pelukannya.

“kamu kenapa ?? zahwa ??”

Ia segera mendudukkanku, dan duduk disampingku, aku hanya menunduk dan  diam membiarkan sakit ini memberontak. Ia kembali menggenggam tangan kiriku yang sudah memucat menahan sakit. Aku menyandarkan tubuhku padanya, sesekali ia mengusap kepalaku dan menciumi jemariku,, kata maaf itu terus keluar dari bibirnya.

Perlahan aku membuka mata, menegakkan duduk yang tadi kusandarkan. Kulawan rasa sakit itu.

Aku menatap kosong ke laut dengan senyum.

“makasih… udah datang menemuiku..” ucapku lirih

Kulihat kearah wajah malik yang merah karna rasa bersalah, ia menatapku sangat tajam. Jemarinya mengusap wajahku dengan sangat lembut

“maafkan aku…”

Aku menggenggam tangannya, tak ingin melepasnya, kugenggam sangat erat.

“jangan pernah pergi dariku” aku menatapnya tajam.

 

Ia tersenyum, ya tuhan.. terasa seperti mimpi, melihatnya tersenyum dengan jarak sedekat ini, sangat dekat. Perasaan bahagia menelusup perlahan dalam hatiku.

Tangannya menarik hidungku, sambil terus tersenyum,,

“hmmm,, jadi ada yang tersiksaaa yaaa selama iniii,,” hmmm,,  mulai meledekku  dia,

Aku segera melepaskan genggaman tanganku darinya, membuang pandanganku kelautan yang gelap.

Wajahku Terasa memerah

“iyaa laahh tersiksa,,, kamu jahat sama aku,,” jawabku judes

“he he,, maafin aku yaahh,, sama sekali tak bermaksud menyiksamu dengan cinta itu, itu rasa yang tuhan turunkan padamu”

Ia merangkulku, (ya tuhan,, semua ini baru kali ini kurasakan). Akupun menyandarkan kepalaku dibahunya. Sangat nyaman berada disampingnya. Tenang dan penuh kehangatan.

 

Seketika teringat semua kenangan hidup yang telah ku lalui, masa ketika aku duduk dibangku sekolah dasar, SMP, hingga SMA, prestasi-prestasi, kegiatan yang full, lapangan perlombaan dan latihan pramuka dan paskibra, piagam-piagam, trophy trophy, hingga aku bekerja, memasuki perguruan tinggi, kepergian ayah, penampilan salju dimusim semi, rizky, linda, seluruh teman satu perusahaan dan satu perjuangan, sampai akhirnya semua harus kulepas karna nikmat tuhan yang begitu tinggi diturunkan untukku. Ibu, Reza.. aku sayang kalian, maafkan aku jika selama ini belum mampu membuat kalian bahagia, belum mampu mengukir senyum kalian, terimakasih ya tuhan..

(Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah).

 

 Entah, Perlahan semua menjadi gelap, benar benar gelap, aku tak bisa melihat apapun, hanya terasa ada cairan yang mengalir menusuk dari hidung dan telingaku. Entah apa yang terjadi, hanya itu yang kurasakan, gelap, gelap. Dan hanya gelap yang dapat kulihat.

 

***

Zahwa kini telah tiada,, sadarkah kawan ?? bagaimana keadaan zahwa ketika ia pergi ?? sangat miris bukan ?? islam, muslimah yang selama ini ia jaga dengan begitu kuat, hancur dan rusak sesaat sebelum ia pergi untuk selamanya (na’uzdubillah). Dialog dan adegan seperti itu mungkin memang so sweet, indah, bahkan memberikan rasa bahagia pada mereka yang melakukan dan merasakannya,, tapi apakah iman masih menyadarkan kalian ?? zahwa bahkan tak sempat menyadari dosa besar yang tengah ia lakukan.

 

“ayah,, J aku sakit,

Kata dokter, aku mengidap penyakit yang pernah ayah rasakan, penyakit yang ayah derita bahkan hingga hembusan nafas terakhir ayah, J aku ngga sedih ataupun takut, karna aku tau ayah juga pasti tidak pernah menyesali takdir tuhan yang telah digariskan untukmu, yang kini juga digariskan untukku.

Karna aku tau ayahku adalah ayah yang sangat luar biasa, dan aku juga akan menjadi putri ayah yang luar biasa, yang akan terus tersenyum meski keadaan memaksa kita untuk menangis.

Tapi ayah… aku bingung, bagaimana caraku bicara pda ibu tentang ini semua ya ? ibu pasti sedih, dan ibu pasti akan menangis, aku ngga mau ibu menangis yah, menurut ayah bagaimana ??

Ayah… tunggu aku di jannah yang kini kau tempati ya,, aku akan menyusulmu J

Ingat kalimat Azwa itu ?? kalimat yang ia ucapkan untuk ayah ketika ia divonis menderita penyakit yang mematikan. Tapi apakah dengan keadaan yang sekarang,, dengan keadaan ia yang telah merusak dirinya sendiri itu ?? apakah iya ?? ia akan menemui ayah di jannah nya Tuhan ??

*Miris dan sangat DISAYANGKAN… #Ketika wanita telah tersentuh


Cinta membuatnya melupakan tuhan, cinta yang berlebihan itu membuat setan tertawa riang, iblis telah berhasil menguasainya, namun apakah zahwa sadar ?? cintanya yang ia jaga selama ini tersebut tak terbalas ?? tetap menjadi cinta yang berdiri seorang diri.

begitu pula dengan Malik, hanya rasa bersalah yang ia miliki, bukan cinta ataupun sebagainya, namun ia juga telah dikalahkan oleh iblis, mereka KALAH.

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’uun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Simple Present Tense

Macam Tenses dalam Bahasa Inggris, Fungsi, dan Contoh Penggunaannya.

Latihan Soal Macam Tenses dan Kunci jawaban.