Nadine Zahwa
Zahwa Nadine
“aku sakit apa dok ? ?”
Wajah sang dokter terlihat sangat tegang, sepertinya sangat sulit untuk mengucapkan jawaban untuku, apa dia tidak tau aku sakit apa ? untuk apa menjadi dokter jika seperti itu, payah.
Pak dokter itu tampaknya sangat ketakutan, apa penyakitku
benar-benar serius ??
Tak ada sedikitpun rasa cemas dalam diriku, yang aku percaya
jika percaya pada tuhan semua akan baik-baik saja, maka semua akan baik-baik saja,
tidak akan terjadi apapun pada diriku,
Yah,, I trust it…
Hari
ini hari yang tidak akan pernah terlupakan selama masa SMA, Graduate,, ya..
hari kelulusan, hari yang tidak akan pernah dilupakan bagi seluruh siswa dan
siswi.
Hari
dimana kebebasan telah menunggu untuk digapai, walau banyak kenangan indah
selama masa sekolah, tetapi bagi anak-anak SMA tidak ada yang lebih menggiurkan
dibandingkan dengan kebebasan setelah masa SMA, bebas melangkah dengan langkah
dan tujuan pasti.
Banyak
prestasi yang tidak terlalu buruk yang lumayan sering kuraih dlm masa SMA, aku
bersyukur pada tuhan karna semua anugerah dan karunianya, aku telah menjadi
juara umum di angkatanku, meski pada kelulusan aku hanya mendapat urutan ke dua
lulusan terbaik.
Setelah
benar-benar lulus, semua berkas SMA telah kugenggam, aku segera bersiap-siap
untuk menuju Universitas untuk melanjutkan pendidikanku.
Mereka
kenal aku sebagai sosok aktif dan ceria, masa-masa, waktu-waktu, hari-hariku
terasa begitu sempurna, aku terasa menjadi manusia paling beruntung, semua yang
ku ingnkan bisa kudapatkan, teman-teman yg baik, prestasi yang mengharumkan
nama Sekolah, aktif dilapangn, aktif dikelas, aktif dihadapan banyak orang. Ya tuhan,
terimaksih atas semuanya.
Aku
mengambil kuliah kelas malam, karna aku berniat untuk bekerja disiang harinya.
Ayah
dan ibu sebenarnya tidak terlalu setuju dengan keputusanku, tapi karna aku
yakin aku sanggup, karna itu aku berani melangkah.
Satu
semester aku kuliah aku meminta izin pada ayah untuk melamar pekerjaan, dengan
senyum ayah berkata padaku “Azwa… putri ayah yg pintar, yang cerdas, yang baik,
yang rajin,, kamu sanggup jika melangkah dengan jalanmu ini ??
Dengan
senyum ceria khasku aku pun menjawab ucapan ayah, dengan lembut namun
meyakinkan dan penuh kesungguhan “ayah… karna aku yakin aku sanggup, karna itu
aku berani melangkah…”
“putri
ayah memang sulit dihentikan,,” ucapnya sambil mengusap kepalaku
“karna
aku adalah putri dari seorang ayah yg luar biasa”
Semua
senyum terasa terpancar penuh keikhlasan, suasana benar-benar hangat dan
nyaman, tidak ada kenyamanan yg lebih dibandingkan berada dalam keluarga tenteram
dibawah naungan cahaya tuhan.
“kalau
ibu akan mendukung semua cita-cita Azwa, karna ibu yakin, putri ibu pasti bisa”
Ucap ibu sambil melangkah mendekati kami, suasana semakin hangat dan nyaman, ayah ibu, aku sayang kalian, aku selalu berdo’a agar tuhan menjaga kita semua.
Adikku
sudah tidur selesai belajar tadi, setelah berbincang dengan ayah ibu aku segera
bergegas kekamarku, kamar terindah yang pernah ayah ciptakan untuk putrinya,
rasanya tidak pantas ada tangisan ditengah keluargaku yang seperti ini, tuhan
terlalu baik memberikan karunianya ini,
YA ALLAH…. Terimakasih.
Meski aku tau ayah mengidap kanker otak, meski sering aku melihat ibu menangis dibawah gelapnya malam dengan mukena dan sajadahnya, tapi aku yakin jika berfikir tuhan akan menjaga semuanya, maka semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang mampu melawan kekuatan tuhan yang maha dahsyat. Trust it.
Waktu
SMA aku pernah melihat hasil diagnose otak ayah, kankernya sudah mencapai
stadium akhir, tapi beliau sungguh cerdik menyembunyikan semua itu dari
anak-anaknya, bahkan sampai sekarangpun belum pernah beliau menyebut-nyebut
tentang semua keadaannya, ayahku memang luar biasa, maka karna telah menjadi putri
dari ayah dan ibu yang really perfect akupun harus lebih dari mereka.
Adiku laki-laki, sekarang baru kelas 3 SMA, yupz tahun ini lulus.
***
Hari ini aku akan melamar pekerjaan, disuatu perusahaan produksi pakaian ternama, berposisi sebagai designer busana, lagi-lagi, tuhan tak hentinya menurunkan kuasanya, hanya dalam hitungan 3 hari aku langsung mendapat panggilan dan diterima setelah melakukan interview.
Hari
baru dengan kegiatan baru, sekarang jabatanku tidak hanya seorang mahasiswa,
tapi juga seorang karyawan, ya tuhan, aku senang sekali dengan hidup ini, hidup
yang benar-benar sempurna…
Aku
berangkat tepat pukul setengah delapan pagi setiap harinya, keluar kantor jam 4
sore dan langsung jalan menuju kampus.
Hari-hari
yang begitu cerah meski keadaan sebenarnya tengah mendung hujan, semua halangan
bisa dilewati dengan sempurna, lagi-lagi aku akan mengucapkan “karna aku yakin
aku sanggup, karna itu aku berani melangkah”. Kalimat itu terasa seperti
pengukir senyum untuk mensyukuri semua nikmat tuhan yang telah diberikan padaku
dan keluargaku.
Tak boleh pernah berhenti mengucapkan “Alhamdulillah,, terimakasih ya Rabb”
Jam
10 malam aku sampai dirumah, malam jum’at yang terang, dengan mengucapkan salam
aku mengetuk pintu, dua kali salam dan dua kali mengetuk pintu, ayah, ibu
ataupun Reza tidak ada yang mendengar. Aku terus tersenyum didepan pintu
rumahku, segera ku telpon Reza untuk membuka pintu,
Tidak
lama reza membukakan pintu untuku,
“baru
pulang ka ??” tanyanya
“iya,
udah tidur ?”
“iya,
udah tidur…”
“oowh,,
maaf jika membangunkanmu, habis ayah dan ibu tidak ada yg mendengar ketukan
pintuku,”
“yaudah, masuk, tutup nd kunci lagi pintunya ya…
Reza
bergegas kembali ke kamarnya, aku melangkah lirih kekamar ayah, pintunya
sedikit terbuka, lampu rumah sudah gelap semua, kecuali kamar ayah dan ibu, aku
melongok kearah kamar mereka, aku fikir meraka sudah tidur karna tidak ada
satupun yang menjawab salamku,
Tapi ayah dan ibu belum tidur, mereka seperti tengah membicarakan hal yang serius, aku tidak berani masuk dan hanya menguping didepan kamarnya, sedikit banyak aku mendengar perbincangan mereka
“bagaimana
jika akhirnya mereka tau tentang keadaan ayah yang sebenarnya, mereka pasti
akan sedih yah,, mereka akan menangis,,”
“bu,,
percayalah, anak-anak kita bukan anak-anak bermental tempe, anak-anak kita anak
yang tangguh, kuat, mereka tidak akan patah semangat jika tahu keadaan ayah yg
sebenarnya, ibu bisa lihat sendiri, Reza dan Azwa baik-baik saja, mereka tidak
ada yang mengidap penyakit yang sama seperti ayah bu, jadi ketakutan ibu selama
ini telah dibayar oleh tuhan dengan prestasi dan kesungguhan mereka, ibu liat
Reza dan Azwa, mereka semua…..
“ayah….”
Aku
mendengar suara ibu sangat lirih dan tersedu, ya… ibu menangis,, ya tuhan ibuku
menangis..
Tanpa
kusadar airmatakupun ikut mengalir mendengar perbincangan mereka,
Ayah,,
ibu, ayah yang dengan kuat dan sabar menempuh dan melawan keadaanya yang jauh
dari kata baik-baik saja, ibu yang selama ini menyembunyikan rasa takutnya
dibalik senyum kasih sayang pada putra putrinya. Ya allah, jagalah keluargaku,
Aku
bergegas kekamarku, entah kenapa air mata ini sangat sulit kuhentikan, meski
sebelumnya aku sudah mengetahui keadaan ayah yang sebenarnya, tapi baru kali
ini hatiku goyah dari kalimat “jika yakin tuhan akan menjaga semuanya, maka
yakinlah semuanya akan baik-baik saja”
Mendengar
semua perbincangan ayah ibu, rasanya ibu seperti bilang “anak-anak ibu,,
mungkin tidak lama lagi, ayah luar biasa kalian akan pergi untuk selamanya”
Ya
allah, jangan biarkan ayah meninggalkan kami,,
Malam
yang cerah ini terasa kelabu, mungkin ini rasanya dilanda ketakutan dan
kekhwatiran, sangat tidak nyaman, membuat susah tidur dan hanya berdiam diri
menangis.
Perasaan
yang baru pertama kali aku rasakan sejak awal aku terlahir sebagai seorang Azwa,
saat ini baru merasakan kelemahan, aku lemah, aku…
Ya
rabb, perasaan apa ini, aku tidak nyaman merasakan perasaan seperti ini, Azwa
ngga mau ya Rabb…
Tepat
jam 12 malam, mata ini masih belum bisa terpejam, aku bangkit dan mengambil air
wudhu, bertahajjud dan merenung,
“Ya
Rabb, tolong tenangkan hati Azwa yang gelisah ini, kenapa hatiku goyah, kenapa
saat ini aku takut Kau akan mengambil ayah dari kami ? padahal ayah telah
memberitahu kami, yang kami miliki sekarang ini milik-Mu ya Rabb, ayah juga
pernah bilang, jangan pernah takut Tuhan mengambil semua dari kita, karna itu
semua memang Hak-Nya, yang kalian perlu
takuti adalah Tuhan mencabut iman dari hati kalian”
Aku
segera berusha menenangkan diri, mengembalikan senyum diwajah, menarik nafas
dan membenahi otak dari segala fikiran buruk, ayah pernah bilang padaku fikiran
buruk itu buang aja jauh-jauh, ngga ada gunanya disimpan juga, hanya memenuhi
otak saja.
Setelah
mengadu pada tuhan hati terasa lebih tenang, mataku masih segar terasa, sudah
jam stengah 2 pagi, aku harus tidur, menyiapkan diri untuk aktifitas esok.
Dengan
ketenangan hati perlahan aku memejamkan mata, berdoa pada tuhan, rasa gelisah
barusan hanyalah mimpi buruk, yang akan terlewat dan terlupakan esok.
***
Hari
ini hari yang menegangkan, mengesakan dan membahagiakan untuku, aku diminta
presdir untuk menyampaikan pidato di acara perayaan ulang tahun perusahaan
sekaligus perayaan kemenangan perusahaan dalam ajang perancang busana terbaik
tahun ini,
Karna
aku yang telah berhasil menghipnotis para juri dengan gaun ruby rancanganku
tesebut yang sekaligus menjadi gaun terindah tahun ini, presdir sangat bangga
padaku.
Ya
Rabb, aku harap ayah yang kini berada disisi_Mu ikut bangga pada putrinya ini,
sangat ingin ayah ada disini, mendengar putrinya berbicara dihadapan orang
banyak, tapi saat ini aku harus sadar dan terima, ayah tidak lagi ada disisiku,
beliau, ayahku, ayah luar biasaku. Kini telah berada dalam jannah yang indahnya
tak akan pernah sampai dalam fikiran dan imajinasi manusia.
Mungkin
ini makna kebebasan sesungguhnya yang pernah menjadi impian seluruh siswa SMA,
sekarang Reza sudah lulus SMA dan sudah mulai bekerja,
Meski
sudah tidak ada ayah, keadaan keluargaku harus tetap hangat, kami sering
berkumpul menceritakan seluruh aktifitas-aktifitas kami sekarang.
Ketika
tengah asyik bergurau tiba-tiba ibu diam, aku dan Reza ikut diam dan
memperhatikan ibu, dengan sendirinya ibu bicara
“kalau
lagi seperti ini, ibu jadi ingat ayah kalian za,, ayah luar biasa kalian,”
Aku
dan Reza tersenyum,
“ibu
kangen ayah yaaa ??” ledekku
“iya
lah,, za juga kangen sama ayah” ucap adikku
“iya,,
aku juga kangen bu, tapi kita ga boleh sedih dengan kenyataan ini, gitu kn za”
“haha,,
kadang-kadang kakak bener jg kalo ngomong”
“heh,,
sembarangn lu yaa,, liat tuh bu, ga sopan banget sama kakaknya”
Ibu
hanya tersenyum melihat tingkah putra putrinya yang mulai beranjak dewasa ini,
“dulu,
ketika ibu melahirkan Azwa, ibu sangat takut penyakit ayahmu itu diturunkan ke
kamu, seiring waktu dan hingga saat ini semua baik-baik saja, dan Reza pun
tidak ada tanda-tanda kelainan pada otaknya, ibu sangat tenang dan bersyukur,
ayah kalian pernah bilang kalian itu anak-anak yang kuat dan tangguh, ibu
bangga pada kalian, dan ibu yakin ayah kalian pun tengah tersenyum melihat
kalian tumbuh seperti ini”
“dan
ibu yakin ayah kalian pun tengah tersenyum melihat kalian tumbuh seperti ini”
Kalimat
ibu itu terasa seperti penghantar tidur yang akan menghadirkan mimpi indah
untuku,
Ya
tuhan, terimakasih…
***
Sore
itu langit begitu cerah, hari ini aku libur kuliah, jadi tidak harus buru-buru
turun setelah jam 4 sore, hari ini aku tidak bawa kendaraan karna reza bilang
mau jemput aku jam 5 nanti.
Entah
kenapa belakangan ini keadaanku terasa tidak baik, mungkin kecapean dan butuh
refreshing, tapi tidak pernah seperti ini sebelumnya, jika mulai penat dengan
pekerjaan semua itu bisa dihilangkan dengan pergi hang out dengan adikku, atau
teman-teman kerjaku, tapi belakangan ini benar-benar tidak nyaman, kepalaku
sering pusing, mual bahkan sampai muntah-muntah.
Satu
minggu keadaanku seperti ini aku masih manganggap itu baik-baik saja, ibu dan
reza pun pernah menanyakannya ketika aku muntah-muntah sampai akhirnya pingsan
dirumah, tapi aku rasa ini hanya masuk angin saja, nanti juga akan membaik.
Teman-temanku
dikantorpun merasa aneh dengan keadaanku yang semakin parah makin harinya,
managerku Ibu Dewi memanggilku keruangannya
“Azwa….”
“iya
bu”
“kamu
kenapa ? sudah hampir satu bulan keadaanmu seperti ini, kamu sakit ?”
“maaf
bu, aku juga belum tau aku kenapa, aku belum sempat cek up”
“hm,,,
baiklah, tapi jangan dibiarkan seperti itu, ingat beberapa minggu lagi kita
akan louncing mode terbaru, yang aku berharap akan jadi trendcenter ditahun
ini”
“siap
bu” jawabku bersemangat.
“gue
udah didepan kantor lu ni kak” pesan reza
Aku
segera turun, Ya tuhan, Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit, mual yang tidak
tertahankan menyergapku, aku terus mnguatkan diri melangkah turun, teman satu
ruanganku ternyata memperhatikanku, dia melangkah dibelakangku dengan sedikit
rasa khawatir aku akan terjatuh karna terus memegang kepala menahan rasa sakit,
“kamu
baik-baik saja ?” tanyanya sambil melangkah disampingku
“iya,
ngga kenapa-kenapa”
“pulang
sendiri ??” tanyanya
“ngga,
aku dijemput adikku, kau baru turun ? sekarang sudah jam lima..”
“iya,
tadi lagi banyak kerjaan aja, kau serius baik-baik saja ? kenapa kepalamu ?”
Aku
hanya tersenyum ke arahnya, aneh banget, sejak kapan dia memperhatikanku,
laki-laki yang sangat diam dan jarang bicara, dia hanya bicara diforum meeting,
jika hanya gurauan atau candaan paling dia hanya ikut serta dengan senyumannya,
bisa dihitung jari aku mendengarnya menjawab gurauan teman-teman sejak aku
bergabung disini.
Aku
sampai digerbang kantorku, reza sudah menungguku didepan, aku segera pamit pada
Rizky untuk jalan lebih dulu, dia hanya menjawab dengan anggukan dan
senyumannya.
“lama
banget sih,, hyo ngapain dulu lu didalam ? siapa yang barusan bareng ?” ledek
adikku
Aku
hanya tersenyum sambil menahan sakitku mendengar ledekan adikku itu,
“ayo
ah pulang….” Ucapku.
***
Malam
ini, rasa sakit itu benar-benar menyergapku, ya tuhan aku tak sanggup menahan
sakit ini, apa yang terjadi padaku ?
Malam
semakin pekat, udara semakin menggigit, rasanya ingin segera terlelap agar tak
lagi merasakan sakit ini, aku ngga kuat, aku tak sanggup.
Ingin
segera tidur dan berharap semua sakit ini hanyalah mimpi buruk yang akan hilang
esok hari dan terlupakan untuk selamanya.
Aku
hanya bisa duduk sambil terus memegang kepalaku, malam ini terasa sangat
dingin, lapisan selimut yang ku kenakan sama sekali tidak memberikan rasa
hangat pada tubuhku, menggigil seperti ditengah salju yang siap membunuhku, apa
aku akan mati sekarang ? ya allah kenapa aku berfikiran seperti itu ? kemana
akal sehatku ?
Aku
terus memejamkan mataku, berharap, sangat berharap semua ini hanyalah mimpi yg
ketika aku membuka mata maka semua akan usai.
Aku
merasakan ada yang mengalir dari hidungku, aku sangat merasa takut dengan
keadaan ini, keadaan ini mengingatkan ku pada ayah, apa mungkin ini juga yang
ayah rasakan ketika menderita penyakit pembunuh itu ? apa aku mempunyai nasib
yang sama seperti ayah ?? ya tuhan, aku ngga siap jika memang itu semua
kenyataan yang ada, tolong hentikan ini semua, aku sakit, aku sakit.
Perlahan
aku membuka mataku, memastikan apa yang mengalir dari hidungku barusan, ketika
cairan itu keluar, otaku terasa ikut ditarik untuk keluar, sangat tajam dan
menusuk.
Darah,
darah yang mengalir dari hidungku, ya tuhan…. Apa lagi ini ?
Ini
bukan mimpi, ini kenyataan. Ini benar-benar kenyataan.
Airmataku
perlahan mengalir, ayah… aku kenapa ? apa aku sakit seperti ayah ? apa aku akan
meninggal dengan waktu cepat juga ?
***
“ingat
beberapa minggu lagi kita akan louncing mode terbaru, yang aku berharap akan
jadi trendcenter ditahun ini” tiba-tiba pagi ini aku teringat ucapan bu Dewi,
apa aku mampu untuk hari itu dengan keadaan aku yang seperti ini ? ketika
berangkat kerja tadi pagi ibu bilang padaku, beliau mengucapkan kalimat itu
dengan nada penuh kesedihan dan ketakutan, aku tak tega melihat raut wajah ibu yang
seperti itu, meski dengan senyum manisnya, tapi tetap rasa cemas itu sangat
jelas tampak diwajahnya.
“nanti
pulang kerja kamu ketokter ya za, cek kamu sakit apa, apa perlu ditemani Reza ?
nanti ibu akan bilang sama dia,”
“ngga
usah bu, aku sendiri aja,” jawabku dengan senyum.
Aku
segera berangkat ke kantor, rasa khawatir dan takutpun mulai menyergapku.
Sesampainya
dikantorpun aku tidak bisa ceria seperti biasanya, aku merasa ini bukan aku,
siapa yang kini menggunakan ragaku, ini bukan aku, siapa yang ada dalam jiwaku,
ini bukan aku, siapa yang kini berwujud Azwa ??
“kamu
kenapa ?” linda menegurku yang terus diam dan kehilangan karakter, seperti
kehilangan semua semangat dalam diri.
Seperti
tidur yang dibangunkan dengan mimpi buruk ketika linda bertanya padaku, kaget
sampai membuat sesak, dengan lirih aku hanya menjawab “tdk apa-apa”
Linda
mendekatkan wajahnya kearahku, sorot matanya begitu tajam, temanku ini kenapa
sih ?
“serius
ngga apa-apa ??”
Innalillah…
aku berusaha mengembalikan semangatku, aku tidak boleh terus kefikiran seperti
ini, yang aku fikirkan belum tentu benar, Cuma tuhan yang tahu semuanya, semua
akan baik-baik saja.
Ya
tuhan yakinkan aku, yakinkan aku semua akan baik-baik aja.
Aku
tersenyum pada Linda yang terlihat seperti siap menelanku, sangat menyeramkan.
“hehe,,
Aku lagi galau” jawabku
“Jiah,
Azwa bisa galau juga…”
Aduh,
linda segala pake teriak, seisi ruanganku melihat kearah kami, aku jadi salting
sendiri,
Bu
Dewi juga mendengar dan hanya tersenyum meledek, aduh jangan-jangan mereka
semua berfikiran aku diam karna hal itu, galau.. sakit yang ketika merasakan rasa
seorang diri, aduhhh,,, sama sekali tak ada hubungannya dengan hal itu.
Jadi
ramai dah… Linda…..
Hari
ini ada meeting kordinasi, sekaligus untuk membicarakan persiapan louncing mode
baru yg akan diharapkan menjadi trendmode tahun ini.
Untuk
acara minggu besok tersebut, aku lagi yang terpilih untuk mempresantasikan
rancangan barunya, tapi rancangan yang terpilih
bukan miliku, jadi aku harus mempelajari rancangan milik Rizky tersebut.
Baju
sehari-hari namun sangat exotic meski tidak terlihat terlalu mewah, rancangan
yang sempurna bahkan lumayan sulit untuk ku pelajari.
Rizky
membantuku untuk mengenal rancangannya, jadi hari ini aku full hanya
mempelajari rancangannya tersebut untuk mempersiapkan acara minggu besok.
Dengan
wibawanya Rizky mempresentasikan hasil karyanya padaku, penalaran yang
sempurna, the excellent examine. Menurutku caranya bicara dihadapan orang banyak
sudah sangat sempurna, tapi kenapa juga harus aku yang mempresentasikan
hasilnya itu ? Bu Dewi aneh.
Jika
nanti Rizky yang berbicara pada acara tersebut aku yakin pasti semua yang hadir
akan tehipnotos dengan penjelasan-penjelasan yang ia sampaikan, benar-benar
sempurna. (Hahaha) rasanya akupun sudah terhipnotis dengan wajah tampan dan
kelantangan bicaranya, intonasi yang sangat tepat bahkan hampir tidak ada cacat
sedikitpun. So perfect,
Semua
hariku terasa kembali, aku bisa lagi terus tersenyum ceria, semua rasa sakit
yang semalam aku rasakan benar-benar adalah mimpi buruk yang kini telah lenyap.
Berulang
kali aku mengucapkan syukur pada tuhan.
“itu
semua Cuma mimpi” J
Meski
semua terasa kembali, aku tidak melupakan pesan ibu untuk cek up kerumah sakit
hari ini.
Jam
4 sore, aku segera turun, hari ini aku bolos kuliah, ibu sudah mengizinkannya,
maka aku langsung berangkat kerumah sakit.
***
‘aku
sakit apa dok ?
Wajah
sang dokter terlihat sangat tegang, seprtinya sngat sulit untuk mengucapkan
jawaban untuku, apa dia tidak tau aku sakit apa ? untuk apa menjadi dokter jika
seperti itu, payah.
Pak
dokter itu tampaknya sangat ketakutan, apa penyakitku benar-benar serius ??
Tak
ada sedikitpun rsa cemas dalam diriku, yang aku percaya jika percaya pada tuhan
semua akan baik2 saja, maka semua akan baik2 saja, tidak akan terjadi apapun
pada diriku,
Yah,,
I trust it…
“apa
kau memiliki saudara yang mempunyai kelainan pada otak ?” Tanya dokter,
Hatiku
tersenyum, dugaanku benar, itu bukan mimpi, itu kenyataan, aku yakin dokter
dihadapanku ini akan memvonisku dengan penyakit yang pernah diderita oleh ayah.
“ayahku
dok, beliau sudah meninggal beberapa bulan lalu, beliau menderita kanker otak”
“mmm,,
penyakit itu diturunkan padamu nak,” ucap dokter sambil memberikan hasil rontgen
otakku.
Sepulang
dari rumah sakit aku tidak langsung pulang, aku berhenti di danau pinggir kota,
menatap indahnya langit dengan gemerlapan bintang.
Indahnya
kelipan lampu-lampu, ahhh sejak kapan aku menjadi sosok yang sok romantic
seperti ini ?
“penyakit
itu diturunkan padamu nak,” kalimat dokter terus terulang di otakku, aku sama
sekali tak cemas ataupun khawatir, lagi pula hari ini rasa sakit itu samasekali
tak muncul, aku hanya bingung bagaimana memberitahu ini semua pada ibu ? aku
ngga mau jika harus membuat ibu menangis dengan kenyataan ini. Tapi
bagaimanapun ibu harus tau tentang semua ini, ya tuhan… beri ibu kesabaran dan
ketabahan.
Aku
menatap ke langit, menghadirkan wajah ayah dalam luasnya langit indah malam
hari,
“ayah,,
J
aku sakit,
Kata
dokter, aku mengidap penyakit yang pernah ayah rasakan, penyakit yang ayah
derita bahkan hingga hembusan nafas terakhir ayah, J
aku ngga sedih ataupun takut, karna aku tau ayah juga pasti tidak pernah
menyesali takdir tuhan yang telah digariskan untukmu, yang kini juga digariskan
untukku.
Karna
aku tau ayahku adalah ayah yang sangat luar biasa, dan aku juga akan menjadi
putri ayah yang luar biasa, yang akan terus tersenyum meski keadaan memaksa
kita untuk menangis.
Tapi
ayah… aku bingung, bagaimana caraku bicara pada ibu tentang ini semua ya ? ibu
pasti sedih, dan ibu pasti akan menangis, aku ngga mau ibu menangis yah, menurut
ayah bagaimana ??
Ayah…
tunggu aku di jannah yang kini kau tempati ya,, aku akan menyusulmu J”
Jam
8 malam aku sampai dirumah, hari ini terasa sangat bercahaya meski aku mengetahui
kabar buruk akan diriku, tapi entah… samasekali tak ada kesedihan yang aku
rasakan, semua seperti hari-hari biasa, hari yang sempurna.
“bagaimana
za ? apa kata dokter ?” Tanya ibu, beliau sepertinya sangat penasaran dengan
hasil cek up ku.
“aku
baik-baik saja bu” jawabku sambil menunjukan hasil rontgen otakku
Aku
terus tersenyum agar ibupun tidak menangis, tapi ketika ibu melihat hasil
pemeriksaan itu mata beliau langsung berkaca, tidak butuh waktu hitungan menit,
airmata ibu deras mengalir, aku sangat tidak tega membuat beliau menangis, ya
tuhan… hati ini merasa sangat bersalah.
“apanya
yang baik-baik saja za ?? apa benar ini hasil pemriksaanmu hari ini ?”
Suara
ibu hampir hilang ditelan sedunya tangisan beliau.
“ketika
tuhan masih mengizinkan Azwa untuk melangkah, itu artinya semuanya masih
baik-baik saja bu,,”
“Azwa…………”
ucap beliau sangat lirh bahkan hampir tak terdengar
“ibu…..
percaya,, aku akan baik-baik aja”
Aku
berusaha membuat ibu tersenyum, setidaknya aku harap ucapanku dapat mengurangi
rasa takut ibu akan kenyataan ini.
Aku…..
akan baik-baik saja… J
***
Hari
ini, hari pertama memulai rutinitas baru, menelan obat tepat waktu.
Aku
akan terus berusaha memaksimalkan hari-hariku, meski penyakit ini sudah mulai
terasa mengganggu hariku, konsentrasiku yang sering buyar, dokter bilang itu
salah satu aksi dari kanker otak. Tapi aku yakin aku pasti bisa untuk
presentasi minggu ini, tinggal 2 hari lagi, aku harus semangat, aku harus focus
dan sungguh-sungguh.
Efek
penyakit itu mulai terasa diseluruh organ tubuhku, penglihatan yang berkurang,
aku pastikan 2 hari lagi aku akan memakai ‘megane’
“obat
apa yang kau minum” Tanya Rizky
Dari
mana dia tahu aku minum obat ?
“obat
apa ? maksudnya?”
“yang
tadi kau minum, belakangan ini aku perhatikan kamu sering menelan obat itu”
“oowh,,
itu, bukan apa-apa, hanya vitamin biasa”
“syukurlah…”
Aduh,
perasaan apa ini ? karna akhir-akhir ini sering berdiskusi dengan Rizky, terasa
ada yang berbeda dalam diriku, terakhir aku ingat, aku merasakan perasaan ini lima
tahun yang lalu, yang sampai saat ini namanya masih tersimpan rapi dalam
hatiku. ‘Malik’ namanya malik.
Haha
kisah cinta yang tragis dan sungguh kasihan, tak ingin aku membahasnya lagi,
karna dia sampai saat ini aku belum pernah lagi menemukan nama yang mampu
mengganti posisi namanya dihatiku.
Rasa
indah yang pernah kurasakan, rasa yang sangat disembunyikan, rasa diam-diam
yang tersembunyi dan hanya satu langkah yang dilalui, “izinkan aku menunggumu
hingga batas waktu”. Ya… hanya langkah itu yang kulakukan dalam kisah cinta
ini.
Biarlah
tuhan yang mengetahui isi hati ini, dia
teman satu regu dalam tim pramuka SMA ku, teman berdiri disatu lapangan, teman dalam
perjuangan perlombaan dan teman yang kuletakan rapi-rapi dalam hati yang paling
dalam, setelah tuhan dan orang tuaku. Yang hingga saat ini masih kutunggu,
masih kutunggu kedatangannya untuk memintaku menjadi pendamping hidupnya, menunggu
dan berharap dia akan datang dan mengenalkanku pada tuhan bahwa akulah yang
akan menjadi bidadari surganya kelak. Ya tuhan… Malik…
***
Perkembangan
penyakitku terasa bejalan begitu cepat, semua keadaan tubuhku terasa berbeda.
Aku hanya bisa terus melangkah dalam keadaan ‘baik-baik saja’ ini. Terus
melangkah, hingga batas kesanggupanku.
Besok
adalah hari yang ditunggu semua anggota perusahaan, hari yang juga sangat
kutunggu, hari yang dirasa sangat penting dan harus menciptakan kenangan indah.
Malam
ini aku memutuskan untuk membuat surat pengunduran diri dari perusahaan, karna
aku sadar dengan keadaanku kini aku tidak akan sanggup untuk terus berada dalam
posisi yang sudah sangat nyaman kutempati itu.
Airmataku
mengalir, perlahan, setetes, dan mulai mengalir tak terbendung, dalam hati ada
sedikit rasa tak ikhlas untuk melepas semuanya, melepas sedikit demi sedikit
aktifitasku, ya tuhan, apa harus secepat ini aku melepas semuanya ??
Ini
benar-benar terlalu cepat, rasanya baru kemarin aku berada didepan banyak orang
atas permintaan presdir, namun besok semua harus berakhir.
Aku
berusaha agar besok semuanya berjalan lancar, aku ingin melangkah dengan
leluasa menuju kehidupan baruku, kehidupan yang tak mungkin lagi bisa sama
dengan jalan yang selama ini kutempuh.
***
Malam
rasanya berjalan dengan sangat cepat, sudah pagi, aku harus bersiap-siap. Hari
ini akan menjadi hari sangat bersejarah dalam hidupku, tegangnya jadi seperti
ketika graduate SMA dulu, hari ini harus menciptakan kenangan indah. Tidak
boleh mengecewakan semuanya.
Dengan
langkah pasti aku naik keatas podium dengan ditemani busana rancangan Rizky,
dengan lantang dan penuh kesungguhan aku mengcopy gaya dan intonasi Rizky
ketika dia melakukan presentasi dihadapanku, berbicara penuh semangat dan
keceriaan, layaknya orang sehat tanpa ada sakit yang dirasakan.
“baiklah,
demikian semua paparan tentang rancangan busana baru kami yang kami beri nama
‘salju dimusim panas’. Kesejukan salju dan indahnya musim semi yang berkolaborasi
dalam busana baru ini, kami yakin, ‘salju dimusim panas ini’ akan menjadi
trendmode tahun ini. Terimakasih.
Di
akhir kalimat aku mengucapkannya persis dengan yang Rizky ucapkan didepanku 2
hari yg lalu, intonasi tinggi penuh wibawa dan keyakinan, dan tentunya dengan
senyum yang selalu terpancar.
Tepukan
tanganpun langsung bersorak sangat ramai, para undangan dari beberapa
perusahaan sangat antusias dengan acara kami meski beberapa diantaranya
merupakan saingan berat kami dalam usaha bisnis yang sama.
Hingga
aku turun podiumpun suara tepuk tangan masih terus ramai, para wartawan memfoto
sang ‘salju dimusim panas itu’. Sorot kamera sangat banyak dengan kelipan
lampunya yang berkali-kali menyala. Ketika aku sampai dibawah presdir dan Bu
Dewi menyalamiku dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku hari ini, semua
teman-temanku terus berteriak
“selamat
Azwa
“good
job friend
“kamu
hebat, selamat yah…
Linda,
Yui, Rivan, Andri, Randy, dan semuanya tak hentinya memberikan selamat padaku.
Aku sangat senang dengan keberhasilanku saat ini.
“tuhan…
terimakasih atas semuanya, J hari ini semuanya berjalan lancar”
Aku
terus menguatkan diri untuk menerima kenyataan ini, jujur… ini semua sangat
sulit, sangat kejam.
Kenapa
harus aku ??
Ya
tuhan,, beri aku hati yang ikhlas, jangan biarkan hatiku menjadi sakit karna
menerima ujian ini, jangan biarkan aku menjadi Azwa yang tak terima jalan
takdir_Mu ya Rabb.
Mengingat
surat pengunduran diri yang kubuat semalam, airmataku rasanya sangat ingin
keluar, tapi tak mungkin aku menangis dalam suasana bahagia ini, aku tak
mungkin merusak suasana yang sudah terasa begitu sempurna. Aku tak mungkin
melakukan itu semua.
Dadaku
terasa makin sesak, mataku mulai berkaca.
Ah…
kepalaku terasa mulai memberontak, kenapa harus terasa disuasana seperti ini ?
Aku
segera mencari kursi dan langsung duduk, kepalaku makin terasa mengamuk,
sakit.. sangat sakit, seperti dibenturkan tembok baja dengan sangat keras
hingga otaknya ikut tergerus.
Hidungku…
lagi-lagi hidung ini mengeluarkan darah,
Aku
segera berlari ketoilet, Yui melihatku, dia terlihat sangat panik dan
menyusulku ketoilet, aku segera mengamil tissue sebanyak mungkin, segera
menghapus darah yang terus mengalir itu.
Kali
ini,, aku tak sanggup menahan ini semua, aku menangis sejadi-jadinya, sangat
sakit, benar-benar sakit, aku tak kuat menahannya, aku ga sanggup.
Yui
menerobos masuk dalam toilet, ia terlihat sangat tidak tega melihatku seperti
ini, air matanya langsung mengalir dengan deras melihat keadaanku. Ia
memelukku, mengusap airmataku, mengusap darah yang terus mengalir dari
hidungku. Aku tak mampu lagi bicara, aku hanya bisa terus menangis. Yui terus
memelukku, semakin erat,,
“Azwa…
kamu kenapa za… kamu kenapa ??” isaknya
Aku
hanya mampu diam seribu bahasa, Yui membawaku keluar dari toilet.
Bajuku
dan baju Yui kotor terkena darah hidungku,
Kepala
ini terasa mau pecah, yui terus menenagkanku, sedang teman-teman yang lain
tidak ada yang tahu keadaanku saat ini, mereka masih menikmati acara didepan
sana.
Tanpa
ada yang tahu, Yui langsung membawaku kerumah sakit, dia terlihat sangat
ketakutan dengan kondisiku yang semakin memburuk.
Mataku
terasa gelap, makin gelap, dan sangat gelap, aku tak lagi merasakan apapun.
Semua terasa menghilang.
Ketika
kusadar, aku tengah berbaring ditempat tidur dengan seprei putih, selimut putih
dan semuanya serba putih, sangat jelas tercium bau obat-obatan. Aku.. berada
dikamar rumah sakit.
Tapi,
tidak ada seorangpun disekelilingku, aku mulai panik, apa mungkin ini rumah
sakit ? kenapa tidak ada orang satupun ?
aku dimana ?
“za…
kamu sudah sadar ??”
Rizky
muncul dari luar ruangan, hatiku mulai lebih tenang, aku menarik nafas panjang
dan menghentakannya.
“kamu
kenapa za…” Tanya rizky khawatir
“mana
ibu ??”
“ibu
sedang dimasjid sama reza, yang lain lagi keluar beli makan,,”
“kamu
sendiri ?”
“aku
tidak mungkin meninggalkanmu sendiri”
Entah
kenapa kalimat Rizky terasa seperti air sejuk yang mengalir diatas kepalaku,
terasa begitu sejuk.
Aku
diam.
“kamu
kenapa ?” tanyanya lagi
“tidak
apa-apa J
aku baik-baik saja”
“kamu
tidak dalam keadaan baik-baik saja za,,” (gubrak) Rizky menggenggam jemariku,
aku ingin melapaskannya tapi hati ini menolak untuk melepaskan genggaman
tangannya.
Senang,
atau apa yang tengah aku rasakan kini, keindahan diakhir cerita. Mungkin ini
yang dimaksud kalimat itu.
“kamu
sakit apa ?”
“aku,
kanker otak.. dan sekarang perkembangannya sudah sangat pesat,”
Rizky
terlihat terkejut mengetahui tentang penyakitku, terlihat seperti tak tega
dengan apa yang ku alami, aku berusaha menghiburnya dengan cerianya ku.
“biasa
aja kali bu expressinya…” ledekku
“yee,,
ini juga biasa kali bu,,” jawabnya dengan canda
Aku
tersenyum dengan sedikit tawa
“sudah
lama ??” tanyanya
“ngga
tau, baru dapat vonis dokter kemarin, berarti belum lama.”
“kau
ini…”
“Rizky…..
“iya,,
“bisa
kamu lepaskan tanganmu ??
“ooow,,
sorry…”
Rizky
langsung melepaskan genggamannya, dia terlihat malu dan salah tingkah, aku
terus tersenyum melihat tingkahnya, sangat lucu.
“kenapa
tertawa ? ada yang lucu” tanyanya sinis, aku semakin tak kuat menahan tawa
“tidak,
biasa aja..” jawabku
Tiba-tiba
aku teringat lagi dengan surat pengunduran diriku, aku berusaha tenang dan
sabar, berusaha ikhlas dan yakin, inilah jalan tuhan yang tebaik, aku tau tidak
semua orang bisa jadi seberuntung aku, jadi mungkin cobaan ini juga merupakan
keberuntungan yang tuhan turunkan untukku, anggaplah semua ini anugerah, agar
semuanya bisa menjadi kebaikan.
Aku
diam termenung.
“Azwa
?? kenapa ? ada yang sakit ? Tanya Rizky
“Tidak,,
hanya teringat sesuatu.”
“apa,
bisa ceritakan padaku ?”
Sebenarnya
aku tak ingin temanku tau tentang surat pengunduran diri itu, termasuk Rizky,
tapi entah aku ingin memberitahukannya pada Rizky
“hm…. Aku
sudah membuat surat pengunduran diri dari perusahaan, mengingat kondisiku yang
seperti ini rasanya tak mungkin lagi aku bisa mnduduki jabatan yang aku pegang
sekarang. Hmmh,, kadang…”
“kadang
merasa tak ikhlas ??” Rizky memotong kalimatku,
Dari
mana ia tau aku akan mengucapkan kalimat itu,
“hehehe,,
iya,, kadang merasa tak ikhlas, tapi aku tau, yang tuhan gariskan untukku,
itulah yang terbaik, untuku, dan untuk semuanya.”
Rizky
terasa menghangatkan suasana yang tengah membeku, ya.. suasana hatiku, tapi
terlalu cepat jika mengatakan ini perasaan yang sama dengan yang aku rasakan
pada Malik, ya,, ini beda, ini hanya rasa kenyamanan hatiku yang tengah sepi.
Ketika
aku tengah berbincang dengan Rizky, Ibu dan reza datang, tak lama teman-temanpun
berdatangan, suasana jadi ramai dan hangat, tak sedikit dari mereka meledekku
dengan rizky karna ketika mereka datang aku memang hanya bersama rizky, bahkan
dokterpun belum ada yang menengok ke kamarku.
***
Hari
sudah mulai malam, teman-teman sudah mulai pamit satu persatu, aku sangat
bersykur mereka semua peduli padaku, bahkan Bu Dewipun ada, tadi baru pulang
jam 10 malam,
Ibu
sudah tidur, Reza masih berbincang dengan Rivan dan Rizky diluar kamarku,
kasihan ibu, pasti beliau sangat sedih melihat keadaanku yang seperti ini,
beliau terlihat sangat lelah, aku tak tega melihat beliau. Beliau, ibu luar
biasaku, satu hal yang sangat aku kagumi dari beliau, beliau tetap setia
mempertahankan cintanya pada ayah, ketika sebelum menikah dengan ayah, ibu
sudah tahu ayah menderita kanker otak, ibu sudah tahu dokter sudah memvonis
usia ayah tidak lama lagi tapi beliau tidak pernah sedikitpun berfikir untuk
meninggalkan ayah, bahkan ketika ayah menjauh darinya karna merasa tak pantas
untuk ibu, ibu merasa sangat kecewa pada ayah,
“aku
mencintaimu tidak hanya ketika kau baik” itu ucap ibu pada ayah ketika ayah
menjauhi ibu, esoknya ayah langsung datang kerumah ibu untuk melamarnya,
sungguh cinta yang sangat mengharukan.
3
hari dirawat, Hari ini, aku sudah boleh pulang dari rumah sakit, aku ibu dan
reza sampai dirumah jam 10 pagi, ibu segera membereskan rumah istirahat. Reza
kerja, aku hanya berbaring dikamarku, sangat tenang, ingat ketika liburan
sekolah, hari tanpa kesibukan apapun, santai dan begitu tenang, tidak ada rumus
matematika yang meneror otak, tidak ada sejarah-sejarah yang minta di ingat,
tidak ada jurnal-jurnal yang menunggu di balance. J
tenteram dan tenang.
Jam
2 siang, ada yang mengetuk pintu rumahku, berkali-kali mengucapkan salam dan
mengetuk pintu tapi sepertinya ibu tidak mendengarnya, mungkin ibu masih tidur.
Dengan
badan yang masih sangat lemas aku berjalan keluar, menengok lewat jendela, aku
melihat Rindy, Yuna, Yuni dan sepertinya ada yg lain lagi diluar. Haaaaa
teman-teman SMA ku,, aku segera membukakan pintu, sangat merindukan mereka.
Ada
malik, entah kenapa hati ini merasa sangat senang, rasa yang selama ini
tersimpan terasa membeludak, aku baru sadar perasaan ini memang masih ada, tak
pernah hilang sedikitpun.
Tapi
ketika malik masuk, dia bersama seorang perempuan, diam-diam aku bertanya pada Yuni,
“dia
siapa ?”
“ceweknya
malik”
“oowh,,,”
“kenapa
? cemburu yaaa….” Yuna meledekku
Aku
hanya tersenyum meski jujur hati ini terasa sesak, kami bersenda gurau,
,menceritakan kisahkisah SMA dan lainnya, mereka semua bertanya padaku aku
sakit apa
“lu
sakit apa za ??” Tanya Rindy
“hehe
sakitnya orang galau,, wkkwkw”
“haha…
Azwa galau…”
“aiihhh,,
galau sama siapa kamu ?” Tanya malik dengan tawanya
“hahaha,,,
kan sma kamu a”
“ehem-ehem….
Hayooo ada apa ini ??” ucap Sandra ceweknya malik
“hahaha,,,
jadi ingat dipramuka dulu,,”
“hehehe….”
Sandrapun
ikut tertawa dan berbaur dengan teman-temanku.
Hingga
mereka pamitpun, tidak ada yang mengetahui benar-benar penyakitku.
Aku
sangat senang mereka semua masih begitu peduli padaku, terimakasih tuhan.
Malik,
ya tuhan salah kah atas perasaan ini ? hati ini terasa tersayat melihat
kenyataan dia bersama orang lain,penantianku yang selama ini terasa terbalas
oleh pecahan beling tajam yang dilempar sangat kejam kearahku, semua kesetiaan
ini, harapan pada satu cinta yang selama ini aku pertahankan, komitmen satu
cinta pertama hingga akhir. Air mata dan kesedihan terasa membunhku, aku terus
mengurung diri dikamar setelah mereka berlalu. Ya tuhan kenapa harus seperti
ini jalannya, aku tidak kecewa atas ujian penyakit ini, tapi kenapa aku merasa
sangat kecewa ya tuhan ketika menerima kenyataan kejamnya jalan kisah cinta
dihatiku kini, kenapa aku harus menjadi orang bodoh yang menunggu, menunggu dia
yang bahkan samasekali tak pernah tau tentang isi hati ini. Ya rabb, kenapa
airmata ini tak bisa kuhentikan, untuk apa aku menangis ??
Isakan
tangisku terdengar hingga keluar kamar, ibu mendengarnya dan langsung masuk
kekamarku,
Dengan
sangat cepat beliau memelukku, air matanya deras mengalir.
“kamu
kenapa nak ?? sabar nak.. sabar,, jangan seperti ini…” ucap ibu dalam tangisnya
“ibuuu………………..”
Aku
hanya mampu mengucapkan kata itu,, ibu,, ya hanya kata itu yang mampu aku
ucapkan, aku tak lagi bisa bicara apapun.
“Azwa………….”
Pelukkan ibu terasa makin kencang, beliaupun menangis sejadinya, terlihat jelas
beliau sangat tidak tega melihatku menangis.
Tangisanku
semakin menjadi, rasanya hanya dengan menangis hatiku mungkin akan merasa lebih
tenang, hati cinta dan kesetiaan tanpa wujud yang selama ini aku jaga dan aku
pertahankan, kenapa harus seperti ini ?? ya rabb….
Aku
terus menangis dalam pelukkan ibu, berkali-kali ibu menenangkanku, kalimat-kalimatnya,
suara-suaranya.
Hingga
aku tertidur dalam hangatnya pelukkan kasih sayang ibu,
***
Satu
bulan telah berlalu, satu bulan dengan hidup yang menurutku tanpa aktifitas
karna selama ini hidupku terasa sangat sibuk, mungkin ini memang jalan tuhan yang terbaik, berkat sakit ini, aku jadi
beristirahat dirumah, terasa ringan tanpa ada yang mengganggu, tak perlu
dipusingkan dengan laporan-laporan yang dateline.
Hm…
tapi aku rindu kegiatan sibukku, aku rindu berada dikantor, duduk dan
sibuk-sibuk dengan kertas laporanku, rindu Linda menjahiliku, rindu bu dewi memintaku
menjadi pembicara, aku rindu semuanya, sampai saat ini jelas terasa aku belum
ikhlas melepaskan semua kesibukanku.
Aku
duduk didepan rumah dengan laptopku, mulai menyusun kata-kata hingga terbentuk
kalimat, dilanjutkan hingga menjadi sebuah teks bacaan. Diam sendiri, asyik
dalam kesendirian dan kesepian hati ini, sepi dari teman-teman, sepi dari ibu,
ayah, belakangan hanya pada tuhan aku ingin bicara, karna tuhan adalah
sebaik-baik penjaga rahasia.
Ibu
menghampiriku dengan membawakan obatku, beliau tau aku lupa minum obat.
Cepat-cepat aku mengclose tulisan yang tengah aku rangkai.
“hayooo,,,
nulis apa ?? ko ibu datang langsung diclose ??” ledek ibu
“hehe,,
bukan apa-apa bu…”
“ini,,,
kamu lupa minum obat yaa…”
“iya
bu J”
Aku
meminum obat segera, ibu masih diam disampingku, beliau memandang kosong kearah
kebun rumahku, kebun indah bagai taman di jannah,, dulu ayah yang membuat dan
merawatnya, ayah pernah bilang “pasti suatu saat nanti, kita akan bersama
dikebun yang indahnya sangat jauh lebih indah dari kebun kita ini,,” aku Tanya
“dimana yah ? aku ingin kesana,, bersama ayah..” ayah menjawab “nanti,, disyurganya
allah za…”
“disyurganya
allah za….” Suara ayah terasa terdengar jelas.
Aku
ikut memandang kearah kebun penuh bunga indah tersebut, perlahan ibu membuka
mulutnya.
“ibu
tau, bagaimana perasaan kamu saat ini, pasti kamu sangat rindu hari-hari
sempurnamu sebelum kau divonis dengan keadaan ini, ibu juga tau pasti kau
merindukan semuanya, disaat seperti ini pasti kamu lebih sering merindukan
ayah, karna kamu terus berfikir kenapa aku yang terkena penyakit yang ayah
pernah derita, dan karna itu juga, kamu lebih sering bercerita tentang isi
hatimu pada ayah.”
Ibu
melirik kearahku dengan senyum indahnya.
“tapi
yang harus kamu ingat dan terima za… kini ayah tak bisa lagi menjawab semua
curahan isi hatimu, meski beliau mungkin mendengar teriakan hatimu dijannah
sana tapi beliau tak lagi ada disampingmu yang siap mendengar semua keluh
kesahmu. Za pernah bilang ke ibu “isi hati itu, biar tuhan dan diri sendiri aja
yang tau” iya,, ibu tau itu juga benar, tapi saat ini, tolong bicara pada ibu
nak, ibu ada disamping kamu, ibu siap mendengar curahan hatimu, hatimu yang
gembira, hatimu yang bersedih, hatimu yang kesepian, hatimu yang kesal, marah,
silahkan bicara pada ibu nak,, ibu ada disini…”
Ya
rabb,, jadi selama ini ibu merasa aku tak acuh padanya,, betapa dosa diri ini.
Ibu ingin aku bicara padanya, karna setelah hari-hari sulit ku lewati aku lebih
sering diam dan bicara dengan penaku, bahkan ke reza pun tidak.
“kamu
ada masalah ?? ada yang sedang kamu fikirin ? cerita pada ibu nak…”
“hm…
ayah itu cinta pertama ibu bukan ?”
Ibu
tersenyum-senyum mendengar pertanyaanku, aku kan jadi malu, mukaku terasa
menjadi tomat. Merah.
“hm….
Anak ibu lagi jatuh cinta yaa… siapakah ? Rizky ??” ledek ibu
“iihh,,
ibu,,, jangan diledek gitu atuh,,”
“iya,
iya,,,
Hm…
ayah itu cinta pertama ibu, sekaligus cinta terakhir ibu, cinta yang kami
tekadkan akan ada hingga kami bersama dijannah nanti, siapapun yang akan pergi
lebih dahulu, kami janji akan saling menunggu disisi tuhan sana..”
Hm…
aku iri mendengar paparan cerita ibu, aku juga ingin seperti itu.
“jika
Azwa menginginkan yang seperti itu, bisa ngga bu ?
“siapa
orangnya nak ?
“hm,,
salah ngga sih bu jika aku bersikap seperti ini, aku ingin cinta pertamaku itu
ya,, cinta terakhirku juga, tapi..
“tapi
apa..?
“dia,
orang yang aku cintai selama ini tidak pernah samasekali tahu tentang isi
hatiku, bertahun-tahun aku hanya berharap pada tuhan dia akan datang dan
memintaku menjadi pendamping hidupnya, dan setelah dia menjengukku beberapa
waktu lalu, aku menerima kenyataan pahit tentangnya, dia tengah menjalin
hubungan dengan orang lain, orang yang mungkin dia cintai,
“hmm…
teman SMA ??” tebak ibu
“iya
bu,, namanya Malik..
“kamu…
sudah lama memendam perasaan indah itu ?
“sejak
aku kelas 1 SMA, kalau dihitung,, sudah hampir satu, dua, tiga, empat, lima…
ya, hampir lima tahun bu..”
“hmmm,,,
kasihan anak ibu,,,” ibu kembali memelukku.
“jadi
yang kamu menangis keras waktu itu…
“iya
bu,,, bukan karna aku tak terima atas penyakit yang tuhan turunkan untukku ini,
tapi karna entah kenapa aku sangat sakit mengetahui kenyataan malik bersama
orang lain bu,,,”
Ibu
melepaskan pelukkannya. Beliau memandangku pekat, mata indah dan tenang
“dengar
putri ibu,,
Malik
itu bukan tuhan, yang tau keinginan kamu tanpa kamu beritahu, yang tau harapan
kamu, yang bisa mengetahui cinta kamu, perasaan kamu tanpa kamu bilang,
“aku,,
Azwa… putri ibu,,
Tak
mungkin aku menyatakan perasaanku lebih dulu padanya, nanti kalau dia tidak
memiliki perasaan yang sama bagaimana… hmm… kan malu bu…”
“hehehe,,
iya,, ibu ngerti nak,
Memang
tak mungkin menyatakan perasaan lebih dahulu”
“tapi
nungguin dia bilang suka juga akunya ga sabar bu…” aku memotong kalimat ibu
“yakin
ngga sabar ? buktinya putri ibu ini sudah menunggu hingga hampir lima tahun,,
lima tahun bukan waktu yang sebentar looh”
“hehe..
iya yah,, aku sudah menunggunya lama…
“anak
ibu yang manis,,, ibu salut sama kamu, yang bisa mempertahankan rasa cinta
hingga begitu lama, rasa cinta yang berdiri seorang diri, itu bukan hal mudah
nak,,
Bagaimana
dengan keadaanmu selama ini ? kamu pasti sangat tersiksa yah ?
Sekarang
belajarlah untuk melepasnya nak, percayalah, jika nanti memang dia yang Tuhan
berikan untukmu, pasti dia akan datang padamu, dan memintamu menjadi pendamping
hidupnya, hidup dibumi hingga diakhirat kelak, dia akan datang dan mewujudkan
harapanmu tetap berada pada satu cinta yang telah lama kau simpan rapi-rapi
dalam hatimu.
Tapi
ingat, kini dia bersama orang lain, mungkin ini saatnya kamu melepasnya,
sedikit demi sedikit menghapus perasaanmu padanya, sudah terlalu banyak waktu
yang kau buang sia-sia nak, memang hingga kapan kau akan terus menantinya ? menanti
seseorang yang bahkan sama sekali tak tahu kamu tengah menunggunya… ibu,, ingin
kamu bahagia nak, bisa kan kamu melupakannya ??”
Airmataku
menetes mendengar semua ucapan ibu
“hm,,,
ibu benar, sampai kapan aku akan menunggunya ? sampai tuhan memberitahunya
bahwa aku mencintainya ??” dlam hatiku.
“ibu……”
“yang
kuat ya nak…”
Aku
memeluk ibu sambil terus menangis.
Melupakannya
dan melupakan cinta ini, mungkin itu langkah terbaik yang harus aku tempuh.
“memang
selama ini tidak ada yang bilang suka ke kamu ??” ibu mulai meledek lagi
“hehe,,
ibuu,,,
Kalau
itu sih ada aja bu, sejak masih sekolah, bahkan ketika kerjapun ada, tapi
entah,, aku malah memilih pada satu cinta yang aku harapkan, satu cinta yang
kelabu, tanpa wujud dan suara.”
Aku
menarik nafas panjang, sesak kembali terasa. Melepas cinta yang selama ini
tersimpan rapi dalam relung hatiku, kalian juga pasti tau, itu bukan hal yang
mudah.
***
“izinkan
aku menunggumu hingga batas waktu” mungkin inilah batas waktu itu, meski sulit
tapi aku yakin aku mampu, melepaskanmu dari ingatanku, dan mengubur dalam-dalam
cinta yang selama ini bersemayam mencari hidupnya.
Kisah
ini terasa sangat kejam.
Memulai
lembaran baru dengan kisah yang benar-benar baru, cinta baru dan jalan baru,
tujuan baru dan pilihan baru.
Setelah
mulai aktif kuliah dengan jadwal baru, kelasku pindah menjadi ekstensi sabtu
minggu, sisanya berdiam diri dirumah, aku sangat ingin kembali bekerja, tapi
ibu melarangnya, alasannya sih karna takut keadaanku bertambah buruk, tapi aku
bosan terus dirumah seperti ini, ibupun menyarankanku menjadi seorang guru,
“kalau
mengajar, tidak terlalu banyak menyita tenaga dan waktumu seperti dikantor” itu
alasan ibu,
Tapi…
menjadi seorang pengajar ?? sama sekali tak pernah terlintas dalam benakku,
kenapa ibu bisa berfikir kearah sana ?? berhadapan dengan anak-anak kecil yang
nakalnya tidak terbatas,, ya tuhan.. apa itu yang dimaksud tidak terlalu banyak
menyita tenaga ?? sudah jelas itu lebih melelahkan dibanding duduk manis dengan
laporan-laporan dikantor.
Aku
terus memikirkan saran aneh ibu itu, aku bertanya pada Reza, dan masa reza juga
setuju dengan saran ibu ?? apa yang sedang mereka fikirkan ??
***
Untuk
selanjutnya hari-hariku terasa berjalan begitu berat, keadaan yang memburuk,
aktifitas yang membosankan, cinta yang tak sampai membuatku tak memiliki
semangat untuk terus melangkah, terasa sangat tak sanggup melangkah dengan
kelabu seperti ini, bahkan saat ini semua tujuanku yang telah kulepas belum
memiliki pengganti, terasa melangkah
tanpa tujuan, tanpa arah akan kemana aku, terus melangkah dijalan yang gelap.
Hidup, namun terasa mati.
Keadaan
ini terasa lebih menyiksa dibanding penyakit yang siap membunuhku secara
perlahan.
Aku
mulai merasa jenuh dan tak sanggup dengan kegiatan hidup yang seperti ini, aku
memutuskan untuk kembali bekerja, tapi ketika aku menyampaikan keinginanku ibu
langsung membantahnya.
“sekarang
kamu lihat keadaanmu nak,, kamu sakit, kamu sakit, ibu ngga mau kamu merasa
lelah, ibu ga mau kamu semakin sakit, untuk kali ini tolong dengar kata ibu
nak,, ibu sayang sama kamu, ibu ga mau putri ibu kenapa-kenapa, ibu ngga mau…”
Aku
baru bilang “bagaimana jika aku kembali bekerja ?” ibu suda histeris seperti
itu, beliau berteriak dan menangis, entah baru kali ini aku merasa biasa saja
melihat ibu menangis, tidak seperti biasanya yang sangat tak bisa melihat ibu
menangis dan mengeluarkan airmatanya.
“aku
tau, ibu sayang sama aku, reza juga, ayah juga, tapi apa ibu merasakan yang
sekarang tengah menyiksaku ? bukan penyakit ini bu, tapi keadaan ini, ibu tau
?? diam, minum obat teratur, kuliah yang
hanya sabtu dan minggu, sisanya ?? meratapi keadaan ? ini jauh dari baik-baik
saja bu… aku lelah, aku ingin melangkah, aku ingin sibuk, aku ingin berteman,
aku ingin aku ada disana,, menjadi Azwa yang dulu meski tubuhku tak lagi sama
dengan yang dulu,, aku lelah bu,, aku lelah,, aku tersiksa seperti ini…
Apa
ibu tega melihat putri ibu ini hanya diam dan terbunuh secara perlahan tanpa
ada yang diukir sebelum kematiannya ? dulu ayah tidak ibu perlakukan seperti
ini, ayah tetap berjalan dengan kegiatannya, tapi kenapa aku harus diperlakukan
seperti ini ? tdk boleh ini, dilarang itu, ibu tidak percaya aku bisa ? ibu
ngga yakin aku mampu ?? tolong bu,, untuk kali ini, ibu yang dengar teriakan
aku,, aku juga sayang sama ibu, aku tau ibu takut aku sakit dan pergi,, tapi
yakinlah,, aku sanggup bu,, aku mampu…”
Ya
tuhan,, kenapa harus mengganggu,, sakit kepala ini menyerangku perlahan,
semakin sakit dan menusuk, evitaksis… aliran darah yang mulai terasa, keadaan
penat dan setress ini membuat si pembunuh itu semakin bebas berjalan membunuh
tubuhku, pernah dia berhasil mengalirkan darah dari mataku, terasa sangat
leluasa melangkah.
Yang
membuat suatu penyakit berkembang cepat itu bukan karna seseorang lelah, tapi
karna dia sering membuat hatinya sakit dan terlalu sering bersedih meratapi
keadaannya.
Aku
tidak mau menjadi mereka yang seperti itu, aku tak mau terbunuh secara perlahan
tanpa makna, dan menjadi kenangan yang seolah tak pernah ada.
***
Satu
bulan, dua bulan, tiga bulan, midtest, uas, ujian semua berjalan tanpa warna,
hidupku terasa kelabu, bahkan warna putihpun tak ada. Berkali-kali aku meminta
izin pada ibu untuk kembali bekerja dan berkali-kali pula ibu menolaknya,
bahkan sangat marah ketika beliau merasa aku sudah keterlaluan.
Dengan
seringnya pemberontakan hati ini, kanker itupun semakin sering memberontak
dalam otakku, tekanan ini berfrekuensi sangat tinggi.
Tiap
malam tak hentinya aku menangis, hingga sudah lagi tak merasakan bahwa aku
adalah seorang Azwa.
Kejenuhan
dan rasa sepi terus menghantuiku, bahkan pada tuhanpun aku mulai melupakan_Nya.
Ketika dulu aku terus menghadirkan nama tuhan dalam hati dan langkahku, kini
semua itu terasa lenyap.
Pada
saat seperti ini aku rindu ayah,, aku ingin ayah ada disampingku, menemaniku,
menyemangatiku. Jika saja ayah masih hidup pasti beliau akan mengizinkan aku
kembali bekerja, melangkah dengan pilihanku, melangkah meraih tujuanku. Tapi
sekarang ? apa yang bisa aku lakukan ? semua dibatasi, ini itu dilarang, kadang
berfikir untuk apa hidup jika untuk melangkah menuju harapan dan tujuan hidup
sendiripun tak lagi mendapatkan izin.
Beberapa
minggu yang lalu, Reza Mulai masuk kuliah, aku iri melihat harinya yang begitu
bahagia, dia bisa pergi kemana saja ia mau.
aku
benar-benar tak sanggup dengan jalan yang sunyi seperti ini, akupun manusia,
yang membutuhkan manusia lain disampingku.
Hidup
yang terasa sangat sunyi meski banyak orang lain disekelilingku.
***
Setelah
lama dalam hariku yang begitu sunyi, hari ini baru lagi rasanya aku merasakan
kedamaian dan ketenangan, hati ini terasa sangat tenang ketika Malik
menghubungiku. Tadi pagi dia menelphoneku, meski dia hanya sedikit berbasa basi
menanyakan keadaanku, meski dia tak tau apa yang terjadi padaku, tapi itu semua
tak penting, yang penting aku telah mendenggar suaranya lagi, suara dia yang
telah lama aku sembunyikan dalam hati dengan sunyinya suara, dalam diam.
***
Sedih
itu ngga ada gunanya, dia hanya akan memakan kebahagiaan dan ketenangan, ya…
malik bilang seperti itu padaku, hari ini hidupku terasa berwarna kembali, rasa
syukur dan ikhlas yang selama ini dibawa lari oleh iblis perlahan terasa
dikembalikan oleh tuhan. Dikembalikan padaku, dan pada hati ini, tersenyum
terasa lebih mudah.
Aku
tau, mungkin salah beranggapan ini karna malik, karna tanpa tuhan malik tak
akan mampu apapun, apalagi mengembalikan senyum dan warna hariku. Biarlah tuhan
menjaga cinta yang telah lama terpendam dan pernah berusaha untuk dilupakan
ini. Meski dia datang bukan untuk menawarkan cinta padaku, tapi aku yakin
dengan anggapan positif semua akan jadi indah.
Bahagia
dan ketenangan, aku rasa itulah obat paling mujarab untuk semua penyakit, meski
mungkin tidak menyembuhkan, setidaknya itu bisa jadi pencegah perkembangan yang
terlalu cepat.
Besok
hari sabtu, jamnya aku kuliah, Azwa akan belajar dengan serius dan tidak lagi
terus menyalahkan wktu seperti kemarin-kemarin, Azwa akan bangkit bu,, dan
kembali menjadi Azwa yang dulu J meski aku yakin, sesuatu yang telah
berubah itu tidak akan bisa balik atau kembali seperti semula
“ibu….”
“iya
Za…”
“Azwa
mau coba melamar jadi pegawai sekolah bu…”
“Zahwa…
J
ibu senang dengarnya,, kapan kamu mau coba kerja lagi”
“lebih
tepatnya belajar bu,, hehe klo kerja mah dikantor…”
“J
iya,, ibu ngerti….’
Yakin
dengan langkah yang kita ambil, yakin tuhan meridhoi kita dalam langkah itu,
anggap langkah itu baik, karna dia memang baik, insya allah tuhan pun akan
mengizinkan kita melangkah.
***
Meski
pendidikan S1 ku (belum lulus itu juga :D) bukan berbasis pendidikan, tapi
tidak sulit kesempatanku diterima bekerja disekolah sebagai seorang pengajar.
Aku memulai dari tingkat terendah, TK, ya aku mengajukan diri menjadi bagian
keuangan di Sekolah Taman Kanak-Kanak Pertiwi 1 karna itu memang keahlianku,
tapi saat itu tidak lagi dibutuhkan bagian finance, malah dibutuhkan seorang
pengajar, guru didalam kelas, aku sempat meminta waktu untuk berfikir,
bagaimana mungkin menjadi guru ? pengajar, aku sama sekali tidak mempunyai
pengalaman berhadapan dengan anak-anak, tapi tuhan dan ibu meyakinkanku bahwa
aku bisa, maka aku terima tawaran itu.
Hari
ini, senin, hari pertamaku mengajar, jika tidak dicoba bagaimana bisa tau mampu
atau tidak.
Kadang
aku tersenyum sendiri, dari seorang bagian finance dengan penghasilan yang
lumayan, sekarang hanya menjadi seorang guru TK dengan penghasilan jauh dari sebelumnya, bahkan setengahnyapun
tidak. Tapi aku yakin inilah jalan terbaik yang tuhan siapkan untukku. Insya
allah.
“pagi
anak-anak..” sapaku ketika memasuki ruang kelas,
“selamat
pagi bu guruuuuuuuuuuuuuuu…” jawab mereka kompak
Anak-anak
kecil itu duduk dengan rapi dan tenang, sangat jauh dengan yang ada dibenakku,
sebelum masuk kelas aku sempat mendengar keributan dan suara bising dr dalam
kelas, saat itu aku menarik nafas panjang karna aku yakin pasti ketika aku
masuk anak-anak itu sedang bercanda dengan teman-temannya, ada yang jahil, yang
menangis diganggu temannya, rebutan mainan, rebutan buku, rebutan tempat duduk,
dan pokoknya semua keaktifan mereka dah
( -_-‘)
Tapi
semua berbeda,
Mereka
begitu tenang, aku terharu melihatnya, aku telah berburuk sangka pada mereka,
tapi ketika langkah pertama aku memasuki kelas, wajah-wajah suci mereka tengah
tersenyum bercahaya penuh ketenangan, sedetik terfikir “ini yang aku butuhkan
selama ini”, ketenangan dalam kesucian.
Aku
memulai kelasku, berkenalan dengan mereka, belajar, memulai membaca, menulis,
menghafal, bernyanyi, teriak bersama, tertawa bersama, hampir semua anak aktif
dan riang, suara-suara kecil mereka yang nyaring terasa begitu merdu, mereka
terasa sangat hangat, aku terbawa suasana riang mereka, ini benar-benar hidup,
bagai waktu yang penuh makna. Tanpa terasa kelaspun selesai dan mereka harus
kembali kerumah masing-masing.
Rasanya
tak ingin berpisah dengan mereka, mereka seperti pembangkit semangat hidupku.
Kesan
pertama menjadi seorang guru TK “Hidup”, ya.. itu yang aku rasakan.
Bahagia
dan tenang, semoga ini memang jalan terbaik tuhan yg ditunjukan kepadaku.
***
Satu
bulan dua bulan tiga bulan, semua berjalan begitu cepat. Sudah 3 bulan aku
menjadi seorang pengajar, hidup yang penuh warna. Kini aku tidak hanya mengajar
TK, aku sudah mulai mengajar SD Juga.
Tanpa
terasa pun aku kembali merindukannya, suara malik yang pernah membagkitkan
semangatku,, ingin melihatnya, ingin bertemu dengannya,, bagaimanapun aku
adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan berbeda untuknya, meski terus
dipendam dan disembunyikan, tetap tak bisa bohong pada tuhan kalau saat ini,,
aku merindukannya.
Dulu
ketika SMA bisa dengan mudah menghubunginya, banyak alasan yang bisa diucapkan
dan diberikan, tapi kini ?? masa mau bilang “aku kangen kamu” atau “tidak,
hanya sedikit merindukanmu”,, ohh.. nooo..
Biarlah
rasa ini merasakan rindunya dalam diam.
Sepi,
sunyi dan kesepian, semua sangat terasa dalam hati yang sendiri, meski tuhan
pasti ada dengan ribuan anugerah nya, dengan sentuhan ketenangannya, tapi entah
diri ini masih saja merasa sangat sepi, hariku terasa sunyi, bagai tak punya
tujuan hidup, tak punya rasa, dan tak punya cinta untuk seseorang disana, entah
siapa itu.
Hati
ini masih hanya bisa diberikan pada tuhan, keluarga dan anak” ku disekolah,
sisanya ?? masih, dan masih,, mengharapkan cinta yang sama sekali tak pasti dan
tak tampak.
Rizky
sering menghubungiku, bahkan sering juga mengajak bertemu, tapi berbeda rasanya
jika itu adalah Malik, ya rabb… Apa harus seperti ini ??
***
“Ibu
guru kemarin itu siapa ??” Tanya Rahma, siswiku
“Yang
mana cantiik ??
“Itu
ibu,, yang jemput ibu,, Pacarnnya yaaa ??”
Haha,,
aku diledek sama anak kelas 3 SD,, Mungkin dia lihat rizky yang Datang
kesekolah kemarin sabtu, dia mengajakku bertemu, sudah lama ngga ketemu
katanya.
“Ooowh,,
itu teman ibu waktu kerja dulu,,”
“Ciyeee,,
ibuuu”
Gubraak,,
teman” nya ikut meledek,,
Aku
senang, sangat senang, mendengar mereka tertawa riang, bercanda, bermain. Terasa menjadi seorang ibu. Hohoho
Bahkan
ketika mereka ribut, berantem, sampai ada yang menangis pun entah kenapa aku
merasa bangga dan senang. Merasa mereka telah mengerti apa milik mereka yang
harus dipertahankan dan dijaga, itu untuk tingkat saat ini, tidak seperti itu
caranya jika usia mereka beranjak kelak.
Rizky,,
satu nyawa penuh arti yang diturunkan tuhan untuk menemani hariku yang terasa
kosong. Mungkin memang fisiknya kosong, tapi tidak dengan jiwaku, nama itu yang
berada dibawah deretan tuhan, nabi dan keluargaku masih tetap kuat dan tenang
tinggal disana, dihati yang terlihat kosong, cinta ini masih tetap ada untuknya
meski ibu menyarankan untuk membuangnya. Mungkin memang terbilang putri yang
patuh, tapi rasanya belum patuh untuk perintah yang satu ini,, melupakannya dan
menghapus semua harap dan perasaaan ini. Maafkan aku ya buu, belum bisa
memenuhi saranmu.
***
Hidup
berjalan dengan sangat cepat, waktu yang berlalu, kisah nyata yang manis dan
pahit, aktifitas, cita-cita, pencapaian, harapan dan takdir tuhan mewarnai
semua jalan hidup anak adam.
Bahagia,
ya.. bahagia adalah obat terbaik yang tuhan ciptakan untuk manusia yang
menderita penyakit terparah sekalipun, perasaan itu yang akan mengobati,
mencegah bahkan menghilangkan penyakit yang sudah divonis tidak bisa
disembuhkan lagi.
Aku
selalu menghadirkan perasaan itu dalam setiap lngkahku, karna memang itu yang
tuhan berikan dalam derita dan nikmat ini. Hari ini terasa sangat bahagia,
seperti ketika lulus SMA 3 tahun lalu, beranjak ke semester 7, mulai mengajar
SMP dan akan memegang kelas SMA. Terasa benar-benar menjadi seorang pengajar.
Hari
ini, tgl 20 Mei 2014 adalah hari ulang tahunku yang ke 21, rasanya ini adalah
usia sangat muda untuk pencapaian dan pengalaman yang telah aku miliki sampai
saat ini, juga untuk ujian berat penyakit ini, yaa… masih terlalu muda untuk
ini semua.
Hari
ini aku baru sadar, yang saran ibu ini adalah saran terbaik, aku lebih banyak
istirahat dan sangat jelas terasa, penyakit ini sangat jarang memberontak,
terasa telah hilang.
Hari
ini aku memberanikan diri untuk menghubungi Malik, entah kenapa, atau memang
perasaan ini masih ada, aku ingin dia ingat akan hari lahirku ini, meski Rizky
dan teman” ku di kantor dlu sudah banyak yang mengucapkan, meski Reza, adikku
itu sudah membawakan kue tart besar untukku tapi tetap saja, hati ini ingin
Malik ingat dan mengucapkan kalimat selamatnya.
Terserah
dia anggap dan bilang apa, apa salah ?? hanya sekali saja, izinkan aku bahagia
dengan indahnya perasaan yang menyiksa ini.
Jam
8 malam, teman-temanku kantor lamaku sudah kumpul dirumah, bermaksud merayakan
hari bahagiaku, hari lahirku yang ke 21. Aku bahagia, berkali-kali syukur
kupanjatkan pada tuhan meski ada perasaan takut, takut bagaimana jika
kebahagiaan ini mengantarkanku kerumah sakit seperti dulu ? takut jika
penyakitku memberontak disuasana bahagia ini, dan juga takut, aku masih merasa
takut jika harus pergi sekarang meniggalkan mereka semua, menyusul ayah.
Suasana
malam ini terasa hangat, penuh keindahan dan keramaian, teringat indahnya milad
ke 17 ku ketika SMA, Malik yang pertama mengucapkan “Happy Bithday” itu. L
Aaaarrgghh,, lagi-lagi Maliik.
Ketika
ibu dan teman” ku ramai diruang tamu, aku pamit sebentar masuk ke kamarku, aku
sangat ingin menelphone Malik, ingin mendengar suaranya, ingin berbagi
kebahagiaan dengannya.
Kubuka
Handphone ku, terlihat banyak pesan yang masuk, dari teman” SMA ku yang
mengucapkan Happy milad dan do’a-do’a untukku, juga ada beberapa dari rekan
kerjaku disekolah. Tapi ada satu pesan yang membuatku tak henti tersenyum,
pesan dari Malik, dia masih ingat hari lahirku, senang dan kebahagiaan dalam
rasa yang meyiksa ini terasa sangat indah,
Berulangkali
aku membaca pesannya, sudah selesai, aku kembalikan ke baris awal, dan
membacanya lagi hingga selesai. Lebih dari 3 kali aku membaca pesan yang sama
“Happy
Milad yaa Jeleeek, Moga ditahun ini semua yang kamu cita-citakan tercapai,
semoga tuhan selalu memberkahimu dan memberikan kesehatan untukmu, semoga makin
cantik dan pipinya makin gembul :D kaya anak kucing kamu ituuu,,
Dan
jika kini kamu tengah sakit J aku berdo’a semoga lekas sembuh, jika
belum juga sembuh aku selalu berharap, kamu tetap sabar dan tersenyum”
Malik,
dari dulu kata” nya masih sama, senang memanggilku dengan sebutan “Jelek” dan
membandingkan pipiku dengan anak kucingku yang sudah tak ada itu, kucing gembul
yang pipinya gemuuukk. Tapii sangat senang menerima pesan darinya. Aku segera
menekan tombol call di hp ku, berharap ada suaranya diseberang sana.
Diangkat,
aku jadi deg-degan serba salah.
“assalamu’alaikum,,”
sapanya
Sangat
senang mendengar suaranya, lagi-lagi,, aku senyum-senyum sendiri.
“wa’alaikum
salam” aku segera menjawab……….(Senyap)
“atuh
diem abis jawab salam, kenapa jelek ?? o’ya hbd yah,, do’a” nd ucapannya udh
dkrim ahh taadi jd ga ush d ulang :D hahaha”
“yeee,,
dasar, makasih yah,, kamu ngga mau datang niihh ?? ada tart nii,, hahahha”
“insya
allah bu,, besok datang..”
Gubrak,,
aku kaget,, apa benar ?? dia akan Datang ?? aku berusaha biasa saja dan
melanjutkan percakapan.
“hahahha,,
serius ?? aku tunggu niiihh,, hahah”
“iya
jeleeek,, insya allah,,”
“Zaaaaa,,
zahwaaa ??” ibu memanggilku,
Aduh
aku lupa, diluar teman-temanku sudah menunggu, aku segera menyudahi telpon
dengan Malik, walau sebenarnya masih sangat ingin mendengar suaranya tapi
telpon harus tetap ditutup.
“iya
buuu….” Jawabku.
“seberntar,,”
teriakku lagi,
Aku
segera berjalan keluar, memulai acara, acara yang tidak meriah, namu terasa
istimewa ini sangat terasa sejuk dan menenangkan. Entah kenapa, ketika tuhan
mengizinkanku mengingat Malik, perasaan bahagia itu datang, meski jujur sangat
sesak dan sakiit dengan perasaan ini, cinta belum sampai,, mungkin itu
kalimatnya, atau mungkin memang cinta tak sampai ??
Aku
melanjutkan acaraku, seru’an bersama teman-teman, shoot foto, narsis, exsis,
apa saja kami lakukan, seperti anak SMA yang sedang kumpul bersama
teman-temannya, begitu ramai dan seru, berisik, konyol, dan yang pasti. Indah.
Tidak
jarang Linda dengan sikap konyol dan polos oon nya membuat kami tertawa sampai
sakit perut, konyol, sok ngerti jika ada orang bicara, tapi terusan dengan
wajah polos tidak pintarnya bertanya, bicara apa yah ??
Hahaha,,
Linda…
Suasana
indah memang sangat cepat untuknya berlalu, suasana ramai penuh keceriaan telah
usai. Senyap kembali menyergap, sunyi kembali memasang anak panahnya, bersiap
membunuh jiwa yang sepi.
Mereka,
teman-temanku, berlalu sekitar jam 11 malam, aku segera merapikan sisa-sisa
acara barusan, dan bersiap istirahat untuk liburan besok.
Entah,
malam ini terasa tak bisa memejamkan mata, tidak keruan apa yang dirasakan,
cemas dan takut. bahagia yang barusan terasa lenyap begitu saja.
Aku
diam, membaringkan diri diatas tempat tidur berseperai biru muda bermotif bunga
kebun ini, menatap lngit-langit kamar yang bertabur lipatan bintang origami,
diam dan terus diam. Berkali-kali aku memanjatkan do’a pada tuhan, meminta
ketenangan dan menghapuskan perasaan aneh ini, berkali-kali memejamkan mata berharap
akan segera tertidur nyenyak dan berkali-kali pula mata ini kembali terbuka.
Lagi
dan lagi,, aku sangat merindukannya,, perasaan ini terasa sangat memuncak, ingin,,
bahkan sangat ingin berada disampingnya, hanya sekedar berda disampingnyapun
tak apa, tak bicara tak bersenda guraupun tak apa,, hanya ingin berada
disampingnya dan melirik wajah tenangnya.
Ya
rabb,, sadarkan aku dari perasaan ini…
Aku
membuka hp ku, berharap ada inbox darinya, tapi kosong,, ngga ada,,
Ingin
menghubunginya tapi tertahan jarinya, ingin sekali mengklik send tapi terasa
tidak nyaman,, mungkin ini yang dirasakan para wanita shaleha disana yang
berusaha benar menjaga diri dari perasaan hati yang bergejolak.
Oowhh,,
andaikan bisa menjadi bagian dari mereka “bidadari surga”
Perasaan
malam ini benar-benar ga jelas, sepi, sunyi, sendiri, rindu, takut, sedih,
cemas, semua sudah tak jelas, sudah tak nampak. Aku buka laptopku, entah ingin
apa, masuk browser, diam, ga ada yang dicari, ga ada yang ingin dilihat. Buka
folder foto-foto SMA, berkali-kali membuka fotonya, wajahnya yang tenang terasa
menyejukan, tapi tetap saja tidak bisa mengobati yang aku rasakan ini.
Terus
memutar foto-foto itu, hingga akhir, dan memutar ke awal, berkali-kali menengok
hp, memasang music, dimatikan, dipasang lagi, dimatikan lagi. Aaarrrrgghh,,
keadaan ini terasa sangat menyiksa ya tuhan,,
“Untukmu
disana,
Malik
Amrullah… izinkan aku menuggumu hingga batas waktu, lagi dan lagi, hanya
kalimat itu yang mampu aku ucapkan dan kusampaikan pada tuhan dengan menyebut
namamu, pernah ingin ku akhiri kegiatan menuggu ini, menunggumu menyadari apa
yang selama ini ku rasakan, entah apa pernah ada perasaan ini dalam hatimu ??
memang, sakit, sangat sakit tapi aku terus meyakini diri, kaulah malik, kaulah
yang akan datang dan memintaku menjadi pendampingmu nanti, entah kenapa
keyakinann ini begitu dlam dan kuat, meski kusadar selama ini kau mungkin sama
sekali tak pernah merasakan sedikitpun getaran hati ini, meski kusadar selama
ini kau tak pernah menyadari arti tatapan mataku ketika melihatmu, meski selama
ini kau tak pernah melihat dan menilai perhatianku padamu yang bagiku terasa
berbeda. Saat ini salahkan jika aku terus mengharapkan masa indah itu ?
bagaimana caraku memberitahumu ? aku sangat ingin kau tau, apa yang selama ini
aku lakukan untukmu, apa yang selama ini aku rasakan padamu, dan apa juga yang
selama ini aku sembunyikan darimu, sangat ingin kau tau, semua tentang hati dan
cinta ini,, semuanya,, semua keluh kesahku memikirkanmu, semua penantianku,,
bagaimana caranya ??
Dalam
hatiku,, sangat ingin meneriakan kata “Sayang” padamu, tapi aku sadar, aku
siapa dan dimana posisimu, aku sadar itu semua, aku sadar, aku sadar.
Tapi
kesadaran itu belum juga mampu mennyadarkanku dari perasaan ini, belum mampu
menyadarkanku bahwa kau tak pernah merasakan apa yang ada dihatiku kini,,
Ya
rabb beri aku kekuatan”
Airmata
ini terasa jatuh perlahan, rasa sesak ini makin terasa, teringat kembali
tentang Sandra, bagaimanapun aku seorang perempuan yang punya rasa cemburu,
bagaimanapun aku seorang perempuan yang pasti merasa sakit jika melihat orang
yang disayang bersama orang lain,
Ditengah
dinginnya malam,, ada rasa yang sangat tak nyaman menghampiriku, ya rabb kenapa
harus terasa lagi ?? sakit kepala yang sangat menusuk, penyakit ini kembali
memberontak, sangat tidak nyaman dalam keadaan ini, aku menahan rasa sakitku
sekuat tenaga, terus diam dan menahan rasa sakit ini. Aku terus memegang
kepalaku erat untuk sedikit mengurangi rasa sakit itu. Terkadang merasa lelah
dengan keadaan ini, keadaan dimana aku sakit, dimana aku tak sehat, dimana aku
berada dalam keadaan yang jauh dari keadaan baik” saja.
Aku
segera mengambil obat yang selalu siap sedia disamping tempat tidurku,
menelannya satu persatu. Ketika sakit itu mulai dikendalikan oleh obat,, Aku
diam, duduk menyendiri di diatas tempat tidurku, kuambil buku tulisku, mulai
menulis, satu huruf, satu kata, satu kalimat. Dengan senyuman dan airmata yang
terus mengalir aku terus mengayunkan penaku diatas kertas berwarna bru muda
itu.
“Ya
rabb,, bolehkah aku mengintip sedikit saja apa yang akan terjadi padaku satu
menit kedepan ?? bolehkah aku mengetahui
apa yang akan kau lakukan padaku dihidupku ini ??
Ya
rabb, boleh kah ?? aku memintamu menyembuhkan penyakit ini dari tubuhku, J
aku tau, semua yang telah Kau gariskan untukku, itulah yang terbaik untukku dan
hidupku. Ya rabb,, terimakasih, atas semua pencapaian yang telah Kau izinkan
aku meraihnya, terimakasih atas semua nikmat sehat yang masih kau berikan
padaku hingga saat ini, terimakasih atas izinMu untuk nafas yang masih bisa
terus terhembus ini, terimakasih atas semua anugerahmu telah menghadirkan waktu
yang begitu sempurna untuk makhlukmu yang sangat tidak tau diri ini. Makhluk
yang tak bersyukur atas semua yang Kau berikan untuknya”.
“dihariku
yang ke 21 tahun ini, satu harapanku ya allah, tetap dalam iman dan islam ini.
Bahagia dalam naungan ridho_Mu, aku tau mungkin sangat tak pantas hamba yang
penuh dengan noda ini mengharapkan bahagia dari_mu, hamba yang penuh kesalahan
dan lalai akan perintah_Mu ini meminta ridho_Mu. Tapi aku juga sadar Kau lah
tuhan maha segalanya, kaulah ya rabb, yang menguasai semua yang ada dihidupku
ini.
Ya
rabb,, izinkan aku bahagia ya allah, izinkan aku mendapat kebahagiaan itu, jaga
cinta ini agar tetap dihatiku ya allah, jika bukan dia ya rabb, beri hamba
keikhlasan akan semua penantian ini, jadikan ini semua nilai ibadah untuk hamba
memperbaiki diri.. kabulkan ya rabb”
***
Dalam
keadaan setengah sadarku dalam tidur, aku mendengar suara hujan mulai turun,
rintik-rintik dan kelamaan menjadi lebat mengguyur bumi. Jam 2.46 menit pagi
aku terbangun dari tidur tanpa mimpi itu. Entah kenapa, ketika hujan suasana
diri terasa begitu hidup, aku rasa kalianpun pernah merasakannya, ketika hujan,
semua harapan kita, cita-cita kita yang hendak digapai terasa terlihat didepan
mata, kenangan-kenangan indah yang pernah kita alami terasa hadir kembail, juga
dengan kenangan-kenangan kesedihan, kesakitan dan tangisan yang pernah hadir
dalam hidup kita kembali teringat bermunculan ketika suasana dingin hujan
memeluk bumi. Semua kebahagiaan, kesedihan, juga penyesalan atas waktu yang
pernah kita sia-siakan semua kembali terlintas dan terlihat sangat jelas didepan
mata. Saat ini hatiku terasa kosong. Aku terus diam dalam keadaan terjaga tanpa
makna, diam dan terus diam merasakan dinginnya malam yang berselimut guyuran
air langit ini. Diam dan terus diam, mengingat semua yang pernah terjadi dan ku
alami. Bukan bentuk penyesalan atau ketidakikhlasan, namun hanya mengingat
semua kenangan dan kisah yang pernah hadir dlam hidupku.
Kisah
dimana aku tertawa, ketika aku menangis, dimana aku bahagia juga ketika aku
sedih.
Semua
cita-cita dan jalan hidup yang penuh warna.
Air
langit masih mengguyur bumi dengan derasnya,, suasana dinginpun masih
menggelayut manja pada tubuh yang kesakitan ini.
Hatiku
terasa sangat tenang dan damai meski sakit menyiksa, meski dingin menusuk. Aku
menyunggingkan senyum sambil terus menatap langit” kamarku, ingat perkataan
malik tadi malam, “besok kita bertemu” itu maknanya. Rasa bahagia menyelusup
perlahan dalam kalbuku, tak sabar menuggu waktu itu, wktu dimana “kita
bertemu”. Suara malik berulang” dan terus berputar dalam fikiranku, perasaan
senang itu terasa makin memuncak. Rasa sendiri itu memang aneh, satu detik lalu
masih menangis dan sekarang bisa tersenyum gembira, tuhan maha dahsyat yang
menjadikan makhluknya dengan perasaan seperti ini. Saat ini aku sangat yakin,
esok pasti aku akan bahagia, setelahnya tidak akan ada lagi kesedihan,
setelahnya tidak akan ada lagi kesendirian. Dan setelahnya hanya akan ada
senyuman dan kebahagiaan.
***
Aku
bangun dari tidurku, melaksanakan shubuh
sebagai kewajibanku.
Kurapikan
tempat tidur dan kamarku, serapi-rapinya, ku bersihkan kamar mandiku,
sebersih-bersihnya, kusapu dan kupel rumah ku hingga tak sedikitpun tampak ada
yang berantakan, perasaan pagi ini begitu bahagia, begitu menyenangkan dan
begitu penuh senyum.
Ibu
heran melihatku begitu ceria dan aktif. Tapi satu yang beliau selalu ucapkan
padaku setiap waktu “jangan lupa obatnya”, itu yang terus beliau ucapkan padaku
meski keadaanku terlihat baik” saja, bahkan sangat baik tanpa ada rasa sakit.
Jam
9 pagi, kutunggu kabar malik yang katanya ingin datang menemuiku, tidak ada
telpon, sms, ataupun pesan darinya. Aku ingin menghubunginya, tapi ku urungkan,
kubiaran diri ini menuggu, kubiarkan diri ini penuh rasa penasaran, agar nanti
pasti rasa bahagianya akan terasa sangat.
Aku
mandi jam 10 pagi, dan memakai pakaian yang tidak terlalu mencolok namun tetap rapi.
Ibu belum tau tentang ini dan rasanya sedikit takut membertahu ibu akan hal
ini, meski hati ini sangat ingin ibu tau.
Adzan
dzuhur berkumandang dari mesjid dekat rumahku, masih dan masih, malik tak
member kabar apapun, aku mulai cemas dan ragu, aku mulai sedih dan kecewa. Aku
terus berusaha tetap tegar dan menunggunya.
Hingga
ashar, dan maghribpun datang menutup siang. Keyakinanku akan bertemu dengannya
terasa memudar, makin pudar dan hampir hilang ketika isyapun menyusul untuk
menghiasi malam.
Kekecewaan
terasa makin pekat dalam diriku, hatiku sakit. Terasa seperti manusia yang
menunggu namun yang ditunggu tak tau aku tengah menunggunya.
Malik,
ya tuhan,, kenapa jadi seperti ini ? mana bukti dari bayang keindahan dan
kebahagiaan yang semalam kau tampakkan dihadapanku…
Berkali-kali
aku menarik nafas panjang dan menghentakannya. Ingin menghubunginya namun
lagi-lagi, ku urungkan.
Aku
tak sanggup jika nanti diseberang sana terdengar jawaban
“maaf
za, ngga jadi deh kayanya, aku ada keperluan” atau
“maaf
za, aku belum sempat memberitahumu, aku belum bisa datang hari ini” atau
“zaaa,,
maaf yah,, ngga jadi,, ada keperluan mendadak” atau
Operator
yang menjawab
“maaf
nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif”
Satu
pelajaran lagi, jangan berharap pada makhluk. Jangan membayangkan kebahagiaan
yang tak pasti.
Ingin
berteriak “aku Hanya butuh kepastian.”
Dan
lagi,, perasaan ini membuatku menjatuhakan air mata. Perlahan menetes menahan
sesak, terus mengalir mengiringi kekecewaan, sakit.. rasanya tuh sakit, seperti
tak pernah dianggap ada, dia lupa,, dia punya janji pada ku,, dia punya ucapan
yang harusnya dia penuhi,, tapi sekarang ??
Dia
kemana ??
Ku
melihat kearah jam dinding rumahku, sudah jam 8 malam, aku semakin yakin dia ta
akan datang dan menemuiku, ya.. tak akan,, sampai jam berapapun aku menunggunya
aku yakin dia pasti ta datang.
Kecewa,
marah, kesal.. yaaa aku merasakan semuanya,, kamu tau ?? sakit berada dalam
posisi seperti ini.
Aku
berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit ini, cukup diam,, ya hanya dengan
diam kurasa semua akan lebiih tenang (terlalu sering teriakan hanya didengar,
tapi tak dianggap).
Ya
tuhan, apa salah aku ?? mungkin terlalu banyak dosa yang hamba perbuat L
hingga semua kisah hati ini terasa sangat kejam.
Saat
ini aku hanya berharap penyakit itu tidak memberontak dan sudah tidak ada lagi
rasa berharap akan kedatangannya. Harapan itu menyisakan sakit dan air mata,
lelah..
Aku
diam dikamar, duduk tenang diatas ranjang, diam dan terus diam, sesekali hanya
menghapus airmata yang terus mengalir. Rasa sakitnya masih sangat terasa.
Tapi
entah kenapa, malam ini aku tidak diam sepenuhnya, aku ingin tau apa alasannya
memperlakukanku sperti ini, memberikan harapan, membuatku menunggu dan lalu
menghilang ??
Aku
menelponnya, tidak diangkat. Aku inbox tidak dijawab. Hm,, sudah kuduga, yang
aku lakukan hanya akan menambah rasa kecewa dan sakitku.
Sudah..
sudah.. ingat zahwaaa,, dia siapa ?? punya hak apa kau atas dia ?? sudah,,
lupakan, jangan terus seperti ini,,
Jam
setengah Sembilan malam, aku berjalan kearah jendela kamarku, kubuka dan
menghirup angin malam yang dingin, hanya memastikan diluarsana tidak ada orang
yang menungguku (padahal mahh ngarep ada dia diluar).
Kutarik
nafas panjang, dan mengukirkan sedikit senyum untuk menenangkan diri dari
amarah dan kecewa ini.
Rasanya
ingin pergi. Ingin pergi, datang dan menemuinya, ingin pergi menghampirinya
ditempat dia berada sekarang, meski entah dimana tempat itu. Aku sangat
merindukannya ya tuhan, aku ingin bertemu dengannya.
Kembali
pada kehidupan nyata,, kenyataan itu tak seindah mimpi. Rindu hanya tinggal
rindu,, harap hanya tinggal harap, tak ada daya, tak ada asa,, untuk menggapai
rindu dan harap itu.
***
Liburan
panjang datang, juli..
Aku
meminta izin pada ibu untuk pergi beberapa saat, aku memutuskan untuk berlibur
ke pantai. Aku menyewa sebuah villa untuk kusinggahi beberapa hari kedepan
diwilayah sukabumi.
Sangat
bodoh memang, liburan ini hanya kugunakan untuk merindukan dan mengharapkan
seseorang datang, mungkin ini yang dinamakan kesepian, tanpanya, dan tanpa
tuhan.
Terasa
benar benar sendiri. Tiap malam aku mendatangi pantai indah yang telah sepi,
menyerahkan tubuh berbadan kurus ini pada dinginnya malam, pada jahatnya angin
kencang dipinggir lautan yang terbentang. Hanya duduk menatap langit yang gelap
dan kelam.
“tuhan,,
kenapa namanya selalu ada disini ?? kenapa ?? kapan ia benar” pergi dari
hidupku ?? aku lelah,, aku lelah dengan semua harapan dan penantian ini ya
tuhan…”
Air
mata yang terus mengalir ini sudah tak terasa alirannya, mata pun sudah
terbiasa dengannya.
Aku
terus diam memandang ombak malam yang saling berkejaran, sendiri, tanpa teman
bicara. Orang orang disekelilingku sibuk dengan urusan mereka masing-masing
=> para nelayan yang mengayuh kapal mereka<=
Rasa
sakit itu terus datang, kepalaku terasa terbentur hingga remuk. Kutundukkan
kepalaku, kupejamkan mataku, seiring dengan waktu sakit itupun mulai terbiasa
bagiku, meski menyiksa.
Ponselku
bergetar, kulihat Rizky menelponku,, ku diamkan, tak ku angkat. Berkali kali
bergetar dan berkali kali ku tak acuh.
Jam
2 pagi, angin malam ini terasa semakin menusuk.
Ponselku
kembali bergetar, kali ini malik. Masih ku acuhkan, sejak kejadian itu, tak
pernah lagi aku menghubunginya, maupun sebaliknya. Rasanya hati ini sudah
sangat sakit atas semua perlakuannya akan cinta dan perasaanku.
Berkali
kali tak kuangkat, malik mengirimkan pesan padaku
“tolong
angkat, aku akan jelaskan semuanya kenapa dan apa yang terjadi hari itu, hari
dimana aku mempunyai janji padamu, janji yang hingga saat ini belum kupenuhi,
tolong angkat, untuk kali ini tolong dengarkan aku…”
Dia
kembali menelponku, aku angkat dengan diam tanpa suara, rasa sakit itu
membungkam mulutku untuk bicara, air mata itu memaksaku untuk diam dan
terus diam.
“zahwa…
maafkan aku,, aku sangat menyesal dengan janji yang belum kupenuhi hari itu..”
(entah
kenapa aku merasa suara itu sangat dekat dan jelas terdengar,namun aku hanya diam
tanpa memberikan sepatah katapun)
“hari
itu, tgl 20 Mei, aku sudah rapi untuk datang menemuimu, tapi tiba-tiba ada
sesuatu yang tak ku inginkan terjadi…
(penjelasan
malik membuatku semakin tak bisa menahan tangis, air mata ini makin deras
mengalir)
“ibuku
pergi untuk selamanya zaa hari itu, aku tak mungkin meninggalkan ibu disaat
terakhir aku bisa melihat wajahnya,, tolong mngerti zaa, aku minta maaf,..”
Penjelasannya
membuatku semakin sesak dan rasanya ingin segera berteriak,,
“zaa,,
zaahwa…” ucapnya lirih dibalik telpon
Aku
berusaha bicara dengan keadaan yang sangat menyiksa ini
“kenapaaa
??? kenapa kamu tidak beri aku kabar ?? kenapa ? knapa kamu buat aku
menunggumu, buat aku sangat berharap akan kedatanganmu, kenapa kamu sangat
jahat padaku ?? kamu tau ?? lima tahun aku menunggu saat untuk bersamamu, sudah
selama itu aku menunggumu walau hanya ingin menghabiskan satu hari denganmu,, waktu selama itu hanya kugunakan untuk
merasakan sakitnya perasaan ini, kamu tau apa rasanya ?? sakit,, sangat sakit,,
aku tersiksa dengan perasaan ini, kenapa harus padamu kurasakan cinta ini,
kenapa harus kamuu ???”
Aku
tak sanggup lagi menahan ucapanku, terasa meledak.
Tiba-tiba
ada sosok yang memelukku dari belakang, dia memelukku sangat erat.
“maafkan
aku,, maafkan aku” aku sangat mengenal suara itu, suara itu, suaranya.
Malik
?? aku sangat tidak menyangka dia berada disini. Aku refleks melepaskan pelukan
itu, berdiri dan berbalik arah. Kudapati sosoknya, sosok yang selama ini sangat
ingin kutemui, sosok yang sangat ingin kulihat, dia ada disini, dia ada disini.
“malik
?? kamu malik ?? ucapku sambil menyentuh wajahnya,
Matanya
terus menatapku, Ia menggenggam jemariku, sangat keras genggamannya, terasa ada
penyesalan mendalam di jemarinya.
“zahwa,,
maafkan aku,, maafkan aku…”
Aku
hanya bisa mengeluarkan air mata, tak mampu lagi mengatakan apapun Malik
kembali memelukku, aku membalas pelukannya, kupeluk tubuhnya sangat erat, entah
apa yang kurasakan, sangat ingin ini semua tak kan berakhir.
Kupejamkan
mataku dalam peluknya, menahan kepalaku yang terasa dihempas bebatuan besar,
tubuhku lemas, perlahan tanganku pun tak mampu memeluknya, lemas dan terasa tak
ada daya, kakiku terasa lumpuh, aku ambruk dalam pelukannya.
“kamu
kenapa ?? zahwa ??”
Ia
segera mendudukkanku, dan duduk disampingku, aku hanya menunduk dan diam membiarkan sakit ini memberontak. Ia
kembali menggenggam tangan kiriku yang sudah memucat menahan sakit. Aku
menyandarkan tubuhku padanya, sesekali ia mengusap kepalaku dan menciumi
jemariku,, kata maaf itu terus keluar dari bibirnya.
Perlahan
aku membuka mata, menegakkan duduk yang tadi kusandarkan. Kulawan rasa sakit
itu.
Aku
menatap kosong ke laut dengan senyum.
“makasih…
udah datang menemuiku..” ucapku lirih
Kulihat
kearah wajah malik yang merah karna rasa bersalah, ia menatapku sangat tajam.
Jemarinya mengusap wajahku dengan sangat lembut
“maafkan
aku…”
Aku
menggenggam tangannya, tak ingin melepasnya, kugenggam sangat erat.
“jangan
pernah pergi dariku” aku menatapnya tajam.
Ia
tersenyum, ya tuhan.. terasa seperti mimpi, melihatnya tersenyum dengan jarak
sedekat ini, sangat dekat. Perasaan bahagia menelusup perlahan dalam hatiku.
Tangannya
menarik hidungku,
sambil terus tersenyum,,
“hmmm,,
jadi ada yang tersiksaaa yaaa selama iniii,,” hmmm,, mulai meledekku dia,
Aku
segera melepaskan genggaman tanganku darinya, membuang pandanganku kelautan
yang gelap.
Wajahku
Terasa memerah
“iyaa
laahh tersiksa,,, kamu jahat sama aku,,” jawabku judes
“he
he,, maafin aku yaahh,, sama sekali tak bermaksud menyiksamu dengan cinta itu,
itu rasa yang tuhan turunkan padamu”
Ia
merangkulku, (ya tuhan,, semua ini baru kali ini kurasakan). Akupun
menyandarkan kepalaku dibahunya. Sangat nyaman berada disampingnya. Tenang dan
penuh kehangatan.
Seketika
teringat semua kenangan hidup yang telah ku lalui, masa ketika aku duduk
dibangku sekolah dasar, SMP, hingga SMA, prestasi-prestasi, kegiatan yang full,
lapangan perlombaan dan latihan pramuka dan paskibra, piagam-piagam, trophy
trophy, hingga aku bekerja, memasuki perguruan tinggi, kepergian ayah,
penampilan salju dimusim semi, rizky, linda, seluruh teman satu perusahaan dan
satu perjuangan, sampai akhirnya semua harus kulepas karna nikmat tuhan yang
begitu tinggi diturunkan untukku. Ibu, Reza.. aku sayang kalian, maafkan aku
jika selama ini belum mampu membuat kalian bahagia, belum mampu mengukir senyum
kalian, terimakasih ya tuhan..
(Astaghfirullah
Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah
Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah).
Entah, Perlahan semua menjadi gelap, benar
benar gelap, aku tak bisa melihat apapun, hanya terasa ada cairan yang mengalir
menusuk dari hidung dan telingaku. Entah apa yang terjadi, hanya itu yang
kurasakan, gelap, gelap. Dan hanya gelap yang dapat kulihat.
***
Zahwa
kini telah tiada,, sadarkah kawan ?? bagaimana keadaan zahwa ketika ia pergi ??
sangat miris bukan ?? islam, muslimah yang selama ini ia jaga dengan begitu
kuat, hancur dan rusak sesaat sebelum ia pergi untuk selamanya (na’uzdubillah).
Dialog dan adegan seperti itu mungkin memang so sweet, indah, bahkan memberikan
rasa bahagia pada mereka yang melakukan dan merasakannya,, tapi apakah iman
masih menyadarkan kalian ?? zahwa bahkan tak sempat menyadari dosa besar yang
tengah ia lakukan.
“ayah,,
J
aku sakit,
Kata
dokter, aku mengidap penyakit yang pernah ayah rasakan, penyakit yang ayah
derita bahkan hingga hembusan nafas terakhir ayah, J
aku ngga sedih ataupun takut, karna aku tau ayah juga pasti tidak pernah
menyesali takdir tuhan yang telah digariskan untukmu, yang kini juga digariskan
untukku.
Karna
aku tau ayahku adalah ayah yang sangat luar biasa, dan aku juga akan menjadi
putri ayah yang luar biasa, yang akan terus tersenyum meski keadaan memaksa
kita untuk menangis.
Tapi
ayah… aku bingung, bagaimana caraku bicara pda ibu tentang ini semua ya ? ibu
pasti sedih, dan ibu pasti akan menangis, aku ngga mau ibu menangis yah,
menurut ayah bagaimana ??
Ayah… tunggu aku di jannah yang kini kau tempati ya,, aku akan menyusulmu J”
Ingat
kalimat Azwa itu ?? kalimat yang ia ucapkan untuk ayah ketika ia divonis
menderita penyakit yang mematikan. Tapi apakah dengan keadaan yang sekarang,,
dengan keadaan ia yang telah merusak dirinya sendiri itu ?? apakah iya ?? ia
akan menemui ayah di jannah nya Tuhan ??
*Miris
dan sangat DISAYANGKAN… #Ketika wanita telah tersentuh
Cinta
membuatnya melupakan tuhan, cinta yang berlebihan itu membuat setan tertawa
riang, iblis telah berhasil menguasainya, namun apakah zahwa sadar ?? cintanya
yang ia jaga selama ini tersebut tak terbalas ?? tetap menjadi cinta yang
berdiri seorang diri.
begitu
pula dengan Malik, hanya rasa bersalah yang ia miliki, bukan cinta ataupun
sebagainya, namun ia juga telah dikalahkan oleh iblis, mereka KALAH.
Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raa ji’uun.
Komentar
Posting Komentar